Bolehkah Muslimah Memakai Jaket di Luar Rumah

Pakaian adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala. Allah jadikan manusia memiliki pakaian-pakaian yang memberikan banyak maslahah untuk manusia. Allah Ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan” (QS. Al A’raf: 32).

Dan semua yang Allah ciptakan di bumi ini adalah untuk kemaslahatan manusia. Maka hukum asal masalah pakaian adalah mubah. Islam tidak membatasi jenis pakaian tertentu yang boleh dipakai, atau warna tertentu, atau model tertentu. Hukum asal semua pakaian adalah mubah, selama tidak mengandung perkara yang dilarang syariat. Allah Ta’ala berfirman

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat” (QS. Al A’raf: 32).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

“Makanlah (makanan yang halal) dan bersedekahlah, serta pakailah pakaian (yang halal) tanpa berlebih-lebihan dan tanpa bersombong diri” (HR. An Nasa-i no.2559, dihasankan Al Albani dalam Shahih An Nasa-i).

Perhatikan dalil-dalil di atas, Allah dan Rasul-Nya menghalalkan pakaian secara umum. Dari sini para ulama menarik sebuah kaidah fiqih:

الأصل في العبادات الحظر، و في العادات الإباحة

“Hukum asal ibadah adalah terlarang, sedangkan hukum asal adah (muamalah) adalah boleh”.

‘Adah adalah semua perkara non-ibadah, misalnya makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, alat-alat, dan lainnya. Semuanya halal dan boleh selama tidak diketahui ada dalil yang mengharamkannya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi menjelaskan: Semua perkara adah baik berupa makanan, minuman, pakaian, kegiatan-kegiatan non-ibadah, muamalah, pekerjaan, hukum asalnya mubah dan halal. Orang yang mengharam perkara ‘adah, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak mengharamkan, ia adalah mubtadi (Qawaid Wal Ushul Al Jamiah, hal.74).

Maka perkara ‘adah, termasuk pakaian ataupun makanan, bisa berubah menjadi haram jika mengandung hal-hal yang diharamkan syariat.

Hukum Memakai Jaket Bagi Wanita
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah ketika ditanya mengenai hukum wanita memakai jaket di luar jilbabnya, beliau menjelaskan: “Yang penting, wanita wajib menutup dirinya dengan pakaian yang sempurna ketika keluar rumah, dengan menggunakan jenis pakaian apa saja yang bisa menutup dengan sempurna. Adapun hukum jenis pakaian secara spesifik, maka ini tergantung keadaannya dan kebutuhannya. Hukum asal jenis-jenis pakaian wanita tidaklah terlarang kecuali yang menyerupai lelaki. Tidak boleh menggunakan pakaian khas lelaki. Hendaknya hanya menggunakan pakaian-pakaian khas wanita. Dalam hadits disebutkan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhari no. 5435).

Maka tidak boleh menyerupai lawan jenis. Laki-laki punya pakaian khas laki-laki dan wanita juga punya pakaian khas wanita” (Sumber: https://www.alfawzan.af.org.sa/en/node/3648).

Demikian juga, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta‘ ketika ditanya hukum memakai jaket bagi wanita, maka jawaban beliau adalah sebagai berikut:

الأصل في أنواع اللباس الإباحة؛ لأنه من أمور العادات، قال تعالى: سورة الأعراف الآية 32 قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ويستثنى من ذلك ما دل الدليل الشرعي على تحريمه أو كراهته كالحرير للرجال، والذي يصف العورة؛ لكونه شفافا يرى من ورائه لون الجلد أو لكونه ضيقا يحدد العورة ، لأنه حينئذ في حكم كشفها وكشفها لا يجوز، وكالملابس التي هي من سيما الكفار الخاصة بهم، فلا يجوز لبسها لا للرجال ولا للنساء

“Hukum asal jenis-jenis pakaian itu mubah. Karena masalah pakaian adalah perkara adat (non-ibadah). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. Al A’raf: 32). Namun dikecualikan dari itu semua, beberapa pakaian yang terdapat dalil yang menunjukkan bahwa hukumnya haram atau makruh. Seperti memakai kain sutra untuk lelaki, atau memakai pakaian yang memperlihatkan aurat, baik karena transparan sehingga terlihat warna kulitnya, atau karena sempit sehingga membentuk lekukan tubuh. Karena ketika itu berarti sama dengan membuka aurat, dan membuka aurat itu tidak diperbolehkan. Demikian juga pakaian yang menjadi ciri khas orang-orang kafir, maka tidak boleh digunakan oleh lelaki dan wanita” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 24/41).

Maka dari penjelasan para ulama di atas, hukum asal jaket bagi wanita adalah mubah, namun dengan syarat tidak mengandung perkara-perkara yang dilarang syariat.

Syarat-Syarat Jaket Yang Boleh Dipakai
Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa hukum asal jaket bagi wanita adalah mubah, selama tidak mengandung perkara-perkara yang dilarang syariat. Maka wanita yang ingin memakai jaket maka perlu memperhatikan syarat-syarat berikut

1. Tidak memperlihatkan lekukan-lekukan tubuh
Jaket yang dipakai tidak boleh membuat wanita terlihat lekukan-lekukan tubuhnya. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan ketika menjelaskan kriteria pakaian yang syar’i bagi wanita beliau mengatakan:

ألا بكون ضيقا يبين حجم أعضائها، ففي [صحيح مسلم] عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «صنفان من أهل النار لم أرهما: قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس، ونساء كاسيات عاريات، مائلات مميلات، رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة، لا يدخلن الجنة، ولا يجدن ريحها، وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا» ، قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في [مجموع الفتاوى] (22:146) : وقد فسر قوله صلى الله عليه وسلم: كاسيات عاريات بأن تكتسي ما لا يسترها، فهي كاسية وهي في الحقيقة عارية، مثل من تكتسي الثوب الرقيق الذي يصف بشرتها، أو الثوب الضيق الذي يبدي تقاطيع خلقها، مثل عجيزتها وساعدها ونحو ذلك، وإنما كسوة المرأة ما يسترها، فلا يبدي جسمها، ولا حجم أعضائها؛ لكونه كثيفا واسعا

“Pakaian Muslimah tidak boleh sempit sehingga memperlihatkan lekukan-lekukan tubuhnya. Karena dalam hadits Muslim Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ada dua golongan penduduk neraka yang aku belum pernah melihat mereka sebelumnya: Pertama, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka menggunakannya untuk mencambuk orang-orang. Kedua, wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk unta. Mereka tidak masuk surga, dan tidak mencium wanginya, padahal wangi surga tercium dari jarak sekian dan sekian (HR. Muslim no. 2128).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu Al Fatawa (22/146) menjelaskan hadits ini, beliau berkata: “Para ulama menafsirkan sabda Nabi [wanita yang berpakaian tapi telanjang] maksudnya adalah wanita yang memakai pakaian yang tidak menutup aurat dengan sempurna. Karena ia berpakaian namun hakikatnya telanjang. Demikian juga wanita yang memakai pakaian tipis, yang masih memperlihatkan warna kulitnya. Atau juga yang memakai pakaian sempit, yang memperlihatkan lekukan-lekukan tubuhnya, seperti bentuk bokongnya, bentuk lengannya atau semisalnya. Pakaian wanita yang syar’i itu adalah yang menutupinya dengan sempurna, tidak memperlihatkan tubuhnya, tidak juga memperlihatkan bentuk lekukan-lekukan tubuhnya. Ia haruslah tebal dan lebar” (sampai di sini perkataan Ibnu Taimiyah)” (Tanbihaat ala Ahkaam Takhtashu bil Muminaat, hal 39-40).

Dalam Jilbab Marah Muslimah (1/131), Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata:

الشرط الرابع: “أن يكون فضفاضًا غير ضيق فيصف شيئًا من جسمها”
لأن الغرض من الثوب إنما هو رفع الفتنة ولا يحصل ذلك إلا بالفضفاض الواسع وأما الضيق فإنه وإن ستر لون البشرة فإنه يصف حجم جسمها أو بعضه ويصوره في أعين الرجال وفي ذلك من الفساد والدعوة إليه ما لا يخفى فوجب أن يكون واسعًا وقد قال أسامة بن زيد:
“كساني رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قبطية كثيفة مما أهداها له دحية الكلبي فكسوتها امرأتي فقال: ما لك لم تلبس القبطية؟ قلت: كسوتها امرأتي فقال: “مرها فلتجعل تحتها غلالة، فإني أخاف أن تصف حجم عظامها

“Syarat keempat: pakaian muslimah itu hendaknya longgar dan tidak ketat sehingga menggambarkan bagian tubuhnya. Karena tujuan memakai pakaian adalah mencegah terjadinya fitnah (hal-hal yang buruk pent). Tujuan tersebut tidak akan tercapai kecuali jika pakaiannya longgar dan lebar. Sedangkan jika ketat, walaupun menutup warna kulit, itu dapat menggambarkan bentuk seluruh atau sebagian tubuhnya, sehingga bentuk tubuhnya tersebut tergambar di mata para lelaki. Ini adalah salah satu bentuk kerusakan dan seolah mengundang orang-orang untuk melihat bentuk tubuhnya yang tidak ia tutupi dengan benar itu. Oleh karena itu, pakaian wanita itu wajib longgar. Usamah bin Zaid pernah berkata:

كساني رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قبطية كثيفة كانت مما أهدى له دِحْيَةُ الكلبي فكسوتها امرأتي، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : مالك لا تلبس القبطية؟ فقلت: يا رسول الله! كسوتها امرأتي، فقال: مرها أن تجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظامها

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menanyakanku: Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?. Kujawab: Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah. Beliau berkata: Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya (HR. Dhiya Al Maqdisi dalam Al Mukhtar 1/441, dihasankan oleh Al Albani). [selesai kutipan].

Maka tidak boleh wanita memakai jaket yang bisa memperlihatkan lekukan-lekukan tubuhnya di luar rumah, seperti lekukan badannya, lekukan lengannya, lekukan pinggulnya, lekukan dadanya, dan semisalnya. Jika ingin memakai jaket hendaknya gunakan jaket yang sangat lebar dan tebal sehingga tidak memperlihatkan lekukan-lekukan tubuhnya. Atau gunakan jaket di dalam jilbab, sehingga tujuan memakai jaket tercapai (yaitu untuk kehangatan) namun juga tidak memperlihatkan lekukan-lekukan tubuh.

2. Tidak menyerupai pakaian lelaki
Jaket yang dipakai tidak boleh yang menyerupai jaket yang khas bagi lelaki, namun hendaknya jaket yang khas untuk wanita. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5435).

Dalam riwayat lain di Shahih Al Bukhari juga:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَقَالَ أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang kebanci-bancian dan para wanita yang kelaki-lakian Dan Nabi juga bersabda: keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian! (HR. Bukhari no. 5436).

Sebagaimana juga dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di atas.

3. Memenuhi kriteria umum pakaian syar’i bagi Muslimah
Dua kriteria di atas yang sering disebutkan para ulama ketika membahas hukum jaket. Namun juga tentunya jaket bagi wanita sebagaimana pakaian-pakaian yang lain, hendaknya memenuhi kriteria-kriteria pakaian syar’i secara umum. Kriteria busana Muslimah yang syar’i adalah sebagai berikut:

1- استيعاب جميع البدن إلا ما استثني. -2- أن لا يكون زينة في نفسه. 3- أن يكون صفيقاً لا يشف. 4- أن يكون فضفاضاً غيرضيق فيصف شيئاً من جسمه. 5- أن لا يكون مبخراً مطيباً. 6- أن لا يشبه لباس الرجل. 7- أن لا يشبه لباس الكافرات. 8- أن لا يكون لباس شهرة

“(1) Menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi (2) Tidak berfungsi sebagai perhiasan (3) Kainnya tebal tidak tipis (4) Lebar tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh (5) Tidak diberi pewangi atau parfum (6) Tidak menyerupai pakaian lelaki (7) Tidak menyerupai pakaian wanita kafir (8) Bukan merupakan libas syuhrah (pakaian yang menarik perhatian orang-orang) (Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Lil Imam Al Albani, 394).

Demikian pemaparan singkat ini, semoga bermafaat. Semoga kaum Muslimah diberi hidayah oleh Allah untuk terus istiqamah menggunakan hijab yang syar’i yang diridhai oleh Allah Ta’ala.

Wabillahi at taufiq was sadaad.

Doa Untuk Ketetapan Hati

Doa Untuk Ketetapan Hati

Komik Islami Lainnnya:

– Hindari Berkata Kotor
– Perang Melawan Hawa Nafsu
– Jangan Mencari Keburukan Orang
– Komik Islami Tentang Cinta
– Jomblo Halu Kepengen Punya Istri

– Komik Islami Pakai Yang Kanan
– Komik Islami Simple
– Jangan Benci Muslimah Bercadar
– Waspada 3 Pintu Menuju Neraka
– Kalau Sholat Jangan Lari Larian

– Perlunya Kerjasama Dalam Rumah Tangga
– Baju Koko Vs Jersey – Komik Islami
– Dunia Hanya Sementara
– Komik Islami Bahasa Inggris
– Komik Islami Tarawih Surat Pendek

– Kisah Pendek Khutbah Jum’at
– Menunggu Punahnya Corona
– Komik Pendek Islami
– Jangan Pernah Menunda Ibadah
– Komik Islami Hitam Putih

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Sabar Itu Berat

Komik Islami – Sabar Itu Berat



Komik Islami Lainnnya:

– Komik Pahlawan Islam Anas bin Nadhar
– Komik Mantan Napi Berulah Lagi
– Bantuan Dari Allah Saat Kesulitan
– 3 Hal Yang Dilakukan Saat Bangun Untuk Sahur
– Kenapa Dia Begitu Cinta Al-Qur’an

– Hindari Berkata Kotor
– Perang Melawan Hawa Nafsu
– Jangan Mencari Keburukan Orang
– Komik Islami Tentang Cinta
– Jomblo Halu Kepengen Punya Istri

– Komik Islami Pakai Yang Kanan
– Komik Islami Simple
– Jangan Benci Muslimah Bercadar
– Waspada 3 Pintu Menuju Neraka
– Kalau Sholat Jangan Lari Larian

– Perlunya Kerjasama Dalam Rumah Tangga
– Baju Koko Vs Jersey – Komik Islami
– Dunia Hanya Sementara
– Komik Islami Bahasa Inggris
– Komik Islami Tarawih Surat Pendek

– Kisah Pendek Khutbah Jum’at
– Menunggu Punahnya Corona
– Komik Pendek Islami
– Jangan Pernah Menunda Ibadah
– Komik Islami Hitam Putih

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Makna Islam Adalah Agama Yang Rahmatan Lil Alamin

Pernyataan  bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala,

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.

Secara bahasa,

الرَّحْمة: الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ

rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab, Ibnul Mandzur). Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.

Benar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah.

Penafsiran Para Ahli Tafsir
1. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Tafsir Ibnul Qayyim:

“Pendapat yang lebih benar dalam menafsirkan ayat ini adalah bahwa rahmat disini bersifat umum. Dalam masalah ini, terdapat dua penafsiran:

Pertama: Alam semesta secara umum mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus.

Orang kafir yang memerangi beliau, manfaat yang mereka dapatkan adalah disegerakannya pembunuhan dan maut bagi mereka, itu lebih baik bagi mereka. Karena hidup mereka hanya akan menambah kepedihan adzab kelak di akhirat. Kebinasaan telah ditetapkan bagi mereka. Sehingga, dipercepatnya ajal lebih bermanfaat bagi mereka daripada hidup menetap dalam kekafiran.

Orang kafir yang terikat perjanjian dengan beliau, manfaat bagi mereka adalah dibiarkan hidup didunia dalam perlindungan dan perjanjian. Mereka ini lebih sedikit keburukannya daripada orang kafir yang memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Orang munafik, yang menampakkan iman secara zhahir saja, mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain.

Dan pada umat manusia setelah beliau diutus, Allah Ta’ala tidak memberikan adzab yang menyeluruh dari umat manusia di bumi. Kesimpulannya, semua manusia mendapat manfaat dari diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Kedua: Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya. Sehingga bagi orang kafir, Islam tetap dikatakan rahmat bagi mereka, namun mereka enggan menerima. Sebagaimana jika dikatakan ‘Ini adalah obat bagi si fulan yang sakit’. Andaikan fulan tidak meminumnya, obat tersebut tetaplah dikatakan obat”

2. Muhammad bin Ali Asy Syaukani dalam Fathul Qadir:

“Makna ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian’. Dengan kata lain, ‘satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan di akhirat’ ”

3. Muhammad bin Jarir Ath Thabari dalam Tafsir Ath Thabari:

“Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah seluruh manusia yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh manusia baik mu’min dan kafir? Ataukah hanya manusia mu’min saja? Sebagian ahli tafsir berpendapat, yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mu’min maupun kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat ini:

من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن بالله ورسوله عوفي مما أصاب الأمم من الخسف والقذف

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar”

dalam riwayat yang lain:

تمت الرحمة لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل

“Rahmat yang sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu”

Pendapat ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang beriman saja. Mereka membawakan riwayat dari Ibnu Zaid dalam menafsirkan ayat ini:

فهو لهؤلاء فتنة ولهؤلاء رحمة , وقد جاء الأمر مجملا رحمة للعالمين . والعالمون هاهنا : من آمن به وصدقه وأطاعه

“Dengan diutusnya Rasulullah, ada manusia yang mendapat bencana, ada yang mendapat rahmah, walaupun bentuk penyebutan dalam ayat ini sifatnya umum, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Seluruh manusia yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah, membenarkannya dan menaatinya”

Pendapat yang benar dari dua pendapat ini adalah pendapat yang pertama, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas. Yaitu Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, baik mu’min maupun kafir. Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, berupa tidak disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah” (diterjemahkan secara ringkas).

4. Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi dalam Tafsir Al Qurthubi

“Said bin Jubair berkata: dari Ibnu Abbas, beliau berkata:

كان محمد صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع الناس فمن آمن به وصدق به سعد , ومن لم يؤمن به سلم مما لحق الأمم من الخسف والغرق

“Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat bagi seluruh manusia. Bagi yang beriman dan membenarkan ajaran beliau, akan mendapat kebahagiaan. Bagi yang tidak beriman kepada beliau, diselamatkan dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa ditenggelamkan ke dalam bumi atau ditenggelamkan dengan air”

Ibnu Zaid berkata:

أراد بالعالمين المؤمنين خاص

“Yang dimaksud ‘seluruh manusia’ dalam ayat ini adalah hanya orang-orang yang beriman” ”

5. Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir

“Maksud ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk’. Sebagaimana dalam sebuah hadits:

إنما أنا رحمة مهداة

“Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah)” (HR. Al Bukhari dalam Al ‘Ilal Al Kabir 369, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/596. Hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 490, juga dalam Shahih Al Jami’, 2345)

Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala tidak mengatakan ‘rahmatan lilmu’minin‘, namun mengatakan ‘rahmatan lil ‘alamin‘ karena Allah Ta’ala ingin memberikan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para Nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak lagi ditimpa azab berupa diubah menjadi binatang, atau dibenamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dengan air”

Pemahaman Yang Salah Kaprah
Permasalahan muncul ketika orang-orang menafsirkan ayat ini secara serampangan, bermodal pemahaman bahasa dan logika yang dangkal. Atau berusaha memaksakan makna ayat agar sesuai dengan hawa nafsunya. Diantaranya pemahaman tersebut adalah:

1. Berkasih sayang dengan orang kafir

Sebagian orang mengajak untuk berkasih sayang kepada orang kafir, tidak perlu membenci mereka, mengikuti acara-acara mereka, enggan menyebut mereka kafir, atau bahkan menyerukan bahwa semua agama sama dan benar, dengan berdalil dengan ayat:

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al Anbiya: 107)

Padahal bukan demikian tafsiran dari ayat ini. Allah Ta’ala menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, namun bentuk rahmat bagi orang kafir bukanlah dengan berkasih sayang kepada mereka. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu. Inilah bentuk kasih sayang Allah terhadap orang kafir, dari penjelasan sahabat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu.

Bahkan konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Namun perlu dicatat, harus membenci bukan berarti harus membunuh, melukai, atau menyakiti orang kafir yang kita temui. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam tafsir beliau di atas, bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh dilukai.

Menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai dalil pluralisme agama juga merupakan pemahaman yang menyimpang. Karena ayat-ayat Al Qur’an tidak mungkin saling bertentangan. Bukankah Allah Ta’ala sendiri yang berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ

“Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” (QS. Al Imran: 19)

Juga firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Al Imran: 85)

Orang yang mengusung isu pluralisme mungkin menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘berserah diri’. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:

الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim no.8)

Justru surat Al Anbiya ayat 107 ini adlalah bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini adalah dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib memeluk agama Islam. Karena Islam itu ‘lil alamin‘, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim di atas: “Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”.

2. Berkasih sayang dalam kemungkaran

Sebagian kaum muslimin membiarkan orang-orang meninggalkan shalat, membiarkan pelacuran merajalela, membiarkan wanita membuka aurat mereka di depan umum bahkan membiarkan praktek-praktek kemusyrikan dan enggan menasehati mereka karena khawatir para pelaku maksiat tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian berkata : “Islam khan rahmatan lil’alamin, penuh kasih sayang”. Sungguh aneh.

Padahal bukanlah demikian tafsir surat Al Anbiya ayat 107 ini. Islam sebagai rahmat Allah bukanlah bermakna berbelas kasihan kepada pelaku kemungkaran dan membiarkan mereka dalam kemungkarannya. Sebagaiman dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya di atas, “Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah”.

Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu’min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah. Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan.

Dan sikap rahmat pun diperlukan dalam mengingkari maksiat. Sepatutnya pengingkaran terhadap maksiat mendahulukan sikap lembut dan penuh kasih sayang, bukan mendahulukan sikap kasar dan keras. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:

إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه . ولا ينزع من شيء إلا شانه

“Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasnya. Tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya” (HR. Muslim no. 2594)

3. Berkasih sayang dalam penyimpangan beragama

Adalagi yang menggunakan ayat ini untuk melegalkan berbagai bentuk bid’ah, syirik dan khurafat. Karena mereka menganggap bentuk-bentuk penyimpangan tersebut adalah perbedaan pendapat yang harus ditoleransi sehingga merekapun berkata: “Biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami, bukankah Islam rahmatan lil’alamin?”. Sungguh aneh.

Menafsirkan rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107 dengan kasih sayang dan toleransi terhadap semua pemahaman yang ada pada kaum muslimin, adalah penafsiran yang sangat jauh. Tidak ada ahli tafsir yang menafsirkan demikian.

Perpecahan ditubuh ummat menjadi bermacam golongan adalah fakta, dan sudah diperingatkan sejak dahulu oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan orang yang mengatakan semua golongan tersebut itu benar dan semuanya dapat ditoleransi tidak berbeda dengan orang yang mengatakan semua agama sama. Diantara bermacam golongan tersebut tentu ada yang benar dan ada yang salah. Dan kita wajib mengikuti yang benar, yaitu yang sesuai dengan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Bahkan Ibnul Qayyim mengatakan tentang rahmat dalam surat Al Anbiya ayat 107: “Orang yang mengikuti beliau, dapat meraih kemuliaan di dunia dan akhirat sekaligus”. Artinya, Islam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada orang yang mengikuti golongan yang benar yaitu yang mau mengikuti ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Pernyataan ‘biarkanlah kami dengan pemahaman kami, jangan mengusik kami’ hanya berlaku kepada orang kafir. Sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Kaafirun:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku‘”

Sedangkan kepada sesama muslim, tidak boleh demikian. Bahkan wajib menasehati bila saudaranya terjerumus dalam kesalahan. Yang dinasehati pun sepatutnya lapang menerima nasehat. Bukankah orang-orang beriman itu saling menasehati dalam kebaikan?

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr: 1 – 3)

Dan menasehati orang yang berbuat menyimpang dalam agama adalah bentuk kasih sayang kepada orang tersebut. Bahkan orang yang mengetahui saudaranya terjerumus ke dalam penyimpangan beragama namun mendiamkan, ia mendapat dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam:

إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها كمن غاب عنها . ومن غاب عنها فرضيها ، كان كمن شهدها

“Jika engkau mengetahui adanya sebuah kesalahan (dalam agama) terjadi dimuka bumi, orang yang melihat langsung lalu mengingkarinya, ia sama seperti orang yang tidak melihat langsung (tidak dosa). Orang yang tidak melihat langsung namun ridha terhadap kesalahan tersebut, ia sama seperti orang yang melihat langsung (mendapat dosa)” (HR. Abu Daud no.4345, dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Perselisihan pendapat pun tidak bisa dipukul-rata bahwa semua pendapat bisa ditoleransi. Apakah kita mentoleransi sebagian orang sufi yang berpendapat shalat lima waktu itu tidak wajib bagi orang yang mencapai tingkatan tertentu? Atau sebagian orang kejawen yang menganggap shalat itu yang penting ‘ingat Allah’ tanpa harus melakukan shalat? Apakah kita mentoleransi pendapat Ahmadiyyah yang mengatakan bahwa berhaji tidak harus ke Makkah? Tentu tidak dapat ditoleransi. Jika semua pendapat orang dapat ditoleransi, hancurlah agama ini. Namun pendapat-pendapat yang berdasarkan dalil shahih, cara berdalil yang benar, menggunakan kaidah para ulama, barulah dapat kita toleransi.

4. Menyepelekan permasalahan aqidah

Dengan menggunakan ayat ini, sebagian orang menyepelekan dan enggan mendakwahkan aqidah yang benar. Karena mereka menganggap mendakwahkan aqidah hanya akan memecah-belah ummat dan menimbulkan kebencian sehingga tidak sesuai dengan prinsip bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Renungkanlah perkataan Ash Shabuni dalam menafsirkan rahmatan lil ‘alamin: “Beliau Shallallahu ‘alaihi Wa sallam memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadi rahmat bagi seluruh manusia karena beliau membawa ajaran tauhid. Karena manusia pada masa sebelum beliau diutus berada dalam kesesatan berupa penyembahan kepada sesembahan selain Allah, walaupun mereka menyembah kepada Allah juga. Dan inilah inti ajaran para Rasul. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut’ ” (QS. An Nahl: 36)

Selain itu, bukankah masalah aqidah ini yang dapat menentukan nasib seseorang apakah ia akan kekal di neraka atau tidak? Allah Ta’ala berfirman:

نَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72)

Oleh karena itu, adakah yang lebih urgen dari masalah ini?

Kesimpulannya, justru dakwah tauhid, seruan untuk beraqidah yang benar adalah bentuk rahmat dari Allah Ta’ala. Karena dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah rahmat Allah, maka bagaimana mungkin menjadi sebab perpecahan ummat? Justru kesyirikanlah yang sebenarnya menjadi sebab perpecahan ummat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Ruum: 31-32)

Pemahaman Yang Benar
Berdasarkan penafsiran para ulama ahli tafsir yang terpercaya, beberapa faedah yang dapat kita ambil dari ayat ini adalah:

Di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam sebagai Rasul Allah adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Seluruh manusia di muka bumi diwajibkan memeluk agama Islam.
Hukum-hukum syariat dan aturan-aturan dalam Islam adalah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya.
Seluruh manusia mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam

Rahmat yang sempurna hanya didapatkan oleh orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam
Seluruh manusia mendapat manfaat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam.

Orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, membenarkan beliau serta taat kepada beliau, akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Orang kafir yang memerangi Islam juga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, yaitu dengan diwajibkannya perang melawan mereka. Karena kehidupan mereka didunia lebih lama hanya akan menambah kepedihan siksa neraka di akhirat kelak.
Orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum musliminjuga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Yaitu dengan dilarangnya membunuh dan merampas harta mereka.

Secara umum, orang kafir mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam berupa dihindari dari adzab yang menimpa umat-umat terdahulu yang menentang Allah. Sehingga setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam, tidak akan ada kaum kafir yang diazab dengan cara ditenggelamkan seluruhnya atau dibenamkan ke dalam bumi seluruhnya atau diubah menjadi binatang seluruhnya.

Orang munafik yang mengaku beriman di lisan namun ingkar di dalam hati juga mendapat rahmat dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Mereka mendapat manfaat berupa terjaganya darah, harta, keluarga dan kehormatan mereka. Mereka pun diperlakukan sebagaimana kaum muslimin yang lain dalam hukum waris dan hukum yang lain. Namun di akhirat kelak Allah akan menempatkan mereka di dasar neraka Jahannam.

Pengutusan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam menjadi rahmat karena beliau telah memberikan pencerahan kepada manusia yang awalnya dalam kejahilan dan memberikan hidayah kepada manusia yang awalnya berada dalam kesesatan berupa peribadatan kepada selain Allah.
Sebagian ulama berpendapat, rahmat dalam ayat ini diberikan juga kepada orang kafir namun mereka menolaknya. Sehingga hanya orang mu’min saja yang mendapatkannya.

Sebagain ulama berpendapat, rahmat dalam ayat ini hanya diberikan orang mu’min.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, yang dengan sebab rahmat-Nya tersebut kita dikumpulkan di dalam Jannah-Nya.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimmush shalihat.



Konten Islami Lainnnya:

– Bantuan Dari Allah Saat Kesulitan
– 3 Hal Yang Dilakukan Saat Bangun Untuk Sahur
– Kenapa Dia Begitu Cinta Al-Qur’an

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Kejayaan Islam Abbasiyah Oleh Khalifah Harun ar Rasyid

Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti kedua daam sejarah pemerintahan umat islam. Bani Abbasiyah merasa lebih berhak dari pada bani Umayyah atas kekhalifahan Islam disebabkan beberapa faktor:

Pendiri daulah Abbasiyah, Abdullah As-Saffah memiliki nasab lebih dekat dengan Nabi SAW
Bani Umayyah yang memaksakan diri untuk menguasai kekhalifahan melalui tragedi perang siffin

Pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, umat Islam mengukir prestasi yang gemilang terutama dalam bidang intelektual serta arsitekturnya. Hal ini merupakan buah hasil dari perjuangan para Khalifah yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Daulah yang berdiri setelah keruntuhan daulah Umayyah ini, mencapai popularitasnya pada zaman khalifah Harun ar Rasyid serta putranya Al Ma’mun.

Awal kekhalifahan Abbasiyah menggunakan Kuffah sebagai pusat pemerintahan, kemudian pada masa Khalifah Abu Ja’far Al Mansur pusat pemerintahan dipindahkan ke Baghdad. Daulah Abbasiyah mengalami pergeseran dalam berbagai bidang terutama pemerintahan, sehingga masa pemerintahan yang berlangsung dapat dikelompokkan menjadi 5 periode. Sedangkan dilihat dari sejarah, Daulah yang sangat populer dengan kejayaan intelektualnya menguasai kekhalifahan selama 508 tahun dan mengalami tiga kali pergantian penguasa, Bani Abbas, Bani Buwaihi dan Bani Saljuk.

Menurut Marshal G. S Hodgson karakter pemerintahan Daulah Abbasiyah yakni absolutisme, pemerintahan yang mutlak di tangan khalifah dan bersifat tidak terbatas. Simbol dari absolutisme adalah adanya pengeksekusian untuk menghukum mati orang-orang ang menolak pemerintah serta kemauan khalifah yang berkuasa. Politik ini telah dijalankan oleh Dinasti Umayyah dan sistem pemerintahannya pada Dinasti Abbasiyah. Ada beberapa sistem politik yang dijalankan daulah Abbasiyah:

 Para khalifah dari keturunan Arab murni, sedangkan pejabat pemerintahan diambil dari kaum mawalli

Kota Baghdad sebgai ibukota serta pusat pemerintahan, ekonomi, sosial dan budaya
Ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang mulia dan harus dikembangkan
Kebebasan berfikir sebagai hak asasi manusia
Masa Daulah Abbasiyah pada era Khalifah Harun Ar Rasyid memegang teguh dengan karakter absolutisme yang menghasilkan kekokohan dalam kekuasaannya. Sehingga tidak ada lagi bahaya serta ancaman dari berbagai kelompok serta tidak terjadi lagi pertentangan antara bangsa Arab dan Bangsa Persia.

Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad 7

Islam sendiri diketahui masuk pertama kali ke Indonesia sekitar abad ke-7 Masehi. Sebelum Islam, beberapa agama lain seperti Hindu dan Budha sudah terlebih dulu masuk dan menjadi kepercayaan masyarakat Indonesia.

Banyaknya kerajaan Islam yang ada  juga diketahui turut memengaruhi perkembangan Islam di Indonesia. Dengan runtuhnya kerajaan Hindu-Budha di Nusantara, banyak dari masyarakat jajahan kerajaan tersebut masuk islam dan turut menyebarkan agama ini ke seluruh negeri.

Sejarah masuknya Islam di Indonesia hingga saat ini masih diperdebatkan. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa masuknya Islam ke Indonesia pertama kali dibawa oleh para pedagang Arab. Akan tetapi, ada juga yang mengatakan  bahwa Islam dibawa pertama kali oleh 9 wali atau yang dikenal dengan Wali Songo.

Teori Masuknya Islam di Indonesia

Jika dilihat dari proses berkembangnya, ada 3 teori yang melandaskan penyebaran Islam di Indonesia. Beberapa teori itu antara lain adalah:

Teori Gujarat

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh  J. Pijnapel seorang para cendikiawan Belanda yang berasal dari Universitas Leiden pada abad ke-19. Teori ini mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat, daerah yang berada di India bagian barat. Menurut Pijnapel, Islam turut disebarkan pertama kali oleh pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke bagian timur yang salah satunya adalah Indonesia.

Teori Gujarat kemudian dikembangkan oleh J.P Moquetta pada tahun 1912. Moquetta memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada 1297 Masehi di Aceh. Menurutnya bentuk dan gaya batu nisan tersebut sama dengan bentuk nisan yang ada di Kambay, Gujarat. Selain itu alasan lainnya adalah adanya kesamaan mahzah Syafei pada masyarakat muslim di Gujarat dengan di Indonesia.

Teori Makkah

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh salah seorang ulama dan sastrawan Indonesia yaitu Profesor Buya Hamka. Beliau mengatakan bahwa masuknya Islam di Indonesia pertama kali dibawa oleh orang Arab sekitar abad ke-7 Masehi.
Menurut Hamka, kedatangan awal bangsa Arab tersebut tidaklah dipengaruhi oleh aktor ekonomi, tetapi lebih kepada motivasi dan dorongan untuk menyebarkan agama Islam. Teori Makkah ini juga disampaikan oleh Hamka untuk menyangkal teori Gujarat tentang masuknya Islam di Indonesia.

Teori Persia

Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten adalah orang yang pertama kali mengenalkan teori  Persia. Menurut teori Persia kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi, yang kini dikenal dengan Negara Iran.
Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein memfokuskan pada persamaan budaya dan tradisi yang berkembang di antara masyarakat Persia dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain seperti merayakan 10 Muharram atau 1 Suro. Budaya lain yang dianggap sama adalah ukiran kaligrafi pada batu nisan yang dipakai dibanyak pemakaman Islam.

Metode Penyebaran Islam

Selain karena semakin banyaknya Kerajaan Islam di Indonesia dan jalur perdagangan yang dibawa oleh bangsa Arab dan Persia, nyata nya Islam juga berkembang dengan beberapa pendekatan lain.
Adapun beberapa pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:

Pendekatan Perdagangan, yang banyak dibawa oleh bangsa Arab dan Persia
Pendekatan Politik, yang disebarkan melalui raja-raja Kerajaan Islam
Pendekatan Perkawinan, yang banyak dilakukan baik oleh pedagang ataupun petinggi kerajaan Islam
Pendekatan Pendidikan, yang dilakukan oleh para Wali, Kiai, atau Guru Agama
Pendekatan Kesenian, seperti melalui kesenian wayang dan cerita-cerita rakyat Islam
Pendekatan Tasawuf

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Islam Agama Yang Diridhoi Allah

Islam agama yang diridhoi allah tercantum dalam surat Surat al imron ayat 19 yang berbunyi

إن الدين عند الله الإسلام

sesungguhnya agama yang di sisi allah adalah islam juga ayat 85 dari surat ali imran.

Islam agama yang diridhoi allah tercantum dalam surah. Namun karena berdasarkan wahyu dari allah dengan adanya realita berbagai ragam agama yang diterima di sisi allah hanyalah satu yaitu islam.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa islam adalah satu satunya agama yang diridhai allah azza wa jalla karena islam adalah agama yang datang dari rabbul alaminmaka siapa pun orangnya yang mencari cari agama selain agama islam maka ia akan ditolak di sisi allah subhanahu wa taalaallah taala berfirman yang artinya sesungguhnya agama di sisi allah adalah islam qs ali imran.

Ada pula yang memberi terjemahan sesungguhnya agama yang diterima atau diridhoi allah hanyalah islamada berbagai macam tafsir tergantung ulama atau ahli tafsir mana yang menterjemahkannya. Islam agama yang diridhoi allah tercantum dalam surat 22702301. Dari dimasukan membantu 2503. Sesungguhnya agama yang disisi. Islam juga adalah agama yang diridhoi oleh allah taala dan bukan agama lainnya ini pun harus dipahami. Tanyakan detil pertanyaan. Dalam bahasa arab innaddina indallahil islam.

Barangsiapa yang berpegang teguh kepada agama allah maka sungguh dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ali imran.

ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين

 dan barang siapa mencari agama. Setiap agama mungkin mengklaim merekalah yang paling benar.

 98 101 ayat ayat di atas menjelaskan bahwa islam satu satunya agama yang benar adapun selain islam tidak benar dan tidak diterima oleh allah azza wa jalla. 5 poin islam agama yang diridhoi allah tercantum dalam surah. Dalam surat ali imran dijelaskan sesungguhnya agama disisi allah hanyalah islam. Di tengah maraknya kisah cinta sesama jenis yang muncul dan terlihat jelas di masyarakat maka patut diketahui bahwa pasangan yang diridhoi oleh allah adalah pasangan yang terdiri dari laki laki dan perempuan bukan pasangan sesama jenis seperti yang tercantum dalam ayat berikut. Dan menurut para ulama klasik al quran sumber agama juga ajaran islam pertama dan utama yang memuat firman firman wahyu allah sama benar dengan yang disampaikan oleh malaikat jibril kepada nabi muhammad sebagai rasul allah sedikit demi sediki selama 22 tahun 2 bulan 22 hari mula mula di mekah kemudian di madinah.

1000+ Kata Mutiara Dan Nasehat Utsman bin Affan

Three worldly things have been made dear to me: feeding the hungry, clothing the naked and reading the Qur’an. – Utsman bin Affan

Tiga hal yang aku sukai di dunia ini, yaitu; memberi makan kepada orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang bertelanjang, dan membaca Al-Qur’an. – Utsman bin Affan

Konten Islami Lainnnya:

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Berikut Nasihat Indah Utsman bin Affan

Nasihat indah penuh hikmah dari Sayyidina Utsman bin Affan patut kita teladani. Berikut nasihatnya:

1. Jika hati kita suci, maka ia tidak akan pernah puas dari kalam Rabb-nya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, bab al-Adab wa at-Tasawwuf).

2. Sungguh aku membenci, satu hari berlalu tanpa melihat (membaca) Alquran. (al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir, 10: 388).

3. Bagian dunia yang kucintai ada tiga: (1) mengenyangkan orang yang lapar, (2) memberi pakaian mereka yang tak punya, dan (3) membaca Alquran. (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 88).

4. Ada empat hal ketika nampak merupakan keutamaan. Jika tersembunyi menjadi kewajiban. (1) Berkumpul bersama orang-orang saleh adalah keutamaan dan mencontoh mereka adalah kewajiban. (2) Membaca Alquran adalah keutamaan dan mengamalkannya adalah kewajiban. (3) Menziarahi kubur adalah keutamaan dan beramal sebagai persiapan untuk mati adalah kewajiban. (4) Dan membesuk orang yang sakit adalah keutamaan dan mengambil wasiat darinya adalah kewajiban. (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 90).

5. Ada 10 hal yang disia-siakan: Orang yang berilmu tapi tidak ditanyai. Ilmu yang tidak diamalkan. Pendapat yang benar namun tidak diterima. Senjata yang tidak digunakan. Masjid yang tidak ditegakkan salat di dalamnya. Mush-haf Alquran yang tidak dibaca. Harta yang tidak diinfakkan. Kendaraan yang tidak dipakai. Ilmu tentang kezuhudan bagi pencinta dunia. Dan usia panjang yang tidak menambah bekal untuk safarnya (ke akhirat).” (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 91).

Ada beberapa nasehat bijak yang pernah disampaikan oleh sahabat Utsman bin Affan. Pribadinya yang luhur tercermin dalam perkataan-perkataannya yang banyak memuat hikmah dan nasehat. Berikut ini beberapa kata mutiara islam Utsman Bin Affan yang banyak menyimpan pesan-pesan nasehat dan motivasi.

Dunia atau akhirat?

Worrying about the dunya is a darkness in the heart, while worrying about the akhirah is a light in the heart. – Utsman bin Affan

Risau terhadap dunia adalah kegelapan bagi hati, sedangkan risau terhadap akhirat adalah cahaya bagi hati. – Utsman bin Affan

Pendosa paling buruk

Amongst the sinners, the gravest is he who finds time to discuss the faults of others. – Utsman bin Affan

Di antara para pendosa, yang paling buruk adalah dia yang meluangkan waktunya untuk membahas kesalahan orang lain. – Utsman bin Affan

Keimanan tertinggi

The highest degree in Iman is that you always regard yourself in the presence of Allah. – Utsman bin Affan

Derajat keimanan yang paling tinggi adalah bahwa kamu selalu merasa berada di hadapan Allah. – Utsman bin Affan

Orang yang mengenal Allah

The signs of a person who really knows Allah are eight: his heart is in a state of fear and hope, his tongue is in a state of praise and gratitude, his eyes are in a state of shame and tears, and his will is in leaving the dunya and seeking the pleasure of his Lord. – Utsman bin Affan

Di antara tanda-tanda orang yang bijaksana ialah: hatinya selalu berniat suci, lidahnya selalu basah dengan dzikrullah, kedua matanya menangis karena penyesalan (terhadap dosa), segala perkara dihadapinya dengan sabar dan tabah, mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. – Utsman bin Affan

Empat hal yang sia-sia

Four things are useless, and they are: 1) Knowledge without practice, 2) Wealth without expenditure in the way of Allah, 3) Piety for the sake of show, prompted by worldliness, 4) and a long life with no stock of good deeds. – Utsman bin Affan

Ada empat hal yang tidak berguna, yaitu: 1) Ilmu tanpa amal, 2) Kekayaan tanpa diiringi dengan berinfak di jalan Allah, 3) Kesalehan hanya untuk dipamerkan, yaitu didorong oleh motivasi duniawi, 4) dan umur panjang yang dihabiskan tanpa berbuat amal kebajikan. – Utsman bin Affan

Tak pernah bosan

If our hearts were pure, they will never have enough from reciting Allah’s Speech (the Quran). – Utsman bin Affan

Andai hati kalian bersih, maka kalian tidak akan pernah merasa kenyang (bosan) dari membaca al-Qur’an. – Utsman bin Affan

Akibat perpecahan

When the Muslims are disunited, they would falter in their iman, and would be bereft of their inherent strength. – Utsman bin Affan

Ketika kaum Muslimin terpecah belah, keimanan mereka akan goyah dan akan kehilangan kekuatan persatuan di antara mereka. – Utsman bin Affan

Mengambil pelajaran

Acquire wisdom from the story of those who have already passed. – Utsman bin Affan

Ambillah hikmah dan pelajaran dari kisah orang-orang terdahulu. – Utsman bin Affan

Allah akan tampakkan

No one conceals something in his heart, but Allah causes it to be seen on his face or in a slip of the tongue. – Utsman bin Affan

Tak seorang pun yang menyembunyikan suatu rahasia di dalam hatinya kecuali Allah akan menampakkan pada raut wajahnya atau melalui perkataan yang terlontar dari lidahnya. – Utsman bin Affan

Tiga hal

Three worldly things have been made dear to me: feeding the hungry, clothing the naked and reading the Qur’an. – Utsman bin Affan

Tiga hal yang aku sukai di dunia ini, yaitu; memberi makan kepada orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang bertelanjang, dan membaca Al-Qur’an. – Utsman bin Affan

Iri hati

It is sufficient for you that the one who envies you is distressed at the time of your joy. – Utsman bin Affan

Cukuplah bagimu bahwa orang yang iri terhadapmu merasa tertekan pada saat senangmu. – Utsman bin Affan

Dicintai Allah dan malaikat

Allah the Exalted loves him who forgoes worldly life, the Angels love him who rejects the vices, and the Muslims love him who gives up greediness in respect of the Muslims. – Utsman bin Affan

Allah mencintai orang yang mau meninggalkan dunia, Malaikat mencintai orang yang mau meninggalkan dosanya, dan umat islam mencintai orang yang tidak tamak. – Utsman bin Affan

Bahayanya lidah

The slip of the tongue is more dangerous than the slip of the feet. – Utsman bin Affan

Tergelincirnya lidah itu lebih berhaya daripada tergelincirnya kaki. – Utsman bin Affan

Alam kubur

Alam kubur merupakan pintu masuk akhirat sekaligus pintu keluar dunia. Nikmat dan siksa di sana tidak lebih dahsyat dibanding di akhirat. – Utsman bin Affan

Keutamaan ilmu

Pengetahuan lebih baik daripada kekayaan. Pengetahuan akan melindungimu, sedangkan kekayaan harus kamu lindungi. – Utsman bin Affan

Binasanya ilmu

Segala sesuatu itu akan binasa. Dan binasanya ilmu adalah lupa pada ilmu itu. – Utsman bin Affan

Lidah

Ketika lidah seseorang menjadi tenang dan ramah, maka hatinya menjadi saleh dan bersih. – Utsman bin Affan

Pemimpin yang aktif

Kalian lebih butuh pada pemimpin yang aktif ketimbang pemimpin yang sering mengumbar kata-kata. – Utsman bin Affan

Menemukan kenikmatan

Aku menemukan kenikmatan beribadah dalam empat hal: 1) ketika mampu menunaikan kewajiban-kewajiban dari Allah; 2) ketika mampu menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah; 3) ketika mampu melakukan amar ma’ruf dan mencari pahala dari Allah; 4) ketika mampu melakukan nahi munkar dan menjaga diri dari murka Allah. – Utsman bin Affan

Keberhasilan

Aku tidak menganggapmu berhasil dalam suatu pencapaian sampai Alllah mengujimu dengan cobaan terakhirnya. – Utsman bin Affan

Allah tampakkan

Tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu melainkan Allah akan menampakkannya melalui raut mukanya dan ketergelinciran mulutnya. – Utsman bin Affan

Yang mampu

Tidak ada yang mampu mengurusi permasalahan umat islam kecuali orang yang memiliki integritas hikmah, matang, dan berpengalaman. – Utsman bin Affan

Rasulullah pernah berkata, “Orang yang paling penuh kasih sayang dari umatku adalah Abu Bakar, orang yang paling gagah berani membela agama Allah adalah Umar, dan orang yang paling jujur kerendah-hatiannya adalah Utsman.”

Kepribadian baik itu bahkan telah dimiliki Utsman Bin Affan sejak saat beliau belum memeluk agama Islam. Oleh sebab itulah Nabi saw di kemudian hari merestui kedua putrinya yakni Ummu Kultsum dan Ruqayyah untuk menjadi pendamping hidup Utsman Bin Affan.

Sebagai seorang khalifah dengan segudang prestasi, tentu kita sebagai umat muslim harus memuliakannya dan banyak belajar dari Utsman Bin Affan.

Berikut ini adalah beberapa Petuah dari Utsman Bin Affan untuk memperkuat diri kita.

1. Andai hati kalian bersih, maka kalian tidak akan pernah merasa kenyang (bosan) dari membaca Al-Qur’an

2. Ketika kaum Muslimin terpecah belah, keimanan mereka akan goyah dan akan kehilangan kekuatan persatuan di antara mereka

3. Ambillah hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah orang terdahulu

4. Cukuplah bagimu bahwa orang yang iri terhadapmu merasa tertekan pada saat senangmu

5. Tergelincirnya lidah lebih berbahaya daripada tergelincirnya kaki

6. Pengetahuan lebih baik daripada kekayaan, pengetahuan akan melindungimu, sedangkan kekayaan harus kamu lindungi

7. Segala sesuatu itu akan binasa, dan binasanya ilmu adalah lupa pada ilmu itu sendiri

8. Aku menemukan kenikmatan beribadah dalam empat hal

(1) Ketika mampu menunaikan kewajiban-kewajiban dari Allah
(2) Ketika mampu menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah
(3) Ketika mampu melakukan amar ma’ruf dan mencari pahala dari Allah
(4) ketika mampu melakukan nahi munkar dan menjaga diri dari murkanya Allah

9. Aku tidak menganggapmu berhasil dalam suatu pencapaian tertentu hingga Alllah mengujimu dengan cobaan terakhirnya

10. Tidak ada yang mampu mengurusi persoalan umat Islam kecuali orang yang memiliki integritas hikmah, matang, dan berpengalaman

Seiring berjalannya kehidupan, kamu bisa mengambil banyak belajar dari perjalanan hidup tokoh terdahulu.

1. “Risau terhadap dunia adalah kegelapan bagi hati, sedangkan risau terhadap akhirat adalah cahaya bagi hati.”

2. “Derajat keimanan yang paling tinggi adalah bahwa kamu selalu merasa berada di hadapan Allah.”

3. “Ambillah hikmah dan pelajaran dari kisah orang-orang terdahulu.”

4. “Ketika kaum Muslimin tercerai-berai, keimanan mereka akan terkoyakkan dan akan kehilangan kekuatan persatuan dan kesatuan di antara mereka.”

5. “Tergelincirnya lidah itu lebih berbahaya daripada tergelincirnya kaki.”

6. “Alam kubur merupakan pintu masuk akhirat sekaligus pintu keluar dunia. Nikmat dan siksa di sana tidak lebih dahsyat dibanding di akhirat.”

7. “Kalian lebih butuh pada pemimpin yang aktif ketimbang pemimpin yang sering mengumbar kata-kata.”

8. “Tidak seorang pun yang menyembunyikan suatu rahasia di dalam hatinya, kecuali Allah akan menampakkan pada raut wajahnya atau melalui perkataan yang terlontar dari lidahnya.”

9. “Segala sesuatu itu akan binasa, dan binasanya ilmu adalah lupa pada ilmu itu sendiri.”

10. “Aku tidak menganggapmu berhasil dalam suatu pencapaian tertentu hingga Allah mengujimu dengan cobaan terakhirnya.”

11. “Pengetahuan lebih baik daripada kekayaan, pengetahuan akan melindungimu, sedangkan kekayaan harus kamu lindungi.”

12. “Allah mencintai orang yang mau meninggalkan dunia, Malaikat mencintai orang yang mau meninggalkan dosanya, dan umat Islam mencintai orang yang tidak tamak.”

13. “Tiga hal yang aku sukai di dunia ini, yaitu; memberi makan kepada orang yang lapar, memberi pakaian kepada orang yang bertelanjang, dan membaca Alquran.”

14. “Ketika lidah seseorang menjadi tenang dan ramah, maka hatinya menjadi saleh dan bersih.”

15. “Salat itu amal terbaik bagi manusia. Jika ia melaksanakannya dengan baik maka ikutilah mereka. Andaikata ia melaksanakannya dengan buruk maka jauhilah keburukan itu.”

16. “Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah kalian. Bantulah pemimpin kalian, nasehatilah mereka dan janganlah kalian menganiaya mereka.”

17. “Buatlah tujuan untuk hidup, kemudian gunakan segenap kekuatan untuk mencapainya, kamu pasti berhasil.”

18. “Berbisnislah (berniagalah) dengan Allah SWT niscaya kalian akan mendapatkan untung.”

19. “Diamnya orang yang diam lebih bahaya dari perlakuan serangan orang lain.”

20. “Hindarilah minuman keras, karena itu kunci dari kejahatan.”

Kepribadian Utsman bin Affan dikenal sebagai sosok yang luhur dan berbudi pekerti baik. Segala perkataan memuat hikmah dan nasehat yang baik.

21. “Di antara pendosa, yang paling buruk adalah dia yang meluangkan waktunya untuk membahas kesalahan orang lain.”

22. “Andai hati kalian bersih, maka kalian tidak akan pernah merasa kenyang (bosan) dari membaca Alquran.”

23. “Cukuplah bagimu bahwa orang yang iri terhadapmu merasa tertekan ada saat senangmu.”

24. “(Hendaknya kita) menjaga batasan-batasan, menepati janji, rela dengan yang ada, dan bersabar atas yang hilang dari kita.”

25. “Tidak ada yang mampu mengurusi persoalan umat Islam, kecuali orang yang memiliki integritas hikmah, matang, dan berpengalaman.”

26. “Aku menemukan kenikmatan beribadah dalam empat hal: ketika mampu menunaikan kewajiban-kewajiban dari Allah, ketika mampu menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah, ketika mampu melakukan amar ma’ruf dan mencari pahala dari Allah, ketika mampu melakukan nahi munkar dan menjaga diri dari murkanya Allah.”

27. “Di antara tanda-tanda orang yang bijaksana ialah: hatinya selalu berniat suci, lidahnya selalu basah dengan dzikrullah, kedua matanya menangis karena penyesalan (terhadap dosa), segala perkara dihadapinya dengan sabar dan tabah, mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.”

28. “Ketahuilah dunia itu dilipat di atas tipuan. Jangan sampai kamu tertipu oleh dunia dan jangan sampai kamu tertipu oleh setan dalam keta’atan kepada Allah.”

29. “Janganlah kalian lalai terhadap Allah karena Allah tidak pernah lalai terhadap kalian.”
30. “Pekerja keras memberiku bukti (bukan sekadar janji).”

31. “Aku merasa cukup dengan pandanganku sebagaimana aku merasa cukup dengan ingatanku.”

32. “Sambutlah ajal kalian dengan amal baik yang kalian mampu.”

33. “Tarikan pelajaran dari apa yang telah lewat serta bersungguh-sungguh.”

34. “Aku lebih senang di pandang Allah SWT sebagai hamba yang berbuat baik dari pada sebagai orang yang berbuat kerusakan.”

35. “Cinta dunia mengelapkan hati dan cinta akhirat menerangi hati.”

36. “Sesungguhnya ALLAH SWT menciptakan makhluk dengan hak (benar), maka janganlah berbicara kecuali atas kebenaran.”

37. “Setiap orang diberi masalah sesuai dengan kemampuannya.”

38. “Orang yang terbaik mau menjaga dan berpegang teguh dengan kitab Allah SWT.”

39. “Musyawarah dahulu sebelum berpendapat.”

40. “Tamak penyakit bagi orang yang tidak mampu kendalikan dirinya.”

“Ilmu pengetahuan adalah kehidupan pikiran.”
“Jika kamu mengharapkan berkah dari Allah, maka bersikap baiklah kepada hamba-Nya.”
“Memang sulit untuk bersabar, tapi menyia-nyiakan pahala dari sebuah kesabaran itu jauh lebih buruk.”
“Kita menemukan kedermawanan dalam takwa (kesadaran akan Allah), kekayaan dalam yakin (kepastian), dan kemuliaan dalam kerendahan hati.”
“Tanpa tindakan, pengetahuan tidak ada gunanya dan pengetahuan tanpa tindakan itu sia-sia.”
“Hidup akan berlaku, namun kematian sangatlah dekat.”
“Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah.”
“Setiap segala sesuatu itu ada kelebihannya. Maka janganlah suka meremehkan dan merendahkan.”
“Salah satu dosa terburuk adalah seseorang yang menganggap remeh dosanya.”
“Mau bersusah payah untuk menghilangkan penderitaan orang lain adalah esensi sejati dari kemurahan hati.”
“Ada kebesaran dalam rasa takut akan Allah, kepuasan dalam beriman kepada Allah, dan kehormatan dalam kerendahan hati.”
“Adalah hal yang memalukan bahwa seekor burung bangun lebih pagi daripada kamu di pagi hari.”
“Tanpa ilmu, amal tidak ada gunanya. Sedangkan ilmu tanpa amal adalah hal yang sia-sia.”

1000+ Kata Mutiara Dan Nasehat Abu Bakar ash-Shiddiq

The more knowledge you have, the greater will be your fear of Allah. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Semakin banyak ilmu yang kamu miliki, maka semakin besar pula ketakwaanmu terhadap Allah. – Abu Bakar Al-Shiddiq

“Ilmu pengetahuan adalah kehidupan pikiran.”
“Jika kamu mengharapkan berkah dari Allah, maka bersikap baiklah kepada hamba-Nya.”
“Memang sulit untuk bersabar, tapi menyia-nyiakan pahala dari sebuah kesabaran itu jauh lebih buruk.”
“Kita menemukan kedermawanan dalam takwa (kesadaran akan Allah), kekayaan dalam yakin (kepastian), dan kemuliaan dalam kerendahan hati.”
“Tanpa tindakan, pengetahuan tidak ada gunanya dan pengetahuan tanpa tindakan itu sia-sia.”
“Hidup akan berlaku, namun kematian sangatlah dekat.”
“Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah.”
“Setiap segala sesuatu itu ada kelebihannya. Maka janganlah suka meremehkan dan merendahkan.”
“Salah satu dosa terburuk adalah seseorang yang menganggap remeh dosanya.”
“Mau bersusah payah untuk menghilangkan penderitaan orang lain adalah esensi sejati dari kemurahan hati.”
“Ada kebesaran dalam rasa takut akan Allah, kepuasan dalam beriman kepada Allah, dan kehormatan dalam kerendahan hati.”
“Adalah hal yang memalukan bahwa seekor burung bangun lebih pagi daripada kamu di pagi hari.”
“Tanpa ilmu, amal tidak ada gunanya. Sedangkan ilmu tanpa amal adalah hal yang sia-sia.”

“Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.”
“Jangan berlebihan dalam mencintai sehingga menjadi keterikatan, jangan pula berlebihan dalam membenci sehingga membawa kebinasaan.”
“Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”
“Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya.”
“Sabar adalah bahan ramuan paling menyehatkan dalam hidup kita.”
“Berpegang teguhlah pada kebenaran, bahkan meski kebenaran itu akan membunuhmu.
Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku.”
“Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu, karena celamu lebih banyak darinya.”
“Suatu pengetahuan (ilmu), kalaupun tidak bermanfaat untukmu, tidak akan membahayakanmu.”
“Jangan tertipu oleh orang yang membaca Alquran. Tapi lihatlah kepada mereka yang perilakunya sesuai dengan Alquran itu.”
“Perbanyaklah mengingat Allah, karena itu adalah obat. Jangan buat dirimu terlalu banyak mengingat manusia, karena itu adalah penyakit.”
“Jagalah salatmu. Karena saat kamu kehilangan salat, maka kamu akan kehilangan segalanya.”

“Berbisnislah (berniagalah) dengan Allah swt niscaya kalian akan mendapatkan untung.”
“Risau terhadap dunia adalah kegelapan bagi hati, sedangkan risau terhadap akhirat adalah cahaya bagi hati.”
“Derajat keimanan yang paling tinggi adalah bahwa kamu selalu merasa berada di hadapan Allah.”
“Cukuplah bagimu bahwa orang yang iri terhadapmu merasa tertekan pada saat senangmu.”
“Tergelincirnya lidah itu lebih berbahaya daripada tergelincirnya kaki.”
“Ketika lidah seseorang menjadi tenang dan ramah, maka hatinya menjadi saleh dan bersih.”
“Diamnya orang yang diam lebih bahaya dari perlakuan serangan orang lain.”
“Di antara pendosa, yang paling buruk adalah dia yang meluangkan waktunya untuk membahas kesalahan orang lain.”
“Ketahuilah dunia itu dilipat di atas tipuan. Jangan sampai kamu tertipu oleh dunia dan jangan sampai kamu tertipu oleh setan dalam keta’atan kepada Allah.”

Komik Islami Lainnnya:

– Perlunya Kerjasama Dalam Rumah Tangga
– Baju Koko Vs Jersey – Komik Islami
– Dunia Hanya Sementara
– Komik Islami Bahasa Inggris
– Komik Islami Tarawih Surat Pendek

– Kisah Pendek Khutbah Jum’at
– Menunggu Punahnya Corona
– Komik Pendek Islami
– Jangan Pernah Menunda Ibadah
– Komik Islami Hitam Putih

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

“Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya.”
“Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.”
“Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta dan rasa hormat.”
“Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.”
“Apabila akal tidak sempurna maka kurangilah berbicara.”
“Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.”
“Orang yang berdoa tanpa beramal sama halnya seperti pemanah tanpa busur.”
“Memaafkan adalah kemenangan terbaik.”
“Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg menyia-nyiakan sahabat yg telah dicari.”
“Perkataan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi dari nenek moyang.”
“Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.”

Berikut ini beberapa kata bijak islam dari Abu Bakar Al-Shiddiq yang penuh nasehat dan motivasi. Membaca kumpulan kata bijak berikut ini, kita tidak hanya bisa mengetahui keutamaan dan akhlak seorang Abu Bakar Al-Shiddiq, tapi kita juga bisa memetik banyak hikmah dan nasihat yang bertebaran di dalamnya.

Orang Pemalu

A man who is shy and modest is an amazing character, but a woman who is shy and modest is beyond amazing. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Pria yang pemalu dan sederhana adalah karakter yang menakjubkan, namun wanita yang pemalu dan sederhana itu lebih menakjubkan lagi. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Jangan sombong

Beware of pride, because you will be returning to the earth and your body will be eaten up by the worms. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Waspadalah terhadap kesombongan, sebab pada akhirnya kamu kelak akan kembali ke tanah dan tubuhmu akan dimakan oleh cacing. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Mengharap kebaikan Allah

If you expect the blessings of God, be kind to His people. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Jika kamu mengharapkan berkah dari Allah, maka bersikap baiklah kepada hamba-Nya. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Menganggap remeh dosa

One of the worst sins is a person taking his sin lightly. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Salah satu dosa terburuk adalah seseorang yang menganggap remeh dosanya. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Memang sulit

It is difficult to be patient, but to waste the reward for patience is worse. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Memang sulit untuk bersabar, tapi menyia-nyiakan pahala dari sebuah kesabaran itu jauh lebih buruk. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Tak usah mengeluh

He who avoids complaint invites happiness. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Siapa yang menjauhkan diri dari sifat suka mengeluh maka berarti ia mengundang kebahagiaan. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Amal baik

Good actions are a guard against the blows of adversity. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Amal kebajikan adalah pengawal yang akan menjaga kita melawan serangan penderitaan. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Persaudaraan sesama muslim

Muslims should live like brothers. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Sesama Muslim seharusnya hidup seperti layaknya saudara. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Ilmu

Knowledge is the life of the mind. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Ilmu pengetahuan adalah kehidupan pikiran. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Kejujuran

The greatest truth is honesty, and the greatest falsehood is dishonesty. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Kebenaran terbesar adalah kejujuran, dan kepalsuan terbesar adalah ketidakjujuran. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Jangan merendahkan

Do not look down upon any Muslim, for even the most inferior believer is great in the eyes of God. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Jangan memandang rendah kepada setiap muslim, bahkan orang yang paling lemah imannya sekalipun adalah besar di mata Allah. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Mengharap surga

He who aspires to paradise should learn to deal with people with kindness. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Orang yang mengharapkan surga harus bisa belajar untuk berbuat baik kepada sesama manusia. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Membantu orang lain

Taking pains to remove the pains of others is the true essence of generosity. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Mau bersusah payah untuk menghilangkan penderitaan orang lain adalah esensi sejati dari kemurahan hati. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Pemimpin yang bijak

I have been given the authority over you, and I am not the best of you. If I do well, help me, and if I do wrong, set me right. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Aku telah terpilih menjadi pemimpin kalian, meskipun aku bukan orang yang terbaik di antara kalian. Karena itu, bantulah aku seandainya aku berada di jalan yang benar, dan bimbinglah aku seandainya aku berbuat salah. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Ilmu dan takwa

The more knowledge you have, the greater will be your fear of Allah. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Semakin banyak ilmu yang kamu miliki, maka semakin besar pula ketakwaanmu terhadap Allah. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Anehnya manusia

Man knows that he is weak, yet how strange it is that he continues to disobey the One that is Strongest of all. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Manusia tahu bahwa dirinya itu lemah, namun anehnya dia terus menerus tidak taat kepada Dia (Allah) Yang Maha Kuat. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Jangan kalah dari burung

It is a matter of shame that in the morning the birds should be awake earlier than you. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Adalah hal yang memalukan bahwa seekor burung justru bangun lebih awal daripada kamu di pagi hari. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Dekatnya kematian

Life comes to pass, yet Death is very much closer. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Hidup akan berlalu, namun Kematian sangatlah dekat. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Bersikap baik

He who fears to weep, should learn to be kind to those who weep. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Seseorang yang takut untuk menangis, maka dia pun harus belajar bersikap baik terhadap orang yang menangis. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Tanpa amal

He who enters the grave without provisions (good deeds), has, as if, he started swimming across the ocean without a vessel. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Barangsiapa memasuki kubur tanpa membawa bekal amal shalih, maka keadaannya seperti orang yang mengarungi lautan tanpa perahu. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Ilmu dan amal

Without knowledge, action is useless. And knowledge without action is futile. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Tanpa ilmu, amal itu tidak ada gunanya. Sedangkan ilmu tanpa amal adalah hal yang sia-sia. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Perlindungan Allah

It is by performing Salaah that a person secures Allah SWT’s protection on earth. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Dengan mengerjakan sholat, seseorang akan mendapat penjagaan dari Allah di muka bumi ini. – Abu Bakar Al-Shiddiq

Kata Kata Bijak Abu Bakar Al-Shiddiq
Murah hati

Bersedia menderita demi menghilangkan penderitaan orang lain adalah intisari dari kemurahan hati. – Abu Bakar

Hanya manusia biasa

Aku hanyalah manusia biasa dan aku bukanlah manusia terbaik di antara kamu. Apabila kalian lihat perbuatanku benar maka ikutilah aku, tapi bila kalian melihat perbuatanku salah maka betulkanlah. – Abu Bakar

Mengharap keberkahan

Jika kalian mengharapkan keberkahan dari Allah, berbuat baiklah terhadap hamba-hamba-Nya. – Abu Bakar

Dosa terburuk

Salah satu dosa terburuk adalah seseorang yang menganggap remeh dosanya. – Abu Bakar

Taatlah jika

Patuhilah aku selama aku patuh kepada Allah dan Rasulullah. Bila aku tidak mematuhi Allah dan Rasulullah maka jangan patuhi aku lagi. – Abu Bakar

Jangan sombong

Waspadalah terhadap kesombongan. Sebab pada akhirnya kamu kelak akan kembali ke tanah dan tubuhmu akan dimakan oleh cacing. – Abu Bakar

Seperti pohon

Jadilah seperti pohon yang tumbuh dan berbuah lebat. Dilempar dengan batu, tetapi membalasnya dengan buah. – Abu Bakar

Pembicaraan yang baik

Tidak ada pembicaraan yang baik, jika tidak diarahkan untuk memperoleh ridha Allah SWT. – Abu Bakar

Kecerdasan dan kebodohan

Kecerdasan yang paling cerdas adalah takwa, dan kebodohan yang paling bodoh adalah maksiat. – Abu Bakar

Hati yang kosong

Jika nasehat yang baik tidak memberikan pengaruh bagi perubahan seseorang, maka ketahuilah bahwa hatinya itu kosong. – Abu Bakar

Menemukan

Kami menemukan kedermawanan di dalam ketakwaan, kecukupan di dalam keyakinan, dan kemuliaan di dalam ketawadhu’an. – Abu Bakar

Terpujinya sifat malu

Pria yang pemalu dan sederhana adalah karakter yang menakjubkan, namun wanita yang pemalu dan sederhana itu lebih menakjubkan lagi. – Abu Bakar

Ibnu Al-Jauzi dalam bukunya yang bejudul “Sifāt al-Safwah” pernah meriwayatkan bahwa tatkala Abu Bakar sedang sakit, banyak orang yang menengoknya. Bahkan mereka menawarkan dokter yang bisa mengobati penyakitnya. Namun ditolak dengan halus. Karena ia merasa kematian telah berada di pelupuk matanya.

Salman al-Farisi meriwayatkan bahwa ketika  Abu Bakar yang sedang sakit, ia datang menengoknya  dan meminta nasehat terakhir dari ayah Aisyah tersebut.

“Wahai Khalifah, berikanlah nasehatmu kepadaku karena aku marasa engkau tidak bisa menasehatiku kecuali hari ini,” pinta Salman kepada Abu Bakar.

“Baiklah! Wahai Salman, nanti akan terjadi penaklukan di negeri orang kafir namun sungguh aku tidak tahu bagaimana nasibmu selanjutnya, apa yang engkau masukkan dalam perutmu dan engkau kenakan di atas punggungmu nantinya. Ketahuilah wahai Salman, barang siapa yang melakukan shalat lima waktu, maka ia akan berada dalam lindungan Allah SWT. Jangan  pernah membunuh ahlu zimmah jika engkau tidak ingin dituntut oleh Allah dan dicampakkan di neraka,” kata Abu Bakar kepada Salman.

Dalam bukunya “Al-Muhtadharun” , Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Dunya meriwayatkan bahwa tatkala Abu Bakar Al-Siddiq akan meninggal dunia, ia berpesan kepada Umar bin Al-Khatab ra. Pesan itu berbunyi, “Wahai Umar, bertakwalah kepada Allah SWT. Sesungguhnya ada perbuatan yang harus dikerjakan untuk Allah pada malam hari dan tidak diterima jika dikerjakan pada siang hari. Ada juga perbuatan yang harus dikerjakan untuk Allah pada siang hari dan tidak akan diterima jika dikerjakan pada malam hari. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan yang sunnah sebelum yang wajib dilaksanakan. Ketahuilah bahwa orang-orang yang memiliki  timbangan amalan kebaikan yang berat di akhirat, adalah mereka yang selalu mengikuti kebenaran di dunia. Kebenaran itulah yang memberatkan timbangan mereka. Sungguh, timbangan tidak akan menjadi berat kecuali di atasnya ada kebenaran.

Adapun orang-orang yang memiliki timbangan amal kebaikan yang ringan di akhirat adalah mereka yang  mengikuti kebatilan selama hidup di dunia. Kebatilan itulah yang membuat timbangan mereka menjadi ringan. Sungguh, timbangan tidak akan menjadi ringan kecuali di atasnya ada kebatilan. Tidakkah engkau tahu bahwa Allah menurunkan ayat yang mengandung harapan bersamaan dengan ayat yang mengandung kesulitan, dan ayat yang mengandung kesulitan bersamaan  ayat yang mengandung harapan? Hal ini dimaksudkan agar manusia selalu berharap dan takut kepada Allah, tidak membinasakan dirinya serta tidak memohon kepada Allah pada sesuatu yang tidak benar. Jika engkau menjaga wasiatku ini, maka tak ada satu pun yang paling engkau senangi dari yang hal yang gaib kecuali kematian. Jika engkau menyia-nyiakan wasiatku ini, maka tak ada satu pun yang paling engkau benci dari yang hal yang gaib kecuali kematian. Engkau pasti bisa melakukannya”.

Nasehat Abu Bakar Al-Siddiq mengingatkan kita pada akhirat. Ternyata dunia yang dibanggakan oleh banyak manusia hanya menjadi tempat persinggahan sementara dan semua akan ditinggalkan menuju kampung abadi yaitu akhirat. Tidak ada yang patut dibanggakan dalam diri kita, karena pada hakekatnya kita akan kembali pada Allah SWT.

Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki akhlak yang mulia. Karena ia setiap hari bertemu dan meniru perbuatan Nabi.

1. “Pria yang pemalu dan sederhana adalah karakter yang menakjubkan, namun wanita yang pemalu dan sederhana itu lebih menakjubkan lagi.”

2. “Barang siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu.”

3. “Semenjak aku masuk Islam, belum pernah kukenyangkan perutku, demi dapat merasakan segarnya beribadah; dan belum pernah pula aku puas minum, karena sangat rindunya aku kepada Ilah.”

4. “Ilmu pengetahuan adalah kehidupan pikiran.”

5. “Ikutilah jalan hidup yang ditunjukkan Nabi SAW suci kepadamu (Muhammad SAW), karena sesungguhnya itu adalah jalan yang benar.”

6. “Jika kamu mengharapkan berkah dari Allah, maka bersikap baiklah kepada hamba-Nya.”

7. “Seseorang yang takut untuk menangis, maka dia pun harus belajar untuk bersikap baik terhadap orang yang menangis.”

8. “Mau bersusah payah untuk menghilangkan penderitaan orang lain adalah esensi sejati dari kemurahan hati.”

9. “Bila telah masuk waktu salat, berdirilah kalian menuju ke tempat apimu yang sedang menyala dan padamkanlah ia.”

10. “Dia yang membangun masjid di jalan Allah SWT, maka Allah SWT membangun rumah untuknya di surga.”

11. “Memang sulit untuk bersabar, tapi menyia-nyiakan pahala dari sebuah kesabaran itu jauh lebih buruk.”

12. “Kita menemukan kedermawanan dalam taqwa (kesadaran akan Allah), kekayaan dalam yaqin (kepastian), dan kemuliaan dalam kerendahan hati.”

13. “Manusia tahu bahwa dirinya itu lemah, namun anehnya dia terus menerus tidak taat kepada Dia (Allah) Yang Maha Kuat.”

14. “Tanpa tindakan, pengetahuan tidak ada gunanya dan pengetahuan tanpa tindakan itu sia-sia.”

15. “Hidup akan berlaku, namun kematian sangatlah dekat.”

16. “Amal kebajikan adalah pengawal yang akan menjaga kita melawan serangan penderitaan.”

17. “Dengan mengerjakan salat, seseorang akan mendapat penjagaan dari ALLAH SWT di muka bumi ini.”

18. “Ah, ingin aku jadi rumput saja, supaya dimakan oleh kuda (karena sangat ngerinya akan siksaan Allah).”

19. “Jangan memandang rendah kepada setiap muslim, bahkan orang yang paling lemah imannya sekalipun adalah besar di mata Allah.”

20. “Tidak ada pembicaraan yang baik, jika tidak diarahkan untuk memperoleh ridha Allah SWT.”

Agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, kamu harus selalu berbuat baik. Jangan lupa jadilah manusia yang bisa berguna bagi orang lain.

21. “Waspadalah terhadap kesombongan, sebab pada akhirnya kamu kelak akan kembali ke tanah dan tubuhmu akan dimakan oleh cacing.”

22. “Tidak ada manfaat dari uang jika tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang jika kebodohannya mengalahkan kesabarannya.”

23. “Sesama Muslim seharusnya hidup seperti layaknya saudara.”

24. “Kami diuji dengan kesusahan, maka kami sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan (kemewahan), hampir-hampir kami tidak sabar.”

25. “Kebenaran terbesar adalah kejujuran, dan kebohongan terbesar adalah ketidakjujuran.”

26. “Siapa yang menjauhkan diri dari sifat suka mengeluh maka berarti ia mengundang kebahagiaan.”

27. “Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh di tepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah.”

28. “Setiap segala sesuatu itu ada kelebihannya. Maka janganlah suka meremehkan dan merendahkan.”

29. “Salah satu dosa terburuk adalah seseorang yang menganggap remeh dosanya.”

30. “Aku adalah manusia biasa dan aku bukanlah manusia yang terbaik di antara kamu. Apabila kalian lihat perbuatanku benar, maka ikutilah aku. Tapi bila kalian lihat perbuatanku salah, maka betulkanlah.”

31. “Ada kebesaran dalam rasa takut akan Allah SWT, kepuasan dalam beriman kepada Allah SWT, dan kehormatan dalam kerendahan hati.”

32. “Orang yang mengharapkan surga harus bisa belajar untuk berbuat baik kepada sesama manusia.”

33. “Tidak boleh seorang muslim menghina muslim yang lain. Yang kecil pada kaum muslimin, adalah besar pada sisi Allah.”

34. “Jika nasehat yang baik tidak memberikan pengaruh bagi perubahan seseorang, maka ketahuilah bahwa hatinya itu kosong.”

35. “Semakin banyak ilmu yang kamu miliki, maka semakin besar pula ketakwaanmu terhadap Allah.”

36. “Kecerdasan yang paling cerdas adalah takwa, dan kebodohan yang paling bodoh adalah maksiat.”

37. “Adalah hal yang memalukan bahwa seekor burung justru bangun lebih awal daripada kamu di pagi hari.”

1000+ Kata Mutiara Dan Nasehat Umar Bin Khattab

1. Jangan tertipu oleh orang yang membaca Alquran. Tapi lihatlah kepada mereka yang perilakunya sesuai dengan Alquran itu. – Umar bin Khattab

2. Duduklah bersama orang-orang yang mencintai Allah, karena bergaul bersama orang seperti mereka akan mencerahkan pikiran. – Umar bin Khattab

3. Perbanyaklah mengingat Allah, karena itu adalah obat. Jangan buat dirimu terlalu banyak mengingat manusia, karena itu adalah penyakit. – Umar bin Khattab

4. Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa. – Umar bin Khattab

5. Menjauhi dosa itu lebih ringan daripada menanggung rasa sakit dari sebuah penyesalan. – Umar bin Khattab

1. Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu dan tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan. – Umar bin Khattab

2. Jangan berlebihan dalam mencintai sehingga menjadi keterikatan, jangan pula berlebihan dalam membenci sehingga membawa kebinasaan. – Umar bin Khattab

3. Jikalau kita letih karena kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun jikalau kita bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal. – Umar bin Khattab

4. Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku. – Umar bin Khattab

5. Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya. – Umar bin Khattab

6. Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah lembut. – Umar bin Khattab

7. Aku khawatir akan datangnya hari di mana orang-orang yang tidak beriman merasa bangga dengan kedustaannya, sementara orang-orang yang beriman malu dengan keimanannya. – Umar bin Khattab

8. Jangan bersedih atas apa yang telah berlalu, kecuali kalau itu bisa membuatmu bekerja lebih keras untuk apa yang akan datang. – Umar bin Khattab

Konten Islami Lainnnya:

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

1. Ketahuilah sabar itu ada dua. Yang satu lebih utama daripada yang lain. Sabar pada waktu musibah itu baik. Yang lebih baik daripadanya lagi ialah sabar (menahan diri) dari yang diharamkan Allah. – Umar bin Khattab

2. Jadilah orang yang bermartabat, jujur dan selalu menyampaikan kebenaran. – Umar bin Khattab

3. Sabar adalah bahan ramuan paling menyehatkan dalam hidup kita. – Umar bin Khattab

4. Berpegang teguhlah pada kebenaran, bahkan meski kebenaran itu akan membunuhmu. – Umar bin Khattab

5. Jika pasanganmu sedang marah, maka kamu harus tenang. Karena ketika salah satunya adalah api, maka satu yang lainnya harus bisa menjadi air yang bisa meredam amarah itu. – Umar bin Khattab

6. Dari begitu banyak sahabat, tak kutemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala bentuk amal baik, namun tidak mendapati yang lebih baik daripada memberi nasehat yang baik. Aku mencari segala bentuk rezeki, tetapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. – Umar bin Khattab

7. Lidah akan terus berkata jujur selagi hatinya ikhlas dan luhur. – Umar bin Khattab

1. Cara terbaik untuk mengalahkan seseorang adalah mengalahkannya dengan kesopanan. – Umar bin Khattab

2. Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki pula oleh Allah pada apa yang nyata di wajahnya. – Umar bin Khattab

3. Biasakan diri dengan hidup susah, karena kesenangan tidak akan kekal selamanya. – Umar bin Khattab

4. Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku. – Umar bin Khattab

5. Hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya kunci keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, engkau tidak akan banyak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, engkau tidak akan tahan dalam menunaikan kewajiban. – Umar bin Khattab

6. Umar berkata, “Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur”. Mereka bertanya, “bagaimana suatu negeri bisa hancur padahal dia makmur?” Ia menjawab, “Jika pengkhianat menjadi petinggi dan harta dikuasai orang-orang fasik”. – Umar bin Khattab

7. Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu kenakan dan kamu tanggalkan sesuka hati. Wanita itu terhormat dan memiliki haknya. – Umar bin Khattab

8. Terkadang, orang dengan masa lalu paling kelam akan menciptakan masa depan yang paling cerah. – Umar bin Khattab

1. Janganlah kamu berburuk sangka dari kata-kata tidak baik yang keluar dari mulut saudaramu, sementara kamu masih bisa menemukan makna lain yang lebih baik. – Umar bin Khattab

2. Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku. – Umar bin Khattab

3. Jangan melupakan diri sendiri saat menyampaikan nasehat kepada orang lain. – Umar bin Khattab

4. Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu, karena celamu lebih banyak darinya. – Umar bin Khattab

5. Orang yang paling aku sukai adalah orang yang mau menunjukkan kesalahanku. – Umar bin Khattab

6. Orang yang mau menunjukkan di mana letak kesalahanmu, itulah temanmu yang sesungguhnya. Sedangkan mereka yang hanya menyebar omong kosong dengan selalu memujimu, mereka sebenarnya adalah para algojo yang justru akan membinasakanmu. – Umar bin Khattab

7. Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang berprasangka buruk kepadanya. – Umar bin Khattab

Berikut beberapa kata bijak Umar bin Khattab tentang ilmu:

1. Raihlah ilmu. Dan untuk meraih ilmu, belajarlah untuk tenang dan sabar. – Umar bin Khattab

2. Suatu pengetahuan (ilmu), kalaupun tidak bermanfaat untukmu, tidak akan membahayakanmu. – Umar bin Khattab

3. Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahapan kedua, maka dia akan rendah hati. Jika dia memasuki tahapan ketiga, maka dia akan merasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya. – Umar bin Khattab

4. Jangan sekali-kali kalian terkagum dengan bagusnya seseorang dalam menyampaikan ucapan (retorika). Tetapi seseorang yang menunaikan amanah dan menahan diri dari membicarakan kehormatan orang lain, dialah pria sejati (orang yang benar-benar mulia). – Umar bin Khattab

5. Manusia yang berakal adalah manusia yang suka menerima dan meminta nasehat. – Umar bin Khattab

6. Orang yang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu berpuasa, shalat, dan berjihad. Karena apabila orang berilmu mati, maka akan ada kekosongan dalam islam yang tidak dapat ditutup selain oleh penggantinya, yaitu orang berilmu juga. – Umar bin Khattab

1. Jangan tertipu oleh orang yang membaca Alquran. Tapi lihatlah kepada mereka yang perilakunya sesuai dengan Alquran itu. – Umar bin Khattab

2. Duduklah bersama orang-orang yang mencintai Allah, karena bergaul bersama orang seperti mereka akan mencerahkan pikiran. – Umar bin Khattab

3. Perbanyaklah mengingat Allah, karena itu adalah obat. Jangan buat dirimu terlalu banyak mengingat manusia, karena itu adalah penyakit. – Umar bin Khattab

4. Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa. – Umar bin Khattab

5. Menjauhi dosa itu lebih ringan daripada menanggung rasa sakit dari sebuah penyesalan. – Umar bin Khattab

6. Bersabarlah, karena kesabaran adalah sebuah pilar keimanan. – Umar bin Khattab

7. Jagalah shalatmu. Karena saat kamu kehilangan shalat, maka kamu akan kehilangan segalanya. – Umar bin Khattab

8. Keyakinan (iman) adalah di mana seharusnya tidak ada perbedaan antara perbuatan, perkataan, dan apa yang kamu pikirkan. – Umar bin Khattab

9. Ajaklah seseorang kepada Islam meski tanpa melalui kata-kata. Mereka bertanya, “Bagaimana caranya?” Dia menjawab, “Dengan akhlakmu” – Umar bin Khattab

1. Umar melayangkan surat kepada Abu Musa Al Asyari: “Barang siapa yang niatnya tulis dan ikhlas niscaya Allah memberinya kecukupan antara dia dan orang lain.”

2. Umar berkata, “Bertemu dan mengunjungi saudara dapat menghilangkan perasaan duka dan sedih. Maka, jika Allah memberimu karunia mendapatkan  cinta dan kasih sayang seseorangm maka indahkanlah.”

3. “Jauhilah rasa kenyang. Karena itu akan memberatkan hidupmu dan menyusahkan kematianmu.”

4. “Dulunya kami adalah orang-orang yang hina. Kemudian Allah mengangkat derajat kamo dengan Islam. Seandainya kami menginginkan kemuliaan dari selain Islam, sungguh Allah akan mencela dan menghina kami.”

5. “Laki-laki sejati bukanlah yang kuat gertakan dan hentakan ancamannya. Teta;i yang bisa menjalankan amanah dengan baik dan menjaga kehormatan orang lain.”

6. “Perbanyaklah anggota keluarga. Sungguh kalian tidak mengetahui melalui tangan siapa rezeki itu datang.”

7. “Jika ada hewan kendaraan di Irak, maka Allah menanyakan tentang itu kepadaku, “Mengapa kendaraan itu tidak bisa berjalan wahai Umar?”

8. “Sungguh seorang hamba yang tawadhu karena Allah semata niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, dan berkata, “Bangkit dan tegaklah, sungguh Allah telah mengangkat derajatmu!”

9. “Perbanyaklah duduk bersama orang-orang yang bertaubat. Sungguh mereka adalah orang-orang yang berhati lembut.”

10. “Saya tidak pernah peduli apa yang menimpa hidupku. Apa yang saya cintai ataupun benci. Karena sesungguhnya saya tidak tahu apakah yang saya cintai atau yang saya bencit itu baik untuk saya atau tidak.”

11. Umar berkata kepada Abu Musa Al Asyari, “Sama ratakanlah semua orang di hadapanmu dalam keadilan dan sewaktu bersama denganmu. Jangan sampai orang yang terpandang berbuat tamak dan orang yang lemah merasa putus asa dengan keadilanmu!”

12. “Saya mendapat kabar, bahwa doa itu dihimpit dan dikekang di antara langit dan bumi, tidak bisa naik ke atas sampai diucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad,”

13. Umar berkata, “Sungguh ada orang yang seumur hidupnya menentang dan menjadi penyakit dalam agama Islam ini dan tidak menyempurnakan shalatnya karena Allah.” Umar lalu ditanya, “Bagaimana bisa begitu?” Umar bin Khattab berkata, “Orang tersebut tidak melengkapi rukuk, sujud, khusyu, dan tawadhu ketika shalat menghadap Allah.”

14. Umar berdoa, “Ya Allah, muliakanlah orang-orang yang Engkau pilih di antara kami, agar mereka bisa membantu orang-orang yang membutuhkan di antara kami.”

15. “Sungguh amalan-amalan itu saling angkuh dan membanggakan diri antara satu dengan yang lain. Amal sedekah akan berkata, “Akulah yang lebih mulia dari amalan lain.”

16. “Bersikap jujurlah walau nyawa taruhannya! Saya lebih menyukari kejujuran walau membuat diri menjadi rendah – sekecil apapun – daripada berbuat bohong untuk mengangkat derajat walau hanya sedikit.”

17. Ada tiga jenis orang ketika menghadapi masalah:

Pertama, menyelesaikan masalah dengan idenya yang justru semakin merusak.

Kedua, menyelesaikan masalah dengan berkonsultasi dan memusyawarahkan kepada yang lebih ahli.

Ketiga, bingung dan tidak menyelesaikan masalah, tetapi tidak mau mencari solusi dan tidak mau mendengar saran dan solusi orang lain.”

18. “Tiga hal yang membuat Anda dicintai dan disayang saudara:

Pertama, mengucapkan salam

Kedua, melapangkan dan memberinya tempat duduk dalam suatu pertemuan

Ketiga, memanggilnya dengan panggilan yang paling disukainya.”

19. “Jangan pernah membiarkan istri sendiri, walau Anda mengajarinya menghafal Alquran.”

20. “Jangan pernah menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin kalian. Karena mereka menerima dan menghalalkan suap. Ketahuilah! Sungguh agama ALlah mengharamkan suap menyuap.”

Umar bin Khattab RA merupakan sosok yang mulia dan agung. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ يَقُولُ بِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Yahya bin Khalaf berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la dari Muhammad bin Ishaq dari Makhul dari Ghudlaif bin Al Harits dari Abu Dzar ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan Umar yang senantiasa dia ucapkan.”

Sementara, Ali bin Abi Thalib menyebutkan: “Orang yang paling baik dari kalangan umat ini, setelah Nabi SAW, adalah Abu Bakar, selanjutnya Umar.”

21. “Janganlah sekali-kali orang-orang yang tidak mengerti agama dan tidak bisa menimbang timbangan dengan adil, berdagang di pasar!”

22. Tuntutlah ilmu. Dan, belajarlah dari ilmu itu tentang ketentraman dan kelemah-lembutan!”

23. “Bergaullah dengan budi pekerti mulia, dan jadikanlah orang-orang sebagai sahabat dalam beramal dan beribadah!”

24. “Setiap orang yang dianugerahi nikmat pasti ada saja orang yang dengki kepadanya. Ketahuilah! Seandainya setiap orang bisa lebih kuat dari sebatang tanaman gandum, maka pasti ada saja angin yang akan menggoyahkannya. Satu kalimat tajam yang terucap mengenai sasaran tidak akan ada yang mendengarkannya!”

25. “Barang siapa yang datang ke Baitullah dengan ikhlas tanpa ada niat lain, kemudian bertawaf, maka orang tersebut akan suci layaknya ketika dia keluar dari rahim ibunya.”

26.”Umar berkata kepada Saad bin Abi Waqqash, “Sungguh Allah jika mencintai hamba-Nya, maka Dia akan membuat orang lain mencintai hamba-Nya. Maka Dia akan membuat orang lain mencintai hambNya itu. Maka, perhatikanlah terus kedudukanmu di hadapan Allah sebagaimana kedudukanmu di depan rakyat. Dan ketahuilah, bahwa apa yang ada di tanganmu, di mata Allah adalah seperti yang ada di mata mereka.”

27. “Hidup sendiri lebih baik dari pada berteman dengan orang jahat!”

28. “Orang berakal bukan berarti bisa mengenali mana yang baik dan yang buruk. Tetapi orang berakal adalah yang mengetahui mana yang lebih baik dari dua hal buruk.”

29. “Setiap sesuatu ada pucuknya. Dan pucuk kebaikan adalah menyegerakannya.”

30. Seringkali Umar berpidato dan berkata, “Saya adalah yang beruntung di antara kalian, karena saya bisa menjaga sifat rakus dan tamak, nafsu dan amarah.”

31. “Jika zaman sudah rusak, maka jagalah jangan sampai orang-orang bersuuzhon (Buruk sangka) terhadap kebenaran. Janganlah orang muslim memberi alasan kepada orang yang berbuat ghibah, walaupun yang dikatakan itu benar! Jangan pernah membantu niat ghibahnya meskipun untuk kebaikan dan kejujuran! Sebab perbuatan itu adalah adab yang tercela dan tidak menjaga diri dan kepribadian. Sungguh penghibah yang jujur pasti membuka dan menyingkap keburukan yang ditutupi-tutupi, menginjak hal yang dihormati, tidak memelihara harga diri dan kehormatan orang lain.”

32. “Jika ada hamba Allah yang sombong dengan mengulur-ulur janjinya, kelak Allah pasti mencelanya dan mengatakan, “Pergilah, ALlah mencelamu!” Orang tersebut telah berbuat sombong terhadap dirinya. Di mata orang-orang dirinya hina, tak berarti. Sampai-sampai dia tidak lebih hina dari seekor babi.”

33. “Barang siapa yang ingin menutupi rahasia diri, pilihan itu ada di tangannya sendiri. Barang siapa yang membuka tabir keburukan, maka jangan salahkan jika orang-orang akan bersuuzhon terhadap dirinya.”

34. “Seseorang menjadi terpandang dan diperhitungkan orang-orang karena hartanya, kehormatannya, agamanya (Kesalahena), kepribadiannya, dan akhlak serta budi pekertinya.”

35. “Masjid-masjid adalah rumah-rumah Allah yang ada di bumi. Orang yang shalat di dalamnya adalah tamu Allah. Sudah barang tentu, kewajiban yang dikunjungi adalah menghormati tamunya.”

36. “Ingatlah neraka! Panasnya sangat menyengat. Kedalamannya yang curam sangat mencekam. Dinding dan corongnya terbuat dari besi panas.”

37. Wanita itu ada tiga golongan:

Pertama, wanita lembut yang menjaga kehormatan dan muslimah, memelihara keluarganya, menghadapi hidup, dan memelihara kehidupan untuk keluarganya.

Kedua, wanita yang perhatian kepada anak.

Ketiga, wanita seperti kutu yang harus dan menghisap pundak orang-orang yang dikehendaki Allah.

38. “Menikah adalah kewajiban, kecuali karena lemah dan takut berbuat zhalim.”

39. “Di antara doa Umar bin Khattab:

“Ya Allah, sungguh kami mohon kepada-Mu kebaikan saat-saat ini, dan keberkahan dalam waktu!”

40. “Jauhilah orang-orang yang berdalil menurut pendapatnya. Mereka adalah musuh-musuh sunnah. Mereka menghafal hadits, tetapi berbicara berdasarkan pendapatnya. Ketahuilah, mereka sesat dan menyesatkan.”

41. “Sungguh yang melekatkan cinta dan kasih sayang saudaramu adalah memulai salam kepadanya ketika bertemu, memanggilnya dengan nama yang paling disukainya, dan melapangkan dalam pertemuannya.”

42. “Jadikanlah orang-orang yang jujur sebagai saudara dan hiduplah bersama mereka! Sungguh mereka adalah perhiasan, kebahagiaan hidup, dan pelipur lara saat duka.”

43. “Janganlah mereka mencela saudaramu jika dia sedang berujuzur!”

44. “Istiqomah adalah konsisten antara menjaga perintah dan larangan. Jangan melakukan rekayasa seperti tipu daya serigala.”

45. Tiga perkara yang menghindahkan cinta dan kasih sayangmu. Kepada saudara, ucapkan salam kepadanya terlebih dahulu, lapangkanlah tempat duduknya dalam pertemuan, dan panggillah dengan sebutan yang paling disukainya.”

46. Umar bin Khattab menuliskan surat kepada putranya Abdullah, “Ayah wasiatkan kepadamu: Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Dia mencukupkan dan melindungi orang yang bertakwa kepadaNya. Barang siapa yang memberikan pinjaman akna diberi balasan. Barang siapa yang bersyukur akan ditambahkan rezekinya. Karena itu, jadikanlah ketakwaaan sebagai pilar penglihatan dan cahaya hatimu.”

47. “Sungguh di setiap pundak manusia ada hikmah. Ada malaikat yang ditugaskan untuk mencatat. Allah berkata kepada malaikat tersebut, “JIka hamba-ku ini tawadhu (Rendah hati), maka angkatlah derajatnya. Tapi jika dia meninggi, maka rendahkanlah dia.”

48. “Hak para jiran tetangga adalah mendapatkan seluas-luasnya kebaikanmu dan tidak menyaktinya.”

49. “Umar melayangkan sepucuk surat kepada Muawiyah, “Tegakkanlah kebenaran! Sungguh Allah akan menempatkan kedudukanmu bersama orang-orang yang menegakkan yang benar pada hari di mana tidak ada hukum yang berbicara kecuali kebenaran.”

50. “Orang yang sedikit rasa malunya sedikit pula sifat wara’nya. Dan, barang siapa yang sedikit kewaraannya, hatinya pasti mati.”

51. “Jika terdengar suara yang memanggul dari langit mengatakan, “Wahai manusia sekalian! Kalian semua masuk ke dalam surga, kecuali satu orang, sungguh saya benar-benar takut jika orang itu adalah saya.”

52. “Janganlah pernah berhutang, karena awal dan akhirnya hanyalah perselisihan.”

53. “Ajari dan didiklah anak-anak kalian dan shalatkanlah saudara seiman dan sedarah! Demi Allah, sungguh antara seseorang dengan saudaranya ada suatu penghalang. Jika saja dia tahu penghalang itu, maka ketika di rahim dia pasti akan mencabutnya.”

54. “Barang siapa yang banyak bicara, banyak pula salahnya.”

55. “Dalam keputusasaan itu ada kekayaan. Dalam ketamakan ada kemiskinan. Ketahuilah! menyendiri itu memberikan ketenangan, ketentraman dari bisikan kejahatan dan keburukan.”

56. “Tinggalkanlah musuhumu, dan waspadalah terhadap temanmu, kecuali yang terpercaya! Karena orang kepercayaan adalah yang takut kepada Allah.”

57. “Janganlah berteman dengan orang-orang yang jahat untuk mempelajari dunia hitam (kejahatan)! Jauhilah musuhmu! Dan, berhati-hatilah terhadap temanmu, kecuali yang terpercaya. Ingatlah! Orang kepercayaan adalah yang takut kepada Allah, khidmat dan khusyu, ketika di kuburan mengingat mati, merasa hina dalam ketaatan, menjaga diri dari maksiat. Berkonsultasilah kepada orang-orang yang takut kepada Allah!”

58. Ada suatu daerah yang nyaris hancur, padahal daerah itu sudah dibangun dan berkembang. Umar bin Khattab lalu ditanya, “Bagaimana bisa ada kampung yang hancur, padahal sudah dibangun kokoh dan berkembang?” Umar menjawab, “Jika para pembuat dosa lebih hebat dari pada orang-orang yang baik di daerah itu, kemudian pemimpin dan tokoh masyarakatnya adalah orang-orang munafik.”

59. “Janganlah membebani pajak kepada rakyat, kecuali kepada para pengusaha dan yang berpendapatan besar!” Sungguh jika kalian membebani orang-orang ini, maka karunia dan rezeki semakin banyak. Janganlah membenani orang yang berpendapatan kecil! Sebab jika dia tidak punay pendapatan kemudian mencuri, maka maafkanlah, karena Allah akan memaafkan kalian. Dan, makanlah dari hasil yang bersih.”

60. “Memaafkan yang paling afdhal adalah ketika kuat dan sanggup. Dan sebaik-baik kesengajaan adalah ketika bersungguh-sungguh (berniat).”

61. “Perbanyaklah berdzikir mengingat Allah, karena itu adalah obat! Hindarilah mengingat manusia, karena itu penyakit!”

62. “Semakin banyak tertawan, maka semakin tampak kekurangannya dan terhalang keindahan dirinya.”

63. “Tinggalkanlah amal dan pekerjaan yang membuatmu takut mati! Karena pekerjaan tersebut tidak akan membahayakanmu setelah mati.”

64. “Sesungguhnya yang paling saya takutkan dari kalian semua adalah orang yang berilmu, tetapi munafik. Sahabat Uamr bertanya, “Bagaimana bisa seorang munafik itu berilmu?” Umar bin Khattab berkata, “Bicaralah hikmah. Tetapi kelakuan atau perbuatannya dosa, dan perkataannya mungkar.”

65. “Berlindunglah kepada Allah dari kejahatan perempuan. Dan, jadilah laki-laki dambaan wanita yang waspada dan mawas diri!”

66. Saat Umar menangis, Ibnu Abbas atau orang lain ada yang mengajaknya bicara dan memujinya. Kemudian Umar berkata, “Orang menjadi angkuh, karena kalian membuatnya angkuh. Seandainya saja ibuku belum melahirkanku.” Lalu Umar menyampaikan beberapa wasiat.

67. “Ada perbedaan di dalam kebutuhan hidup. Yang paling saya khawatirkan dari kalian adalah ketika kebutuhan itu sedikit, akan tetapi merasa tidak ada kekurangan dan tidak disertai dengan perbaikan. Sedangkan yang bnyak tidak tersisa dan disertai kerusakan.”

68. “Barang siapa yang malu terhadap Allah, pasti aibnya selalu dijaga ALlah.”

69. “Merasa cukup yang disertai niat yang baik, lebih baik daripada banyak disertai pemborosan.”

70. Pada suatu saat Umar bin Khattab bertemu dengan dua orang laki-laki yang saling menyombongkan diri. Umar berkata kepada mereka, “Kalau saja kalian adalah orang yang bertakwa, maka harus benar-benar bertakwa. Seandainya ada hitang di antara kalian, hitunglah! Jika kalian berakal, mestinya menjaga harga diri. Apabila kalian punya harta dan biasa mendermakannya niscaya kalian mendapat kemuliaan. Kalau tidak ada di antara smeua itu, maka kalian lebih parah dari dua ekor keledai. Kalau saya masih melihat kalian saling menyombongkan diri seperti ini, saya akan melagakan kepala kalian berdua.”

71. Dikisahkan ada seorang laki-laki yang mendatangi Umar dan berbicara terlalu banyak. Umar bin Khattab lalu berkata kepadanya, “Terlalu banyak bicara disenangi setan.”

72. “Ide dan pendapat itu banyak, tetapi sedikit yang benar-benar baik.”

73. Umar bin Khattab pernah berkata, “Allah menyayangi orang yang mendermakan sisa hartanya dan memegang teguh sisa ucapannya.”

74. “Janganlah engkau tertipu dengan perawakan seseorang sampai dia terlihat marah. Dan jangan pula terperdaya dengan agama (Kesalehannya) sampai tampak sifat tamaknya.”

75. Pada suatu hari Umar bin Khattab melintas di depan Shafwan bin Khalaf Al Jamhi. Dia berkata, “Saya anak saluran air itu, tali airnya dan tempat keranjang adalah pengemisnya.”

Umar bin Khattab berkata, “Jika kami adalah orang yang bertakwa, pastilah kamu orang yang mulia. Kalau perawakanmu baik, sudah barang tentu punya kepribadian yang baik pula. Kalau saja kamu adalah orang yang berakal, pasti punya asal-usul. Jika tidak, maka kamu lebih buruk daripada seekor anjing atau keledai.”

76. “Tidak ada sesuatu di dunia ini yang lebih bermanfaat dan lebih tepat dalam masalah agama, kecuali firman Allah itu sendiri.”

77. Umar bin Khattab berkata kepada seorang laki-laki yang tangannya terluka, “Obatilah walau hanya dengan tulang.”

78. Pada suatu hari Umar berjalan melewati anak-anak yang sedang asyik bermain pasir. Umar berkata, “Pasir itu seperti suasana musim semi bagi anak-anak.”

79. “Masalah tidak bisa diselesaikan, kecuali dengan ketegasan tanpa paksaan, dan dibarengi dengan cara lembut tapi tidak disepelekan.”

80. “Orang yang paling mencintai kami di antara kalian sebelum kami mengatakannya adalah yang lebih memilih untuk diam. Apabila dia berbicara, kata-katanya masuk akal. Dan kalau kami mengujinya, maka dia akan berbuat lebih baik.”

81. “Saya akan mengadukan orang jujur yang lemah dan orang kuat yang berkhianat hanya kepada Allah.”

82. “Orang yang lebih berakal akan lebih mudah dimaafkan orang lain.”

83. “Kuasailah nafsu syahwat! Sebab jika lepas, maka ia akan lari kepada kejahatan. Sungguh yang hak itu berat dan pahit. Sedangkan kebatilan dan kejahatan itu ringan dan mencemarkan. Ingatlah, bahwa meninggalkan kesalahan lebih baik daripada melakukan taubat. Ketahulah! Melihat yang tidak baik walau sedetik akan menimbulkan syahwat dan tertanam dalam benak. Jika sampai satu jam, hasrat syahwat itu pasti menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan.”

84. “Bekerja itu mulia dan terpuji. Sedangkan waktu kosong dan menganggur itu merusak.”

85. “Jika saya mendapatkan laporan dan berita, bahwa pegawai, pekerja bawahanku berbuat zhalim kepada orang lain dan saya sendiri acuh tak acuh, tidak pedulu atau menyelesaikannya, berarti saya sudah berbuat zhalim”

86. “Tuntutlah ilmu, dan belajarlah darinya tentang ketentraman dan lemah lembut! Bersikap rendah hatilah (Tawadhu) kepada guru-gurumu! Supaya murid-muridmu juga berbuat demikian terhadapmu. Jangan pernah menjadi ulama yang merasa hebat, kuat, dan paling benar! Karena ilmu tidak akan pernah pada kebodohan kalian.”

87. “Cari dan pelajarilah keterampilan dan bakat. Karena pada suatu saat, ia akan dibutuhkan.”

88. Ada beberapa kriteria orang yang tidak baik:

Pertama, tetangga yang jika mendapati kebaikan disembunyikan. Tetapi, jika mendapati keburukan disebarluaskan.

Kedua, Sitri jika engkau bersamanya, dia mengaturmu. Apabila engkau sedang tidak di rumah, dia tidak membuatmu tenang dan tidak menghiraukannya.

Ketiga, pejabat yang tidak pernah memuji rakyat. Jika ada yang berbuat kasar kepadanya, dia langsung membunuh.

89. Ada tiga perkara yang merusak:

Pertama, bakhil atau kikir.

Kedua, mengikuti hawa nafsu.

Ketiga, berbangga dengan dirinya sendiri (ujub)

90. “Bergaullah dengan bermodalkan akhlak dan dekatilah mereka dengan amal ibadah.”

91. “Dekat dengan orang kaya adalah fitnah bagi fakir miskin.”

92. “Orang yang paling saya cintai adalah yang menyampaikan aib dan kekurangan saya langsung kepada saya.”

93. “Orang yang baik harus menjadi pemimpon bagi orang yang jahat.”

94. “Jangan jadikan cintamu beban hidup dan bencimu perusak diri.”

95. “Menemui saudara-saudara dapat menghilangkan sedih dan duka.”

96. “Seandainya rasa syukur dan sabar itu adalah dua kendaraan, maka yang mana saja di antara keduanya yang saya kendarai.”

97. “Sungguh, khamar itu minuman paling ampuh untuk merusak akal dan berbuat tamak.”

98. “Orang-orang yang bertawakal adalah orang yang selalu menebar citanya di bumi dan berserah diri kepada Allah.”

99. Ketahuilah, mereka yang mengandalkan ligika, berbicara dengan pendapatnya adalah musuh-musuh sunnah. Perhatian mereka besar kepada hadits-hadits dan dihafal. Tetapi, setelah itu mereka mengeluarkan fatwa sesuka hati sesuai dengan pendapat mereka. Mereka sesat dan menyesatkan. Ketahuilah, kita ini meniru, bukan memulai sesuatu, kita mengikuti jejak dan bukan membuat yang baru (bid’ah). Keteguhan kita terhadap apa yang kita lakukan tidak akan menyesatkan.”

100. “Ketahuilah! Setiap orang yang diberi amanah mengurus kaum muslimin harus berlaku seperti seorang budak kepada tuannya, memberi nasihat, dan menjalankan amanah.”

1. “Jangan bersedih atas apa yang telah berlalu, kecuali kalau itu bisa membuatmu bekerja lebih keras untuk apa yang akan datang.”
2. “Terkadang, orang dengan masa lalu paling kelam akan menciptakan masa depan yang paling cerah.”
3. “Aku khawatir akan datangnya hari di mana orang-orang yang tidak beriman merasa bangga dengan kedustaannya, sementara orang-orang yang beriman malu dengan keimanannya.”
4. “Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku.”
5. “Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah akan datangnya hari besar ditampakkannya amal.”
6. “Biasakan diri dengan hidup susah, karena kesenangan tidak akan kekal selamanya.”
7. “Menjauhi dosa itu lebih ringan daripada menanggung rasa sakit dari sebuah penyesalan.”
8. “Jika salah satu dari kalian tergelincir (dalam perbuatan dosa), perbaiki dia, doakan dia dan jangan bantu setan mendekatinya.”
9. “Mohonlah pertolongan kepada Allah agar menolong kalian melawan nafsu jahat kalian, sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian.”
10. “Tidak ada jalinan hubungan antara Allah dengan siapapun kecuali melalui ketaatan kepada-Nya.”
11. “Jikalau kita letih karena kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun jikalau kita bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal.”
12. “Jika pasanganmu sedang marah, maka kamu harus tenang. Karena ketika salah satunya adalah api, maka satu yang lainnya harus bisa menjadi air yang bisa meredam amarah itu.”
13. “Jangan tertipu oleh orang yang membaca Alquran. Tapi lihatlah kepada mereka yang perilakunya sesuai dengan Alquran itu.”
14. “Dari begitu banyak sahabat, tak kutemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala bentuk amal baik, namun tidak mendapati yang lebih baik daripada memberi nasihat yang baik. Aku mencari segala bentuk rezeki, tetapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar.”
15. “Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu, karena celamu lebih banyak darinya.”
16. “Ketahuilah sabar itu ada dua. Yang satu lebih utama daripada yang lain. Sabar pada waktu musibah itu baik. Yang lebih baik daripadanya lagi ialah sabar (menahan diri) dari yang diharamkan Allah.”
17. “Duduklah bersama orang-orang yang mencintai Allah, karena bergaul bersama orang seperti mereka akan mencerahkan pikiran.”
18. “Hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya kunci keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, engkau tidak akan banyak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, engkau tidak akan tahan dalam menunaikan kewajiban.”
19. “Jika engkau ingin memuji seseorang, maka pujilah Allah, karena tak ada yang melebihi dalam memberi kepadamu, lebih lembut dan lebih santun selain Allah.”
20. “Orang yang mau menunjukkan di mana letak kesalahanmu, itulah temanmu yang sesungguhnya. Sedangkan mereka yang hanya menyebar omong kosong dengan selalu memujimu, mereka sebenarnya adalah para algojo yang justru akan membinasakanmu.”

21. “Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”
22. “Jadilah orang yang bermartabat, jujur dan selalu menyampaikan kebenaran.”
23. “Perbanyaklah mengingat Allah, karena itu adalah obat. Jangan buat dirimu terlalu banyak mengingat manusia, karena itu adalah penyakit.”
24. “Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu dan tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan.”
25. “Bersabarlah, karena kesabaran adalah sebuah pilar keimanan.”
26. “Jagalah shalatmu. Karena saat kamu kehilangan shalat, maka kamu akan kehilangan segalanya.”
27. “Berpegang teguhlah pada kebenaran, bahkan meski kebenaran itu akan membunuhmu.”
28. “Ya Allah, sesungguhnya aku ini orang yang keras, maka lunakkanlah aku. Sesungguhnya aku adalah orang yang lemah, maka kuatkanlah aku. Sesungguhnya aku adalah orang yang bakhil, maka jadikanlah aku orang yang dermawan.”
29. “Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku.”
30. “Jangan berlebihan dalam mencintai sehingga menjadi keterikatan, jangan pula berlebihan dalam membenci sehingga membawa kebinasaan.”
31. “Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, kehormatan dirinya pasti akan terjaga.”
32. “Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah lembut.”
33. “Janganlah kamu berburuk sangka dari kata-kata tidak baik yang keluar dari mulut saudaramu, sementara kamu masih bisa menemukan makna lain yang lebih baik.”
34. “Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki pula oleh Allah pada apa yang nyata di wajahnya.”
35. “Lidah akan terus berkata jujur selagi hatinya ikhlas dan luhur.”

36. “Manusia yang berakal adalah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat.”
37. “Sabar adalah bahan ramuan paling menyehatkan dalam hidup kita.”
38. “Cara terbaik untuk mengalahkan seseorang adalah mengalahkannya dengan kesopanan.”
39. “Raihlah ilmu. Dan untuk meraih ilmu, belajarlah untuk tenang dan sabar.”
40. “Keyakinan (iman) adalah di mana seharusnya tidak ada perbedaan antara perbuatan, perkataan, dan apa yang kamu pikirkan.”
41. “Ya Allah, sesungguhnya aku ini orang yang keras, maka lunakkanlah aku. Sesungguhnya aku adalah orang yang lemah, maka kuatkanlah aku. Sesungguhnya aku adalah orang yang bakhil, maka jadikanlah aku orang yang dermawan.”
42. “Mahkota seseorang adalah akalnya. Derajat seseorang adalah agamanya. Sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya.”
43. “Jangan melupakan diri sendiri saat menyampaikan nasihat kepada orang lain.”
44. “Zuhud (kesederhanaan) yang paling utama adalah menyembunyikan kezuhudan tersebut.”
45. “Suatu pengetahuan (ilmu), kalaupun tidak bermanfaat untukmu, tidak akan membahayakanmu.”
46. “Jangan sekali-kali kalian terkagum dengan bagusnya seseorang dalam menyampaikan ucapan (retorika). Tetapi seseorang yang menunaikan amanah dan menahan diri dari membicarakan kehormatan orang lain, dialah pria sejati (orang yang benar-benar mulia).”
47. “Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahapan kedua, maka dia akan rendah hati. Jika dia memasuki tahapan ketiga, maka dia akan merasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya.”
48. “Orang yang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu berpuasa, shalat, dan berjihad. Karena apabila orang berilmu mati, maka akan ada kekosongan dalam islam yang tidak dapat ditutup selain oleh penggantinya, yaitu orang berilmu juga.”
49. “Raihlah ilmu. Dan untuk meraih ilmu, belajarlah untuk tenang dan sabar.”
50. “Duduklah bersama orang-orang yang mencintai Allah, karena bergaul bersama orang seperti mereka akan mencerahkan pikiran.”

Suatu hari, Umar pernah mengirimkan surat kepada  anaknya Abdullah bin Umar.  Dalam surat tersebut, ada 7 nasihat yang disampaikan Umar kepada anaknya:

Pertama, wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, karena barang siapa yang bertakwa kepada-Nya, maka kemanapun ia berada, Allah SWT akan senantiasa melindunginya.

Kedua, wahai anakku, barang siapa yang bersyukur, maka Allah SWT akan menambahkan nikmat tersebut.

Ketiga, wahai anakku, jadikanlah ketakwaan sebagai pelindung kedua matamu dan pengingat hatimu dari segala bentuk kemaksiatan.

Keempat, wahai anakku, berniatlah ketika akan melakukan sesuatu, karena amal perbuatan yang tidak disertai dengan niat dianggap tidak ada.

Kelima, wahai anakku, seseorang tidak akan mendapatkan pahala, jika tidak ada timbangan amal kebaikannya.

Keenam, wahai anakku, seseorang tidak akan memperoleh kekayaan, jika tidak memiliki keramahan dan kelembutan hati.

Ketujuh, wahai anakku. seseorang tidak akan bisa mendapatkan sesuatu yang baru, jika tidak belajar dari sesuatu yang lama.”

Umar bin Khattab adalah khalifaur rasyidin yang kedua. Ia adalah sosok yang sangat disegani dan begitu dihormati oleh penduduk Mekkah.

Umar bin Khattab berasal dari suku Quraisy. Ia merupakan putra dari salah seorang pembesar Quraisy yang bernama Al-Khattab dan Hanthamah.

Sebelum memeluk Islam, Umar bin Khattab adalah sosok yang sangat-sangat membenci Rasulullah dan umat Islam. Ia adalah musuh Islam yang paling utama sebelum memutuskan untuk mengikuti Rasulullah SAW.

Ketika masa jahiliyah, hampir semua urusan kaum Quraisy diserahkan kepada Umar. Apabila terjadi sengketa antar orang Quraisy dan suku lainnya, ia adalah orang yang diutus kaumnya.

Bahkan dulu saking bencinya ia dengan Islam, pernah ada yang mengatakan,”Kendati keledai di Mekkah masuk Islam, Umar bin Khattab sesekali tak akan pernah masuk Islam.”

Puncak kebenciannya terhadap ajaran Islam adalah ketika ia sendiri memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW.

Namun di tengah perjalanannya, ia mendengar bahwa adiknya, Fathimah, telah memutuskan untuk masuk Islam dan mengikuti ajaran Muhammad. Umar pun langsung pulang ke rumah dan hendak menghukum Fathimah dengan segala kemarahan yang membuncah.

Lalu hidayah itu pun datang. Ketika ia mendengar Fathimah membaca Al-Quran surat At-Thoha ayat 1-8, Umar pun memutuskan untuk mengikuti ajaran Islam.

Sejarah pun mencatat, seseorang yang dulunya terkenal paling keras menentang Islam dan paling kejam menyiksa para pengikut Rasulullah kini menjadi pembela Rasulullah paling berani.

Kemudian Umar bin Khattab menjadi orang terdepan dalam membela Islam dan selalu melindungi Rasulullah. Kehadiran Umat yang begitu disegani dan amt berani membuat Islam semakin kuat.

Umar bin Khattab kemudian mendapat julukan Al-Faruq. Julukan itu ia peroleh karena keberaniannya dalam memisahkan antara kebenaran dan kebathilan.

Dalam lembaran sejarah Islam, ia kemudian memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin sebagai Khalifah setelah wafatnya Abu Bakar Al-Shiddiq.

Kata Kata Mutiara Islam Sahabat Umar bin Khattab
Sebagai salah seorang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga, Umar bin Khattab memiliki keutamaan tersendiri. Hal itu terlihat dari indahnya kata mutiara islam Umar bin Khattab dalam menasehati kaum muslimin.

Berikut kumpulan kata bijak islami Umar bin Khattab. Semoga menginspirasi untuk selalu berlomba-lomba berbuat kebaikan dan menjauhi kebatilan.

Orang yang paling aku senangi adalah orang yang berkenan menunjukkan kesalahanku. – Umar bin Khattab

Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu pakai dan kamu tanggalkan sesuka hati. Wanita itu makhluk terhormat dan memiliki haknya. – Umar bin Khattab
Jangan bersedih atas apa yang telah berlalu, kecuali kalau itu bisa membuatmu bekerja lebih keras untuk apa yang akan datang. – Umar bin Khattab

Jangan tertipu oleh orang yang membaca Alquran. Tapi lihatlah kepada mereka yang perilakunya sesuai dengan Alquran itu. – Umar bin Khattab
Dulu Kami adalah orang-orang paling terhina di muka bumi, dan kemudian Allah memberi kami kemuliaan melalui Islam. – Umar bin Khattab

Terkadang, orang dengan masa lalu paling kelam akan menciptakan masa depan yang paling cerah. – Umar bin Khattab
Tidak ada Islam bagi orang yang tidak mengerjakan shalat. – Umar bin Khattab

Orang yang mau menunjukkan di mana letak kesalahanmu, itulah temanmu yang sesungguhnya. Sedangkan mereka yang hanya menyebar omong kosong dengan selalu memujimu, mereka sebenarnya adalah para algojo yang justru akan membinasakanmu. – Umar bin Khattab
(Baca juga: Kata Mutiara Islam dari Abu Bakar Al Shiddiq)

Kata Bijak Islam dari Umar bin Khattab
Duduklah bersama orang-orang yang mencintai Allah, karena bergaul bersama orang seperti mereka akan mencerahkan pikiran. – Umar bin Khattab

Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku. – Umar bin Khattab
Aku khawatir akan datangnya hari di mana orang-orang yang tidak beriman merasa bangga dengan kedustaannya, sementara orang-orang yang beriman malu dengan keimanannya. – Umar bin Khattab

Jadilah orang yang bermartabat, jujur dan selalu menyampaikan kebenaran. – Umar bin Khattab
Aku tidak pernah sekalipun menyesali diamku. Tetapi aku berkali-kali menyesali bicaraku. – Umar bin Khattab

Aku tidak akan membiarkan orang tiran yang berbuat zalim kepada orang lain atau melanggar hak orang lain hingga pipi orang itu akan aku letakkan di atas tanah dan pipinya yang sebelah lagi akan aku injak dengan kakiku sampai ia mau kembali kepada kebenaran. Sebaliknya, kepada orang yang bersih dan mau hidup sederhana, aku akan menaruh pipiku di atas tanah. – Umar bin Khattab
Perbanyaklah mengingat Allah, karena itu adalah obat. Jangan buat dirimu terlalu banyak mengingat manusia, karena itu adalah penyakit. – Umar bin Khattab

Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang mau menunjukkan kesalahanku. – Umar bin Khattab
Sabar adalah bahan ramuan paling menyehatkan dalam hidup kita. – Umar bin Khattab

Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu dan Tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan. – Umar bin Khattab
Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah akan datangnya hari besar ditampakkannya amal. – Umar bin Khattab

Cara terbaik untuk mengalahkan seseorang adalah mengalahkannya dengan kesopanan. – Umar bin Khattab
Kata Bijak Islam Umar bin Khattab Penuh Nasehat
Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa. – Umar bin Khattab

Aku tidak suka tetap di dunia ini kecuali karena tiga hal; Pertama, tempat di mana aku bisa meletakkan keningku di tanah untuk bersujud kepada Allah; Kedua, tempat orang-orang berilmu berkumpul, di mana aku bisa duduk bersama mereka untuk mengambil nasehat yang baik, sebagaimana dipetiknya buah yang ranum; dan Ketiga, berjihad di jalan Allah. – Umar bin Khattab
Biasakan diri dengan hidup susah, karena kesenangan tidak akan kekal selamanya. – Umar bin Khattab

Jangan berlebihan dalam mencintai sehingga menjadi keterikatan, jangan pula berlebihan dalam membenci sehingga membawa kebinasaan. – Umar bin Khattab
Menjauhi dosa itu lebih ringan daripada menanggung rasa sakit dari sebuah penyesalan. – Umar bin Khattab

Bersabarlah, karena kesabaran adalah sebuah pilar keimanan. – Umar bin Khattab
Jagalah shalatmu. Karena saat kamu kehilangan shalat, maka kamu akan kehilangan segalanya. – Umar bin Khattab

Jika salah satu dari kalian tergelincir (dalam perbuatan dosa), perbaiki dia, doakan dia dan jangan bantu setan mendekatinya. – Umar bin Khattab
Berpegang teguhlah pada kebenaran, bahkan meski kebenaran itu akan membunuhmu. – Umar bin Khattab

Keyakinan (iman) adalah di mana seharusnya tidak ada perbedaan antara perbuatan, perkataan, dan apa yang kamu pikirkan. – Umar bin Khattab
Ajaklah seseorang kepada Islam meski tanpa melalui kata-kata. Mereka bertanya, “Bagaimana caranya?” Dia menjawab, “Dengan akhlakmu” – Umar bin Khattab

Ya Allah, sesungguhnya aku ini orang yang keras, maka lunakkanlah aku. Sesungguhnya aku adalah orang yang lemah, maka kuatkanlah aku. Sesungguhnya aku adalah orang yang bakhil, maka jadikanlah aku orang yang dermawan. – Umar bin Khattab
Mohonlah pertolongan kepada Allah agar menolong kalian melawan nafsu jahat kalian, sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian. – Umar bin Khattab

Tidak ada jalinan hubungan antara Allah dengan siapapun kecuali melalui ketaatan kepada-Nya. – Umar bin Khattab
Jangan melupakan diri sendiri saat menyampaikan nasehat kepada orang lain. – Umar bin Khattab

Jika pasanganmu sedang marah, maka kamu harus tenang. Karena ketika salah satunya adalah api, maka satu yang lainnya harus bisa menjadi air yang bisa meredam amarah itu. – Umar bin Khattab
Kumpulan Kata Bijak Islam Umar bin Khattab
Umar berkata, “Ajaklah seseorang kepada islam meski tanpa melalui kata-kata” Mereka bertanya, “Bagaimana caranya?” Dia menjawab, “Dengan akhlakmu”. – Umar bin Khattab

Manusia yang berakal adalah manusia yang suka menerima dan meminta nasehat. – Umar bin Khattab
Dari begitu banyak sahabat, tak kutemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala bentuk amal baik, namun tidak mendapati yang lebih baik daripada memberi nasehat yang baik. Aku mencari segala bentuk rezeki, tetapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar. – Umar bin Khattab

Jikalau kita letih karena kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun jikalau kita bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal. – Umar bin Khattab
Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku. – Umar bin Khattab

Hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya kunci keburukan. Sesungguhnya jika engkau malas, engkau tidak akan banyak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, engkau tidak akan tahan dalam menunaikan kewajiban. – Umar bin Khattab
Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang berprasangka buruk kepadanya. – Umar bin Khattab

Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu, karena celamu lebih banyak darinya. – Umar bin Khattab
Andai terdengar suara dari langit yang berkata, “Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu orang saja”. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku. – Umar bin Khattab

Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan. – Umar bin Khattab
Lidah akan terus berkata jujur selagi hatinya ikhlas dan luhur. – Umar bin Khattab

Umar berkata, “Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur”. Mereka bertanya, “bagaimana suatu negeri bisa hancur padahal dia makmur?” Ia menjawab, “Jika pengkhianat menjadi petinggi dan harta dikuasai orang-orang fasik”. – Umar bin Khattab
Seandainya seekor keledai terperosok karena jalanan yang rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah SWT, “Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?”. – Umar bin Khattab

Janganlah kamu berburuk sangka dari kata-kata tidak baik yang keluar dari mulut saudaramu, sementara kamu masih bisa menemukan makna lain yang lebih baik. – Umar bin Khattab
Orang yang banyak tertawa itu kurang wibawanya. – Umar bin Khattab