1000+ Kata Mutiara Dan Nasehat Ali bin Abi Thalib


1. Jangan melibatkan hatimu dalam kesedihan atas masa lalu atau kamu tidak akan siap untuk apa yang akan datang.

2. Pergunjingan adalah puncak kemampuan orang-orang yang lemah.

3. Barangsiapa menyalakan api fitnah, maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya.

4. Jadilah orang yang dermawan tapi jangan menjadi pemboros. Jadilah orang yang hidup sederhana, tetapi jangan menjadi orang yang kikir.

5. Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.

Ali bin Abi Thalib tentang kehidupan bisa memberi inspirasi banyak orang. Ali bin Abi Thalib adalah seorang sahabat Nabi sekaligus khalifah keempat yang berkuasa pada tahun 656 sampai 661 masehi. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, Ali diangkat sebagai pemimpin umat Islam setelah Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman.

Sebagai pemimpin, Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai pribadi yang saleh dan adil. Sosoknya menjadi panutan hingga saat ini. Kata mutiara Ali bin Abi Thalib tentang kehidupan bisa memberi sedikit gambaran kebijaksanaan Ali semasa hidupnya.

Kata mutiara Ali bin Abi Thalib tentang kehidupan memberi pelajaran bermakna bagi semua orang. Kecerdasan dan keberanian Ali bin Abi Thalib menjadi inspirasi umat. Kata mutiara Ali bin Abi Thalib tentang kehidupan dijadikan motivasi untuk menjalani hidup di dunia.

Kamu bisa merenungkan kata mutiara Ali bin Abi Thalib tentang kehidupan untuk menemukan makna hidup. Ada banyak kata mutiara Ali bin Abi Thalib tentang kehidupan yang menginspirasi.

1. Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.

2. Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.

3. Jangan gunakan ketajaman kata-katamu pada ibumu yang mengajarimu cara berbicara.

4. Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.

5. Kesalahan terburuk kita adalah ketertarikan kita pada kesalahan orang lain.

1. Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta dan rasa hormat.

2. Tidak ada gunanya seorang penolong yang selalu menghina atau teman yang selalu berburuk sangka.

3. Ketulusan seseorang sesuai dengan kadar kemanusiaannya.

4. Kenali kebenaran, maka kamu akan tahu orang-orang yang benar. Benar Tidak diukur oleh orang-orangnya, tetapi manusia diukur oleh kebenaran.

5. Jangan pernah membuat keputusan dalam kemarahan dan jangan pernah membuat janji dalam kebahagiaan.

1. Jangan melibatkan hatimu dalam kesedihan atas masa lalu atau kamu tidak akan siap untuk apa yang akan datang.

2. Pergunjingan adalah puncak kemampuan orang-orang yang lemah.

3. Barangsiapa menyalakan api fitnah, maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya.

4. Jadilah orang yang dermawan tapi jangan menjadi pemboros. Jadilah orang yang hidup sederhana, tetapi jangan menjadi orang yang kikir.

5. Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.

1. Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini.

2. Memaafkan adalah kemenangan terbaik.

3. Jangan sekali-kali merasa malu memberi walaupun sedikit, sebab tidak memberi sama sekali pasti lebih sedikit nilainya.

4. Yang paling mampu memaafkan ialah orang yang paling berkuasa untuk menghukum.

5. Jadilah seperti bunga yang memberikan keharumannya bahkan pada tangan yang menghancurkannya.

1. Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya.

2. Bila kau cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya sebab ketakutan menghadapinya lebih menganggu daripada sesuatu yang kau takuti sendiri.

3. Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi maka senangilah apa yang terjadi.

4. Seseorang yang putus asa melihat kesulitan dalam setiap kesempatan, tetapi orang yang optimis melihat peluang dalam setiap kesulitan.

5. Jangan membenci apa yang tidak kamu ketahui, karena sebagian besar pengetahuan terdiri dari apa yang tidak kamu ketahui.

1. Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu.

2. Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.

3. Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.

4. Ilmu tanpa akal ibarat seperti memiliki sepatu tanpa kaki. Dan akal tanpa ilmu ibarat seperti memiliki kaki tanpa sepatu.

5. Ketika terbukti salah, orang bijak akan memperbaiki dirinya sendiri dan orang yang bodoh akan terus berdebat.

1. Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya.

2. Tidak ada yang lebih menyakitkan jiwa dan hati yang baik selain hidup di antara orang-orang yang tidak dapat memahaminya.

3. Teman sejati adalah orang yang melihat kesalahan, memberimu nasihat dan yang membelamu saat kamu tidak ada.

4. Seorang teman tidak dapat dianggap sebagai teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan: saat dibutuhkan, di belakangmu, dan setelah kematianmu.

5. Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai kebanggaannya, mungkin dia sibuk berkelahi dengan dirinya sendiri.

Kehidupan kerap kali memberikan kejutan dalam perjalanannya. Terkadang kamu menemukan kebahagiaan dalam satu waktu, namun bisa juga seketika hal itu berubah menjadi satu hal menyedihkan. Tentu sebagai manusia kita tidak bisa menebak kapan hal tersebut akan terjadi. Tetapi mungkin kita bisa mengantisipasi dengan lebih bijak dalam membuat keputusan.

Mengambil sebuah keputusan dalam hidup, tentu perlu dipertimbangkan secara matang. Kalau kamu terlalu gegabah, bisa jadi malah membawa kita ke arah yang salah. Nah, oleh karena itu perlu adanya motivasi yang bisa menuntun kita untuk mengambil keputusan yang bijak. Ali bin Abi Thalib, adalah salah satu sosok yang bisa menjadi motivatormu dalam permasalahan kehidupan.

Sebagai salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai sosok yang bijak dalam memberikan petuah. Tokoh yang menjadi pemeluk Islam pertama ini juga memiliki kata-kata bijak yang bisa kamu jadikan sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan.

Nah, seperti apa kata-kata bijak islami Ali bin Abi Thalib tentang kehidupan?

1. “Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini.”

2. “Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.”

3. “Barang siapa menyalakan api fitnah, maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya.”

4. “Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya.”

5. “Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.”

6. “Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta dan rasa hormat.”

7. “Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.”

8. “Apabila akal tidak sempurna maka kurangilah berbicara.”

9. “Bila kau cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya sebab ketakutan menghadapinya lebih menganggu daripada sesuatu yang kau takuti sendiri.”

10. “Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu.”

11. “Telanlah amarahmu sebab kau tidak pernah menemukan minuman yang dapat meninggalkan rasa lebih manis dan lebih lezat daripada itu.”

12. “Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.”

13. “Jangan membenci siapapun, tidak peduli berapa banyak mereka bersalah padamu.”

14. “Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai kapan pun dia tidak akan menjadi orang berani.”

15. “Orang yang berdoa tanpa beramal sama halnya seperti pemanah tanpa busur.”

16. “Adakalanya yang sedikit lebih berkah daripada yang banyak.”

17. “Kesempatan datang bagai awan berlalu. Pergunakanlah ketika ia nampak di hadapanmu.”

18. “Menjaga air muka adalah hiasan bagi orang miskin, sebagaimana syukur adalah hiasan bagi orang kaya.”

19. “Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.”

20. “Tetaplah berhubungan dengan orang-orang yang telah melupakanmu, dan ampuni yang bersalah padamu.”

21. “Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan adakalanya menjadi obat penyembuh.”

22. “Memuji seseorang lebih daripada yang ia berhak menerimanya sama saja menjilatnya. Tetapi melalaikan pujian bagi orang yang berhak menerimanya menunjukkan kebodohan dan kedengkian.”

23. “Hiburlah hatimu, siramilah ia dengan percikan hikmah. Seperti halnya fisik, hati juga merasakan letih.”

24. “Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.”

25. “Memaafkan adalah kemenangan terbaik.”

26. “Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu.”

27. “Kesucian hati nurani seseorang sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya.”

28. “Orang yang hanya berfikir bagi kepentingan perutnya sahaja maka harga dirinya serupa dengan apa yang keluar dari isi perutnya.”

29. “Pekerjaan tangan yang paling sederhana sekalipun demi mempertahankan harga diri seseorang, jauh lebih utama daripada kekayaan yang disertai penyelewengan.”

30. “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.”

31. “Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya, dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya.”

32. “Hiduplah dengan rendah hati, tidak peduli seberapa kekayaanmu.”

33. “Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat-tempat yang mencurigakan janganlah ia menyalahkan orang lain yang berburuk sangka kepadanya.”

34. “Jangan sekali-kali merasa malu memberi walaupun sedikit, sebab tidak memberi sama sekali pasti lebih sedikit nilainya.”

35. “Berikanlah banyak, meskipun menerima sedikit.”

36. “Sisihkan gelombang-gelombang kerisauan dengan kekuatan kesabaran dan keyakinan.”

37. “Ketulusan seseorang sesuai dengan kadar kemanusiaannya.”

38. “Keberanian seseorang sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat.”

39. “Sifat pemarah adalah musuh utama akal.”

40. “Pergunjingan adalah puncak kemampuan orang-orang yang lemah.”

Konten Islami Lainnnya:

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Banyak sekali kata-kata bijak penuh hikmah dan nasehat yang pernah diucapkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib semasa hidupnya. Tentu saja hal itu karena keluasan ilmu dan wawasan yang dimilikinya. Berikut ini beberapa kata mutiara islam Ali bin Abi Thalib yang sangat indah dan penuh hikmah serta nasehat.

Bodohnya manusia

How foolish is man, He ruins the present while worrying about the future, but weeps in the future by recalling his past. – Ali bin Abi Thalib

Betapa bodohnya manusia, Dia menghancurkan masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan, tapi menangis di masa depan dengan mengingat masa lalunya. – Ali bin Abi Thalib

Tak perlu menjelaskan dirimu

Never explain yourself to anyone. The person who likes you doesn’t need it; and the person who dislikes you won’t believe it. – Ali bin Abi Thalib

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak mempercayai itu. – Ali bin Abi Thalib

Seperti bunga

Be like the flower that gives its fragrance to even the hand that crushes it. – Ali bin Abi Thalib

Jadilah seperti bunga yg memberikan keharuman bahkan kepada tangan yg telah merusaknya. – Ali bin Abi Thalib

Prinsip hidup

Hate no one, no matter how much they’ve wronged you. Live humbly, no matter how wealthy you become. Think positively, no matter how hard life is. Give much, even if you’ve been given little. Keep in touch with the ones who have forgotten you, and forgive who has wronged you, and do not stop praying for the best for those you love. – Ali bin Abi Thalib

Jangan membenci siapapun, tak peduli seberapa banyak kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu. Hiduplah dengan rendah hati, tak peduli seberapa banyak kekayaanmu. Berpikirlah positif, tak peduli seberapa keras kehidupan yang kamu jalani. Berikanlah banyak, meskipun menerima sedikit. Tetaplah menjalin hubungan dengan orang-orang yang telah melupakanmu, maafkanlah orang yang berbuat salah padamu, dan jangan berhenti mendoakan yang terbaik untuk orang yang kau sayangi. – Ali bin Abi Thalib

Orang yang baik

Beautiful people are not always good but good people are always beautiful. – Ali bin Abi Thalib

Orang yang cantik tidak selamanya orang baik, tapi orang yang baik selalu cantik. – Ali bin Abi Thalib

Lepaskan

Let go of anything that brings you stress and sorrow. – Ali bin Abi Thalib

Lepaskan segala sesuatu yang membuatmu stres dan sedih. – Ali bin Abi Thalib

Pembersihan

Body is purified by water. Nafs by tears. Intellect is purified by knowledge. And soul is purified with love. – Ali bin Abi Thalib

Tubuh dibersihkan dengan air. Jiwa dibersihkan dengan air mata. Akal dibersihkan dengan pengetahuan. Dan jiwa dibersihkan dengan cinta. – Ali bin Abi Thalib

Diamnya seseorang

Do not take someone’s silence as his pride, perhaps he is busy fighting with his self. – Ali bin Abi Thalib

Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai sikap sombongnya, bisa jadi dia sedang sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri. – Ali bin Abi Thalib

Jangan berlarut-larut

Don’t engage your heart in grief over the past, or you wont be ready for what is coming. – Ali bin Abi Thalib

Jangan biarkan hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu, atau itu akan membuatmu tidak akan pernah siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi. – Ali bin Abi Thalib

Pesimis vs Optimis

A hopeless person sees difficulties in every chance, but a hopeful person sees chances in every difficulty. – Ali bin Abi Thalib

Orang yang pesimis selalu melihat kesulitan di setiap kesempatan, tapi orang yang optimis selalu melihat kesempatan dalam setiap kesulitan. – Ali bin Abi Thalib

Muhasabah diri

Blessed is he whose own faults keep him from seeing the faults of others. – Ali bin Abi Thalib

Diberkatilah dia yang kesalahannya sendiri mampu mencegahnya dari melihat kesalahan orang lain. – Ali bin Abi Thalib

Obat dan penyakit

Perhaps it’s the remedy that brought the sickness, and perhaps the sickness turned into a remedy. For sickness might be the cure. – Ali bin Abi Thalib

Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan adakalanya justru menjadi obat penyembuh. – Ali bin Abi Thalib

Bersinar terang

Do not let your difficulties fill you with anxiety, after all it is only in the darkest nights that stars shine more brightly. – Ali bin Abi Thalib

Jangan biarkan kesulitan membuatmu gelisah. Karena bagaimanapun juga hanya di malam yang paling gelap bintang-bintang tampak bersinar lebih terang. – Ali bin Abi Thalib

Teman sejati

A True friend is one who sees a fault, gives you advice and who defends you in your absence. – Ali bin Abi Thalib

Teman sejati adalah dia yang selalu memberi nasehat ketika melihat kesalahanmu dan dia yang mau membelamu di saat kamu tidak ada. – Ali bin Abi Thalib

Memegang teguh sunnah

I would not forsake the Sunnah of the Prophet for the opinion of anyone. – Ali bin Abi Thalib

Aku tidak akan meninggalkan Sunnah Nabi demi kepentingan siapapun. – Ali bin Abi Thalib

Obat hati

The words of Allah are the medicine of the heart. – Ali bin Abi Thalib

Firman Allah adalah obat bagi hati. – Ali bin Abi Thalib

Memaafkan

Forgiveness is the best victory. – Ali bin Abi Thalib

Memaafkan adalah kemenangan terbaik. – Ali bin Abi Thalib

Hati penuh kebencian

It is easier to turn a mountain into dust than to create love in a heart that is filled with hatred. – Ali bin Abi Thalib

Lebih mudah mengubah gunung menjadi debu daripada menanamkan cinta di hati yang dipenuhi dengan kebencian. – Ali bin Abi Thalib

Keputusan dan janji

Never make a decision in anger and never make a promise in happiness. – Ali bin Abi Thalib

Jangan pernah mengambil keputusan ketika sedang marah dan jangan pernah mengumbar janji ketika sedang bergembira. – Ali bin Abi Thalib

Ingatkan aku

Oh Allah, when I lose my hopes and plans, help me remember that your love is greater than my disappointments, and your plans for my life are better than my dreams. – Ali bin Abi Thalib

Ya Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku. – Ali bin Abi Thalib

Dikhianati dunia

He who trusts the world, the world betrays him. – Ali bin Abi Thalib

Dia yang menaruh kepercayaan pada dunia, maka dunia akan mengkhianatinya. – Ali bin Abi Thalib

Teman yang bodoh

It is better to listen to a wise enemy than to seek counsel from a foolish friend. – Ali bin Abi Thalib

Lebih baik mendengarkan musuh yang bijak daripada meminta nasihat dari teman yang bodoh. – Ali bin Abi Thalib

Menyembunyikan kebaikan

Hide the good you do, and make known the good done to you. – Ali bin Abi Thalib

Sembunyikanlah kebaikan yang kamu lakukan, dan biarkan kebaikan yang telah kamu lakukan itu hanya diketahui olehmu. – Ali bin Abi Thalib

Dua jenis manusia

There are two kinds of people: 1) those who seek but cannot find, and 2) those who found but still want more. – Ali bin Abi Thalib

Ada dua jenis manusia: 1) mereka yang mencari tapi tidak bisa menemukan, dan 2) mereka yang menemukan tapi masih menginginkan lebih. – Ali bin Abi Thalib

Beda zaman

Do not raise your children the way your parents raised you, they were born for a different time. – Ali bin Abi Thalib

Jangan besarkan anakmu dengan cara orangtuamu membesarkanmu dulu, karena mereka lahir di zaman yang berbeda. – Ali bin Abi Thalib

Ada cahaya

There is always enough light for the one who wants to see. – Ali bin Abi Thalib

Selalu ada cahaya bagi orang yang mau melihat. – Ali bin Abi Thalib

Terus mencari

Every hopeful person continues seeking, and every fearful one runs away. – Ali bin Abi Thalib

Orang yang penuh harap akan terus mencari, sementara orang yang penuh ketakutan akan melarikan diri. – Ali bin Abi Thalib

Yakinlah

Be sure that there is something waiting for you after much patience, to astonish you to to a degree that you forget the bitterness of the pain. – Ali bin Abi Thalib

Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit. – Ali bin Abi Thalib

Bola api

Anger is like a ball of fire, but if you swallow it, it’s sweeter than honey. – Ali bin Abi Thalib

Kemarahan itu seperti bola api, tapi jika kamu menelannya, itu akan lebih manis daripada madu. – Ali bin Abi Thalib

Dosis perkataan

Speech is like a medicine, a small dose of which cures but an excess of which kills. – Ali bin Abi Thalib

Ucapan itu seperti obat, dosis kecilnya bisa menyembuhkan tapi jika berlebihan bisa membunuh. – Ali bin Abi Thalib

Melukai hati

Nothing hurts the heart more than sins. – Ali bin Abi Thalib

Tidak ada yang lebih menyakiti hati daripada dosa. – Ali bin Abi Thalib

Menguji karakter

If you want to test someone’s character, give him respect. If he has good character, he will respect you more, if he has bad character, he will think he is the best of all. – Ali bin Abi Thalib

Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki karakter yang bagus, dia akan lebih menghormatimu, namun jika dia memiliki karakter buruk, dia akan merasa dirinya paling baik dari semuanya. – Ali bin Abi Thalib

Berhentilah

Give up discussing what you do not know and speaking about what does not concern you. – Ali bin Abi Thalib

Berhentilah membahas apa yang tidak kamu ketahui dan membicarakan tentang apa yang tidak menjadi perhatianmu. – Ali bin Abi Thalib

Ilmu dan kebodohan

How honorable is knowledge, that the one who does not have it says he does, and how dishonorable is ignorance, that the one who has it says he does not. – Ali bin Abi Thalib

Betapa terhormatnya ilmu, karena orang yang tidak memilikinya mengatakan bahwa dia memiliki ilmu. dan betapa tidak terhormatnya kebodohan, karena orang yang memilikinya mengatakan bahwa dia tidak bodoh. – Ali bin Abi Thalib

Jalan kebenaran

Don’t feel lonely on the road of righteousness because of the fewness of travelers on it. – Ali bin Abi Thalib

Jangan merasa kesepian berada di atas jalan kebenaran hanya karena sedikitnya orang yang berada di sana. – Ali bin Abi Thalib

Murah hati

Many tough problems are overcome by leniency. – Ali bin Abi Thalib

Banyak permasalahan pelik yang berhasil diselesaikan dengan sikap bermurah hati. – Ali bin Abi Thalib

Hidup yang menyenangkan

There are two ways to live a pleasant life, either in someone’s heart or in someone’s prayer. – Ali bin Abi Thalib

Ada dua cara untuk menjalani hidup yang menyenangkan, entah itu di dalam hati seseorang ataukah dalam doa seseorang. – Ali bin Abi Thalib

Menahan amarah

A moment of patience in a moment of anger saves a thousand moments of regret. – Ali bin Abi Thalib

Sabar sesaat saja di saat marah akan menyelamatkan kita dari ribuan penyesalan. – Ali bin Abi Thalib

Kehidupan ini

Life is but the shadow of a cloud, the dream of a sleeper. – Ali bin Abi Thalib

Kehidupan ini tidak lain hanyalah seperti bayangan awan, mimpinya seorang yang tertidur. – Ali bin Abi Thalib

Bukan budak

Be kind and considerate to your woman. She is a tender flower, and not your household slave. – Ali bin Abi Thalib

Berikan perhatian dan bersikap baiklah kepada istrimu. Dia adalah bunga yang lembut, bukan budak rumah tanggamu. – Ali bin Abi Thalib

Tidak mudah marah

Protect yourself from anger for its beginning is insanity and its end is remorse. – Ali bin Abi Thalib

Jagalah dirimu dari sifat marah. Karena kemarahan itu dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan. – Ali bin Abi Thalib

Terus bersabar

I will be patient, until even patience tires of my patience. – Ali bin Abi Thalib

Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku. – Ali bin Abi Thalib

Kawan dan lawan

Give your enemy a thousand chances to become your friend, but do not give your friend a single chance to become your enemy. – Ali bin Abi Thalib

Berikan ribuan kesempatan kepada lawan untuk menjadi kawan, tapi jangan berikan satu kesempatan pun bagi kawan untuk menjadi lawan. – Ali bin Abi Thalib

Tidak pernah bahagia

Ignore pain otherwise you will never be happy. – Ali bin Abi Thalib

Abaikan rasa sakit, atau jika tidak maka kamu tidak akan pernah merasa bahagia. – Ali bin Abi Thalib

Hanya dua hari

Life consists of two days, one for you one against you. So, when it’s for you don’t be proud or reckless, and when it’s against you be patient, for both days are test for you. – Ali bin Abi Thalib

Kehidupan itu cuma dua hari saja. Satu hari untukmu, satu hari melawanmu. Maka pada saat ia untukmu, jangan bangga dan gegabah; dan pada saat ia melawanmu bersabarlah. Keduanya adalah ujian bagimu. – Ali bin Abi Thalib

Tiga kesempatan

A friend cannot be considered a friend until he is tested in three occasions: 1) in time of need, 2) behind your back, and 3) after your death. – Ali bin Abi Thalib

Seorang teman tidak bisa dianggap teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan: 1) di saat membutuhkan, 2) di belakangmu, dan 3) setelah kematianmu. – Ali bin Abi Thalib

Menjaga rahasia

Nobody can guard your secrets better than you, so don’t blame anyone for revealing your secrets, for you couldn’t hide them yourself. Your secret is your prisoner which, if let loose, it will make you its prisoner. – Ali bin Abi Thalib

Tidak ada yang bisa menjaga rahasiamu lebih baik daripada dirimu sendiri, maka jangan salahkan siapa pun orang yang mengungkapkan rahasiamu karena kamu sendiri tidak bisa menyembunyikannya. Rahasiamu adalah tawananmu, yang jika dilepaskan, itu akan membuatmu menjadi tahanan. – Ali bin Abi Thalib

Hanya tamu

Do not follow majority, but follow the truth. Live in this world as a traveller and leave behind you every sweet memory. Indeed, we are guests here and every guest must soon leave. – Ali bin Abi Thalib

Jangan megikuti mayoritas, tapi ikutilah jalan kebenaran. Hiduplah di dunia ini layaknya seorang pengembara, dan tinggalkan setiap kenangan manis di belakangmu. Sesungguhnya kita hanyalah tamu di sini, dan setiap tamu harus segera pergi. – Ali bin Abi Thalib

Aku punya Allah

Don’t tell your Lord you have great problems, tell your problems you have a Great Lord. – Ali bin Abi Thalib

Jangan katakan pada Allah ‘aku punya masalah besar’, tetapi katakan pada masalah bahwa ‘aku punya Allah Yang Maha besar’. – Ali bin Abi Thalib

Menjadi tuan

Orang yang dapat menjadi tuan bagi dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya dan menjadi kapten untuk bahtera kehidupannya. – Ali bin Abi Thalib

Balas dendam terbaik

Balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan dirimu lebih baik. – Ali bin Abi Thalib

Paling pahit

Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia. – Ali bin Abi Thalib

Dibersihkan

Tubuh dibersihkan dengan air. Jiwa dibersihkan dengan air mata. Akal dibersihkan dengan pengetahuan. Dan jiwa dibersihkan dengan cinta. – Ali bin Abi Thalib

Sahabat yang jujur

Ucapan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yang diwarisi dari nenek moyang. – Ali bin Abi Thalib

Jadilah

Jadilah manusia yang baik dalam pandangan Allah. Jadilah manusia yang buruk dalam pandangan sendiri. Jadilah manusia yang biasa dalam pandangan orang lain. – Ali bin Abi Thalib

Menasihati

Jangan menasihati orang bodoh, karena dia akan membencimu. Nasihatilah orang yang berakal, karena dia akan mencintaimu. – Ali bin Abi Thalib

Pergunjingan

Pergunjingan adalah puncak kemampuan orang-orang yang lemah. – Ali bin Abi Thalib

Yang lebih lemah

Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat. Dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang menyia-nyiakan sahabat yang telah dicari. – Ali bin Abi Thalib

Perkataan yang melukai

Jika ada kata-kata yang melukai hati, menunduklah dan biarkan ia melewatimu. (jangan dimasukkan hati agar tidak lelah hatimu). – Ali bin Abi Thalib

Tiga jenis orang

Tiga macam orang yang tidak diketahui kecuali dalam tiga situasi: 1) Tidak diketahui orang pemberani kecuali dalam situasi perang; 2) Tidak diketahui orang yang penyabar kecuali ketika sedang marah; 3) Tidak diketahui sebagai teman kecuali ketika temannya sedang butuh. – Ali bin Abi Thalib

Tiada

Tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal. Tiada keadaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan. Dan tiada pembantu yang lebih baik daripada musyawarah. – Ali bin Abi Thalib

Yang sebenarnya

Dirimu yang sebenarnya adalah apa yang kamu lakukan di saat tiada orang yang melihatmu. – Ali bin Abi Thalib

Buah kejujuran

Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal; kepercayaan, cinta dan rasa hormat. – Ali bin Abi Thalib

Cemburu

Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski hanya sesaat. – Ali bin Abi Thalib

Mencinta sekedarnya

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. – Ali bin Abi Thalib

Angin

Angin tak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya. – Ali bin Abi Thalib

Jalan kebenaran

Jangan pernah merasa kesepian di atas jalan kebenaran hanya karena sedikitnya orang yang berada di sana. – Ali bin Abi Thalib

Diam

Diam sampai engkau diminta untuk berbicara, lebih baik daripada kau terus berbicara sampai diminta untuk diam. – Ali bin Abi Thalib

Menjaga lisan

Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu. – Ali bin Abi Thalib

Apa itu takwa?

Takwa adalah takut kepada Allah, melaksanakan segala sesuatu yang datang dari-Nya, ridha dengan karunia-Nya walaupun sedikit, dan menyiapkan diri untuk menyambut kematian. – Ali bin Abi Thalib

Menguasai mata

Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya. – Ali bin Abi Thalib

Bila cemas dan gelisah

Bila kau cemas dan gelisah akan sesuatu masuklah ke dalamnya, sebab ketakutan menghadapinya lebih mengganggu daripada sesuatu yang kau takuti sendiri. – Ali bin Abi Thalib

Menelan amarah

Telanlah amarahmu, sebab kau tidak pernah menemukan minuman yang dapat meninggalkan rasa lebih manis daripada itu. – Ali bin Abi Thalib

Hawa nafsu

Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu dapat menghalanginya dari kebenaran dan panjang angan-angan dapat membuatnya lupa akhirat. – Ali bin Abi Thalib

Kedzaliman

Kedzaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang baik. – Ali bin Abi Thalib

Tapi jangan

Jadilah orang yang dermawan, tapi jangan menjadi pemboros. Jadilah orang yang hidup sederhana, tapi jangan menjadi orang yang kikir. – Ali bin Abi Thalib

Sikap murah hati

Banyak permasalahan pelik yang berhasil diselesaikan dengan sikap bermurah hati. – Ali bin Abi Thalib

Memandang diri

Siapa yang memandang dirinya buruk, maka dia adalah orang yang baik. Dan siapa yang memandang dirinya baik, dia adalah orang yang buruk. – Ali bin Abi Thalib

Hormat pada ibu

Jangan gunakan kefasihan bicaramu (mendebat) di hadapan ibumu yang dahulu mengajarimu berbicara. – Ali bin Abi Thalib

Dikhianati dunia

Dia yang menaruh kepercayaan pada dunia, maka dunia akan mengkhianatinya. – Ali bin Abi Thalib

Mengenali kebenaran

Jangan kenali kebenaran berdasarkan individu-individu. Kenalilah kebenaran itu sendiri, otomatis kau akan kenal siapa di pihak yang benar. – Ali bin Abi Thalib

Diamnya ahlul haq

Ketika ahlul haq (orang yang memiliki ilmu) diam atas suatu kebatilan, maka mereka (pelaku kebatilan) akan menyangka bahwa mereka berada dalam kebenaran. – Ali bin Abi Thalib

Tak akan berani

Orang yang terlalu memikirkan akibat dari suatu keputusan atau tindakan, sampai kapanpun dia tidak akan menjadi orang berani. – Ali bin Abi Thalib

Suatu ketika, tak jauh dari hari menjelang kematiannya, Ali bin Abu Thalib pernah berwasiat kepada anaknya Hasan. Ada delapan perkara yang disampaikannya saat itu. Dengan suara yang sedikit agak parau, Ali bin Abu Thalib meminta kepada anaknya untuk menjaga dan mengamalkan delapan perkara tersebut agar hidupnya jauh dari malapetaka.

Pertama, wahai anakku, kekayaan sesungguhnya yang dimiliki oleh manusia adalah akal. Tanpa akal ia tak akan berarti dan sama kedudukannya dengan binatang. Akal adalah harta yang sangat berharga. Gunakanlah akalmu untuk mengamati keajaiban ciptaan Allah dan manfaatkanlah akalmu demi kebahagiaanmu di dunia maupun di akhirat.

Kedua, wahai anakku, kemiskinan sesungguhnya yang dimiliki oleh manusia adalah kebodohan. Karena hal yang paling berbahaya dalam hidup adalah kebodohan. Orang bodoh tidak akan mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Orang bodoh juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan apa yang harus ditinggalkannya sehingga selalu terjerumus dalam keburukan. Jangan membiarkan kebodohan menggeroti hidupmu karena bisa membahayakan hidupmu.

Ketiga, wahai anakku, seburuk-buruknya sifat yang dimiliki manusia adalah sombong. Orang yang menyombongkan diri akan selalu merasa paling benar, sehingga sulit untuk menerima nasehat orang lain. Lepaskanlah sifat-sifat sombong dalam dirimu, agar orang yang ada di dekatmu tidak menjauhimu.

Keempat, wahai anakku, semulia-mulianya keturunan adalah memiliki akhlak yang baik. Karena akhlak adalah segala. Dengan akhlak kamu bisa mendapatkan kedudukan yang di mulia di mata Allah dan manusia. Perbaikilah akhlakmu, bersikaplah secara santun, dan hiasilah dirimu dengan sifat-sifat yang terpuji karena harga diri seseorang terletak pada akhlak dan sopan santunnya.

Kelima, wahai anakku, jangan berteman dengan orang bodoh, karena ia hanya memanfaatkan dirimu dan tidak memberikan manfaat bagimu. Bergaul dengan orang bodoh hanya akan mendatangkan bahaya. Meskipun ia ingin membantumu tapi karena kebodohan dan kedunguannya, justru mempersulit dirimu.

Keenam, wahai anakku, jangan berteman dengan orang kikir, karena ia selalu menjauh saat kamu sangat membutuhkannya. Orang kikir hanya memanfaatkan hartamu. Jika engkau tidak memiliki apa-apa lagi ia akan lari menjauh darimu sehingga engkau tidak mampu memperoleh cita-citamu.

Ketujuh, wahai anakku, jangan berteman dengan orang jahat, karena ia akan selalu mengajakmu untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Orang jahat hanya akan menjerumuskanmu kedalam lembah kehinaan.

kedelapan, wahai anakku, jangan berteman dengan pendusta, karena ia ibarat fatamorgana. Dari dekat terlihat jauh dan dari jauh terlihat dekat. Saat engkau berteman dengan orang sering berdusta, engkau akan kenyang dengan janji-janji yang tidak ditepatnya. Awalnya ia membahagiakanmu dengan janji manisnya dan pada akhirnya mengecewakanmu dengan janji palsunya.

Semoga nasihat-nasihat Ali bin Abu Thalib dapat mencerahkan hati dan pikiran kita untuk selalu mawas diri dari hal-hal yang disangka baik tapi  ternyata mendatangkan malapetakan buat diri kita sendiri. Delapan wasiat itu cukup untuk  menjadi pegangan hidup kita dalam berinteraksi dengan orang di sekitar.

Suatu ketika, tak jauh dari hari menjelang kematiannya, Ali bin Abu Thalib pernah berwasiat kepada anaknya Hasan. Ada delapan perkara yang disampaikannya saat itu. Dengan suara yang sedikit agak parau, Ali bin Abu Thalib meminta kepada anaknya untuk menjaga dan mengamalkan delapan perkara tersebut agar hidupnya jauh dari malapetaka.

Pertama, wahai anakku, kekayaan sesungguhnya yang dimiliki oleh manusia adalah akal. Tanpa akal ia tak akan berarti dan sama kedudukannya dengan binatang. Akal adalah harta yang sangat berharga. Gunakanlah akalmu untuk mengamati keajaiban ciptaan Allah dan manfaatkanlah akalmu demi kebahagiaanmu di dunia maupun di akhirat.

Kedua, wahai anakku, kemiskinan sesungguhnya yang dimiliki oleh manusia adalah kebodohan. Karena hal yang paling berbahaya dalam hidup adalah kebodohan. Orang bodoh tidak akan mampu membedakan antara yang baik dan buruk. Orang bodoh juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan apa yang harus ditinggalkannya sehingga selalu terjerumus dalam keburukan. Jangan membiarkan kebodohan menggeroti hidupmu karena bisa membahayakan hidupmu.

Ketiga, wahai anakku, seburuk-buruknya sifat yang dimiliki manusia adalah sombong. Orang yang menyombongkan diri akan selalu merasa paling benar, sehingga sulit untuk menerima nasehat orang lain. Lepaskanlah sifat-sifat sombong dalam dirimu, agar orang yang ada di dekatmu tidak menjauhimu.

Keempat, wahai anakku, semulia-mulianya keturunan adalah memiliki akhlak yang baik. Karena akhlak adalah segala. Dengan akhlak kamu bisa mendapatkan kedudukan yang di mulia di mata Allah dan manusia. Perbaikilah akhlakmu, bersikaplah secara santun, dan hiasilah dirimu dengan sifat-sifat yang terpuji karena harga diri seseorang terletak pada akhlak dan sopan santunnya.

Kelima, wahai anakku, jangan berteman dengan orang bodoh, karena ia hanya memanfaatkan dirimu dan tidak memberikan manfaat bagimu. Bergaul dengan orang bodoh hanya akan mendatangkan bahaya. Meskipun ia ingin membantumu tapi karena kebodohan dan kedunguannya, justru mempersulit dirimu.

Keenam, wahai anakku, jangan berteman dengan orang kikir, karena ia selalu menjauh saat kamu sangat membutuhkannya. Orang kikir hanya memanfaatkan hartamu. Jika engkau tidak memiliki apa-apa lagi ia akan lari menjauh darimu sehingga engkau tidak mampu memperoleh cita-citamu.

Ketujuh, wahai anakku, jangan berteman dengan orang jahat, karena ia akan selalu mengajakmu untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Orang jahat hanya akan menjerumuskanmu kedalam lembah kehinaan.

kedelapan, wahai anakku, jangan berteman dengan pendusta, karena ia ibarat fatamorgana. Dari dekat terlihat jauh dan dari jauh terlihat dekat. Saat engkau berteman dengan orang sering berdusta, engkau akan kenyang dengan janji-janji yang tidak ditepatnya. Awalnya ia membahagiakanmu dengan janji manisnya dan pada akhirnya mengecewakanmu dengan janji palsunya.

Semoga nasihat-nasihat Ali bin Abu Thalib dapat mencerahkan hati dan pikiran kita untuk selalu mawas diri dari hal-hal yang disangka baik tapi  ternyata mendatangkan malapetakan buat diri kita sendiri. Delapan wasiat itu cukup untuk  menjadi pegangan hidup kita dalam berinteraksi dengan orang di sekitar.

 Jangan membenci siapapun, tidak peduli berapa banyak mereka bersalah padamu. Hiduplah dengan rendah hati, tidak peduli seberapa kekayaan mu. Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu. Berikanlah banyak, meskipun menerima sedikit. Tetaplah berhubungan dengan orang-orang yang telah melupakanmu, dan ampuni yang bersalah padamu. Jangan berhenti berdoa untuk yang terbaik bagi orang yang kau cintai. – Ali Bin Abi Thalib

 Betapa bodohnya manusia, Dia menghancurkan masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan, tapi menangis di masa depan dengan mengingat masa lalunya. – Ali Bin Abi Thalib

 Jadilah sperti bunga yang memberikan keharuman bahkan kepada tangan yang telah menghancurkannya. – Ali Bin Abi Thalib

 Jangan pernah menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak mempercayai itu. – Ali Bin Abi Thalib

 Orang cantik tidak selalu baik, tapi orang baik selalu cantik. – Ali Bin Abi Thalib

 Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan adakalanya justru menjadi obat penyembuh. – Ali Bin Abi Thalib

 Jangan biarkan kesulitan membuatmu gelisah, karena bagaimanapun juga hanya di malam yang paling gelap lah bintang-bintang tampak bersinar lebih terang. – Ali Bin Abi Thalib

 Lepaskanlah segala sesuatu yang membuatmu stres dan sedih. – Ali Bin Abi Thalib

 Tubuh dibersihkan dengan air. Jiwa dibersihkan dengan air mata. Akal dibersihkan dengan pengetahuan. Dan Jiwa dibersihkan dengan cinta. – Ali Bin Abi Thalib

 Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai sikap sombongnya, bisa jadi dia sedang sibuk bertengakar dengan dirinya sendiri. – Ali Bin Abi Thalib

 Jangan biarkan hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu, atau kamu tidak akan pernah siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi. – Ali Bin Abi Thalib

 Orang yang pesimis selalu melihat kesulitan di setiap kesempatan, tapi orang yang optimis selalu melihat kesempatan dalam setiap kesulitan. – Ali Bin Abi Thalib

 Diberkatilah dia yang kesalahannya sendiri mampu mencegahnya dari melihat kesalahan orang lain. – Ali Bin Abi Thalib

 Teman sejati adalah dia yang selalu memberi nasehat ketika melihat kesalahanmu dan dia yang mau membelamu di saat kamu tidak ada. – Ali Bin Abi Thalib

 Aku tidak akan meninggalkan Sunnah Nabi untuk kepentingan siapapun. – Ali Bin Abi Thalib

 Firman Allah adalah obat bagi hati. – Ali Bin Abi Thalib

 Memaafkan adalah kemenangan terbaik. – Ali Bin Abi Thalib

 Lebih mudah mengubah gunung menjadi debu daripada menambahkan cinta di hati yang dipenuhi dengan kebencian. – Ali Bin Abi Thalib

 Dia yang menaruh kepercayaan pada dunia, dunia akan mengkhianatinya. – Ali Bin Abi Thalib

 Lebih baik mendengarkan musuh yang bijak daripada meminta nasihat dari teman yang bodoh. – Ali Bin Abi Thalib

 Sembunyikanlah kebaikan yang kamu lakukan, dan buatlah kebaikan yang telah kamu lakukan itu dikenal. – Ali Bin Abi Thalib

 Ada dua jenis manusia: 1) mereka yang mencari tapi tidak menemukan, dan 2) mereka yang menemukan tapi masih menginginkan lebih. – Ali Bin Abi Thalib

 Jangan pernah mengambil keputusan ketika sedang marah dan jangan pernah membuat janji ketika sedang senang. – Ali Bin Abi Thalib

 Jangan besarkan anakmu dengan cara orangtuamu membesarkanmu dulu, karena mereka lahir di zaman yang berbeda. – Ali Bin Abi Thalib

 Selalu ada cukup cahaya bagi orang yang mau melihat. – Ali Bin Abi Thalib

 Ya Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar daripada kekecwaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku. – Ali Bin Abi Thalib

 Orang yang penuh harap akan terus mencari, sementara orang yang penuh ketakutan akan melarikan diri. – Ali Bin Abi Thalib

 Kemarahan itu seperti bola api, tapi jika kamu menelannya, itu akan lebih manis daripada madu. – Ali Bin Abi Thalib

 Ucapan itu seperti obat, dosis kecilnya bisa menyembuhkan tapi jika berlebihan bisa membunuh. – Ali Bin Abi Thalib

 Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit. – Ali Bin Abi Thalib

 Tidak ada yang lebih menyakiti hati daripada dosa. – Ali Bin Abi Thalib

 Jika kamu ingin menguji karakter seseorang, hormati dia. Jika dia memiliki karakter yang bagus, dia akan lebih menghormatimu, namun jika memiliki karakter buruk, dia akan merasa dirinya paling baik dari semuanya. – Ali Bin Abi Thalib

 Berhentilah membahas apa yang tidak kamu ketahui dan membicarakan tentang apa yang tidak menjadi perhatianmu. – Ali Bin Abi Thalib

 Betapa terhormatnya ilmu, bahwa orang yang tidak memilikinya mengatakan bahwa dia memiliki ilmu. dan betapa tidak terhormatnya kebodohan, bahwa orang yang memilikinya mengatakan bahwa dia tidak bodoh. – Ali bin Abi Thalib

 Jangan merasa kesepian di atas jalan kebenaran karena sedikitnya orang yang berada di sana. – Ali bin Abi Thalib

 Banyak permasalahan pelik yang berhasil diselesaikan dengan kemurahan hati. – Ali bin Abi Thalib

 Ada dua cara untuk menjalani hidup yang menyenangkan, entah itu di dalam hati seseorang ataukah dalam doa seseorang. – Ali bin Abi Thalib

 Sabar sesaat saja di saat marah akan menghemat ribuan penyesalan. – Ali bin Abi Thalib

 jangan katakan pada Allah ‘aku punya masalah besar’, tetapi katakan pada masalah bahwa ‘aku punya Allah Yang Maha besar’. – Ali bin Abi Thalib

 Hidup hanyalah bayangan awan, mimpinya orang yang tertidur. – Ali bin Abi Thalib

 Berikan perhatian dan bersikap baiklah kepada istrimu. Dia adalah bunga yang lembut, bukan budak rumah tanggamu. – Ali bin Abi Thalib

 Jagalah dirimu dari sifat marah. Karena kemarahan itu dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan. – Ali bin Abi Thalib

 Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku. – Ali bin Abi Thalib

 Berikan ribuan kesempatan kepada lawan untuk menjadi kawan, tapi jangan berikan satu kesempatan pun bagi kawan untuk menjadi lawan. – Ali bin Abi Thalib

 Abaikan rasa sakit, atau jika tidak kamu tidak akan pernah merasa bahagia. – Ali bin Abi Thalib

 Tidak ada yang bisa menjaga rahasiamu lebih baik daripada dirimu sendiri, maka jangan salahkan siapa pun orang yang mengungkapkan rahasiamu karena kamu sendiri tidak bisa menyembunyikannya. Rahasiamu adalah tawananmu, yang jika dilepaskan, itu akan membuatmu tahanan. – Ali bin Abi Thalib

 Jangan megikuti mayoritas, tapi ikutilah jalan kebenaran. Hiduplah di dunia ini layaknya seorang pengembara, dan tinggalkan setiap kenangan manis di belakangmu. Sesungguhnya kita hanyalah tamu di sini, dan setiap tamu harus segera pergi. – Ali bin Abi Thalib

 Kehidupan itu cuma dua hari saja. Satu hari untukmu, satu hari melawanmu. Maka pada saat ia untukmu, jangan bangga dan gegabah; dan pada saat ia melawanmu bersabarlah. Keduanya adalah ujian bagimu. – Ali bin Abi Thalib

 Seorang teman tidak bisa dianggap teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan: 1) di saat membutuhkan, 2) di belakangmu, dan 3) setelah kematianmu. – Ali bin Abi Thalib

“Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya.”

“Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.”

“Orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta dan rasa hormat.”

“Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik.”

“Apabila akal tidak sempurna maka kurangilah berbicara.”

“Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.”

“Orang yang berdoa tanpa beramal sama halnya seperti pemanah tanpa busur.”

“Memaafkan adalah kemenangan terbaik.”

“Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg menyia-nyiakan sahabat yg telah dicari.”

“Perkataan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi dari nenek moyang.”

“Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.”

Imam Ali as berkata kepada Utsman :

“Orang yang paling baik dalam pandangan Allah adalah penguasa yang adil, yang telah bemedoman pada Islam dan yang menunjuki orang lain kepadanya, yang menjaga sunnah-sunnah Nabi dan membasmi pembahaman-pembaharuan hina. Orang yang paling bumk dalam pandangan Allah adalah penguasa yang lalim, yang sesat dan menyesatkan orang lain, yang memusnahkan sunnah-sunnah yang telah diterima dan yang menumbuhkan kembali bid ‘ah-bid ‘ah yang telah dibuang.

Dengan Nama Allah Aku minta kepada kamu untuk tidak menjadi seperti pemimpin umat ini yang dibunuh oleh orang yang tertindas, karena telah diamalkan bahwa pemimpin umat yang akan membuka gerbang pertumpahan darah abadi dan selalu mengharapkan permusuhan, akan dibunuh. Dia akan menciptakan keragu-raguan di antara umat dan akan menyebabkan kekacauan yang berkembang luas, akibatnya umat tidak akan sanggup membedakan antara yang hak dan yang batil. Mereka akan diagitasi dan dibingungkan. Oleh karena itu, dengan usia dan pengalamanmu, janganlah menjadikan Marwan sebagai binatang kesayangan dan jangan izinkan ia mengendalikanmu sesukanya.”(Nahjul Balaghah, khotbah ke-167).

Kalimat terakhir menekankan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai kemerdekaan berpikir dan jangan sampai menjadi alat dari tangan orang-orang sekelilingnya. Sedang pada kalimat sebelumnya merujuk kepada pentingnya ruh keadilan yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Nasehat Imam Ali As kepada salah seorang pejabatnya yang ditugaskan mengumpulkan zakat. Setelah memberinya beberapa perintah dan menasehatinya agar bersungguh-sungguh dalam perkataan dan perbuatannya, Imam Ali berkata :

“Aku perintahkan engkau agar jangan memusuhi mereka, jangan menindas mereka dan jangan menjauh dan mereka dengan menunjukkan ketinggianmu dari mereka hanya karena engkau petugas pemerintah. Mereka adalah saudaramu seiman dan diharapkan membantu dalam pengumpulan zakat. .
Sengsaralah orang yang memusuhi orang miskin, papa, pengemis, serba kekurangan, menderita dan ibnu sabil yang mengeluh di hadapan Allah! Bentuk pengkhianatan yang paling buruk adalah penggelapan dana publik, dan bentuk ketiadaan iman yang paling keji adalah menipu Imam.” (Nahjul Balaghah, khotbah ke-26)

Imam Ali As berkata:

“Jika dibandingkan dengan amar ma’ruf nahi munkar, semua amal baik dan jihad di jalan Allah, tidak lebih daripada udara dalam samudera yang tak dapat diduga. Amar ma’ruf nahi munkar bukanlah membuat orang lebih dekat kepada kematian, atau bukanlah mengurangi penghidupan orang. Tetapi yang lebih bernilai dari semua ini adalah satu kata yang adil di hadapan seorang penguasa yang kejam.” Oleh karena itu, memperbaiki dari dalam (amar ma’ruf nahi munkar) lebih penting daripada melakaanakan perang suci melawan orang-orang kafir (eksternal), tetapi lebih penting lagi dari semua itu adalah perjuangan melawan penyimpangan-penyimpangan seorang pemimpin. Namun perlu diingat bahwa memerintahkan kepada yang hak itu merupakan tingkatan dari jihad, dan demikian juga mengatakan yang hak di muka penguasa yang kejam adalah termasuk “amar ma’ruf nahi munkar.”

Secara jelas Imam Ali As mengatakan bahwa pandangan Khawarij bahwa Al-Qur’an saja sudah cukup dan tidak perlu pemerintahan, segala perlengkapan administrasi dan pemimpin itu batil. Kaum Khawarij berkata bahwa “tidak ada juru pemisah dan hakim kecuali Allah.”

Imam Ali As berkata: “Slogan mereka itu benar, tetapi mereka menarik kesimpulan yang salah darinya. Mereka mengatakan bahwa tidak ada pemerintahan kecuali pemerintahan Allah. Tetapi umat harus mempunyai seorang penguasa, baik ia shaleh maupun tidak, yang di bawah pemerintahannya orang-orang beriman dan tidak beriman dapat bekerja dan menikmati hidup.”

Perlengkapan administratif disebut sebagai pemerintahan karena ia memelihara kedamaian internal dan eksternal. dan menjalankan hukum dan perintah. Ia disebut Imamah karena dipegang oleh seorang pemimpin yang mengerahkan berbagi kekuatan yang tidak aktif dan menyingkap berbagai kemampuan tersembunyi.
Dalam Nahjul Balaghah, ungkapan Wali dan Ra’iyyat digunakan bagi penguasa dan warga negara.

Ungkapan tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa tugas seorang penguasa adalah melindungi dan menjaga para warganya. Imam Ali As berkata:
“Hak terbesar yang ditetapkan Allah adalah hak penguasa atas para warganya, dan hak warga atas penguasanya. “ (Nahjul Balaghah, Khotbah ke-221).

Kebutuhan manusia tidaklah terbatas kepada pangan dan tempat tinggal. Kebutuhan manusia sepenuhnya berbeda dengan kebutuhan burung merpati atau rusa. Manusia mempunyai sejumlah kebutuhan psikologis juga yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, tidaklah cukup bagi pemerintahan yang ingin normal, populer dan dapat dipertahankan, hanya memberikan kebutuhan-kebutuhan materi saja kepada umatnya.

Adalah sama perlunya memberikan perhatian kepada kebutuhan manusianya dan spiritualnya juga. Yang penting adalah bagaimana pemerintah melihat umat. Apakah ia menganggap mereka sebagai alat-alat tak bernyawa yang kebetulan juga dipelihara; ataukah menganggapnya sebagai binatang beban dan binatang yang memproduksi susu yang memerlukan perhatian juga, atau sebagai manusia yang memiliki hak-hak yang sama. Ringkasnya, apakah umat bagi pemimpin ataukah pemimpin bagi umat?”

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. “ (An-Nisaa’: 58).

Bahwa para penguasa adalah para penjaga atau pelindung umatnya. Dengan kata lain, pada prinsipnya bahwa: Penguasa bagi umat, bukan umat bagi penguasa.
Kitab Majma’ mengutip kata-kata Imam Muhammad Baqir dan Imam Ja’far Shadiq As bahwa ayat ini ditujukan kepada para Imam, dan ayat selanjutnya: Taatilah Allah dan taatilah Rasul, ditujukan kepada umat.

Imam Muhammad Baqir As telah berkata: Salah satu dari dua ayat ini adalah milik kami (hak-hak kami), dan yang lain adalah milik kamu (hak-hakmu).
Telah berkata Imam Ali As:

“Adalah penting bagi seorang Imam umuk memutuskan manurut apa yang telah Allah turunkan dan untuk memulihkan kepercayaan. Jika ia berbuat, adalah wajib bagi umat untuk mendengarkannya, mentaatinya dan menanggapi setiap seruannya.” (al-Mizan mengutip dari Durr al-Mantsur).

Imam Ali As menyurati gubernurnya di Azerbaijan:

“Tugasmu bukanlah (seperti) butiran air yang diberikan kepadamu. Ia hanyalah suatu kepercayaan yang dijalankan untuk perhatianmu. Engkau telah diangkat oleh keutamaanmu sebagai gembala (untuk melindungi sekumpulan manusia yang berada di bawahmu). Karena engkau tidak berhak untuk berbaur dengan umat secara lalim. “ (Nahjul Balaghah, surat 5).

Dalam surat edarannya kepada semua pengumpul pajak, Imam Ali As berkata :

“Berlaku adillah kepada orang-orang dari pihakmu dan jagalah berbagai kebutuhan mereka dengan sabar, karena engkau adalah bendaharawan umat, wakil umat dan duta para Imam. “ (Najhul Balaghah, surat 51)

Dosa terbesar adalah “Ketakutan”.
Rekreasi terbaik adalah “Bekerja”.
Musibah terbesar adalah “Keputusasaan”.
Keberanian terbesar adalah “Kesabaran”.
Guru terbaik adalah “Pengalaman”.
Misteri terbesar adalah “Kematian”.
Kehormatan terbesar adalah “Kesetiaan”.
Karunia terbesar adalah “Anak yang sholeh”.
Sumbangan terbesar adalah “Partisipasi”.
Modal terbesar adalah “Kemandirian”.

Ali bin Abi Thalib yang mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah, juga ikut diajari bagaimana memuliakan seorang wanita. Ada beberapa kata kata Ali bin Abi Thalib tentang wanita yang cukup sering kita dengar.

“Wanita itu diibaratkan seperti bunga”

Dalam salah satu kata bijak yang ia berikan, ia mengatakan bahwa wanita itu seperti bunga. Wanita harus diperlakukan dengan lembut, baik hati, dan dengan kasih sayang, seperti halnya ketika merawat sebuah tanaman yang juga makhluk hidup seperti kita.

“Ketika seorang wanita menangis karena disakiti pria, maka malaikat akan mengutuknya”

Ali mengungkapkan, ketika seorang pria menyakiti wanita, malaikat akan mengutuk perbuatannya. Bahkan, malaikat akan mengutuk sampai di setiap langkah kaki yang diambil oleh pria tersebut.

“Tetap menghormati wanita”

Menurut Ali bin Abi Thalib, wanita harus tetap dihormati. Ia mengatakan, wanita adalah ibunya umat manusia. Seperti halnya seorang ibu bagi setiap individu yang harus dihormati, begitu juga wanita di seluruh dunia. Bagaimanapun, wanita adalah tetap calon ibu bagi generasi penerus umat manusia.

“Karena wanita diibaratkan vas bunga, yang membuatnya cukup rapuh dan mudah hancur, maka ciumlah wanita itu dengan lemah lembut serta jangan berlaku kasar padanya”

Bagi Ali, wanita juga merupakan vas bunga dari kecantikan dan aroma. Ia berkata,

Selain tentang wanita, Ali bin Abi Thalib juga memiliki kata-kata bijak bagi orang yang sedang rindu. Misalnya,

“Ketika sudah lama tidak berjumpa dengan orang yang berada di masa lalu, tetapi kita sedang dilanda rindu, jangan sungkan untuk menghubunginya”

Selain untuk mengurangi rasa rindu, juga bisa menjadi ajang untuk saling memaafkan bahkan menyambung tali silaturahmi kembali.

Selain persoalan rindu, persoalan cinta menjadi hal yang pelik bagi beberapa orang. Berbagai persepsi tentang cinta, menjadikan pengertian cinta sangat berwarna. Banyak sebutan seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta mati, cinta yang menyedihkan, dan masih terdapat beberapa kata lain yang bisa menggambarkan seperti apa cinta itu sendiri.

Salah satu kata bijak Ali bin Abi Thalib juga menyangkut tentang cinta. Terdapat satu kata-katanya yang berbunyi

“Love never asking to look forward to. He took the opportunity or allowed.”

Maksud dari quotes tersebut kira-kira adalah cinta tidak pernah meminta untuk menanti, karena cinta hanya mengambil kesempatan atau tentang mempersilahkan.

Selain kata tersebut, masih ada nasihat lain tentang cinta dari Ali bin Abi Thalib.

Ia mengungkapkan, “Lebih baik mencintai sekadarnya saja. Lebih baik, cintai kekasihmu saat ini sekadarnya saja”

Alasannya, kekasih dapat menjadi seorang musuh nantinya. Begitupun sebaliknya, Ali juga mengatakan bahwa “Bencilah musuh sekadarnya saja, karena bisa saja dia nantinya akan jadi kekasih kita di masa depan”

Ali juga sempat menyinggung tentang cinta pada pandangan pertama. Ia pernah mengungkapkan bahwa “Terkadang terjadinya perang memang hanya karena satu kalimat. Namun, di sisi lain, ada kalanya juga cinta ikut tertanam ketika adanya pandangan sekilas”

Dari kata-kata tersebut, Ali menegaskan bahwa cinta mungkin memang mudah datang dalam bentuk apapun, bahkan lewat sebuah pandangan saja.

Ali bin Abi Thalib berpesan tentang mencintai hal duniawi. Baginya, mencintai dunia justru akan merusak akal, membisukan hati dari mendengarkan hikmah, dan menyebabkan siksaan yang pedih.

Ketika seseorang terlalu mencintai hal duniawi, maka ia akan cenderung lupa untuk mempersiapkan kehidupan berikutnya, sehingga ia akan termasuk pada golongan orang yang merugi.

Menurut Ali, “Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran. Sedangkan di sisi lain, kecemburuan seorang pria justru merupakan sebuah bentuk keimanan”

Maka dari itu, seorang wanita dianggap tidak perlu menampakkan kecemburuannya karena selain itu merupakan bentuk kekufuran, itu juga akan merugikan bagi wanita tersebut.

Ali bin Abi Thalib juga pernah menyinggung mengenai kematian. Namun, kematian yang ia maksud lebih kepada bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Seperti ungkapan beliau yang intinya bahwa dunia adalah surganya orang kafir, sehingga kematian merupakan bentuk kesengsaraannya. Selain itu, bagi orang kafir, dunia merupakan cita-citanya, tetapi neraka menjadi tujuan ketika telah melewati kematian.

Selain itu, Ali juga memberikan nasihat untuk bergaul dengan teman yang tepat. Maksudnya adalah, “Bergaullah dengan manusia (maksudnya teman) yang ketika kita mati mereka akan menangisi kepergian kita. Begitupun ketika masih hidup, mereka akan merindukan kita”

Ini menjadi sebuah kata-kata yang menyentuh, mengingat ikatan pertemanan juga menjadi hal yang krusial bagi beberapa orang.

Masih berkaitan dengan kematian, Ali juga memberikan peringatan bagi kita semua.

“Kita perlu terus menerus mengingat tiga hal, yaitu kematian, amal perbuatan, dan kehidupan setelah mati”

Peringatan ini sebenarnya memberikan kita pengingat, bahwa hidup tidak hanya soal memenuhi kebutuhan ketika kita masih hidup, tetapi juga mempersiapkan kehidupan selanjutnya setelah kita mati.

“Ali juga mengingatkan pada kita untuk tidak bersandar pada harapan kosong, lamunan, atau khayalan”
Ia menyebut, harapan kosong itu hanya bekal bagi orang yang sudah mengalami kematian. Namun, yang dimaksud Ali di sini bukanlah kematian secara fisik (meninggal dunia). Kematian yang dimaksud adalah kematian akal.

Alam semesta adalah salah satu bentuk penciptaan dari Tuhan yang menjadi rahmat bagi kita semua. Banyak hal yang tersimpan di alam semesta, banyak pula manfaat yang bisa diambil dari terciptanya alam semesta.

Ali bin Abi Thalib juga pernah mengungkapkan tentang bagaimana penciptaan alam semesta ini. Ia menceritakan bagaimana sebenarnya penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan.

Pertama beliau mengungkapkan bahwa

“Penciptaan dilakukan tanpa mengalami suatu pemikiran, tanpa suatu eksperimen, serta tanpa mengalami kerisauan. Setelah itu, ketika Yang Maha Kuasa menciptakan berbagai lowongan untuk atmosfer, Dia mengembangkan ruang angkasa”

“Ketika ruang angkasa sudah terbentuk, kemudian diciptakan lapisan angin dan dialirkan pula air yang berombak dan membadai. Dengan segala perintah-Nya, angin kencang yang terbentuk jugalah yang memberi kesempatan air berputar kembali seperti dalam siklus hidrologi”

Selain menceritakan tentang bagaimana sebuah penciptaan terjadi, ada sebuah ungkapan lain yang diberikan Ali bin Abi Thalib. Isinya:

“Surely, your share of this earth with its great length and width is merely the size of your body, while your cheek is on the dust.”

Inti dari ungkapan ini kira-kira adalah ia mengingatkan kita sebagai manusia agar tidak sombong karena alam ini merupakan milik bersama.

Pemuda menjadi salah satu titik konsen yang saat ini tengah diperhitungkan. Bagi beberapa orang, mereka berpendapat bahwa menjadi pemuda adalah saatnya untuk memberikan dedikasi terbaik selama masih ada kesempatan. Di sisi lain, menjadi pemuda juga membawa konsekuensi bahwa ia juga harus turut berkontribusi bagi sekitarnya.

Untuk itu, Ali bin Abi Thalib memberikan beberapa nasihat yang berkaitan dengan kepemudaan. Simak beberapa diantaranya berikut ini.

Ali menganjurkan pemuda untuk berkumpul bersama orang bijak. Baginya, orang yang bijak akan lebih mudah menerima sesuatu karena mereka lebih menggunakan akal sehingga terkesan lebih kritis. Selain itu, bergaul dengan orang bijak akan mengajarkan banyak pengalaman baru dan kemungkinan sudut pandang baru dalam menanggapi suatu permasalahan.

Jangan takut untuk berbicara. Ali mengungkapkan, berbicara itu perlu. Berbicara ini akan membuat seseorang menjadi lebih terkenal. Ia beralasan, orang akan diketahui seperti apa cara pandangnya akan sesuatu ketika ia berani mengungkapkannya. Tanpa adanya sebuah pembicaraan, tidak ada sebuah diskusi yang berarti tentang sesuatu hal yang menjurus pada kebaikan.

Ali mengingatkan bagi pemuda tentang kejujuran. Ia mengungkapkan, ketika seseorang sudah kehilangan keutamaan kejujuran pada pembicaraannya maka dia kehilangan akhlaknya yang mulia. Ia menjadi kehilangan integritasnya, kehilangan kebaikan utamanya, bahkan ia menjadi tidak bisa dipercaya dan mungkin akan diasingkan oleh pemuda yang lain.

Bagi Ali, memilih teman menjadi hal yang perlu. Ia pernah berpesan bahwa tidak perlu berbangga memiliki banyak teman ketika mereka bukan berasal dari orang yang baik-baik. Sebabnya, kedudukan teman itu bagaikan api. Ketika sedikit maka menjadi kenikmatan (sebuah kehangatan) tetapi jika terlalu banyak justru akan berujung pada kebinasaan.

Selain itu, Ali juga mengingatkan kepada kita pentingnya menjaga kesabaran. Ia mengatakan, sebaiknya amarah itu ditelan saja. Ia mengibaratkan bahwa amarah justru merupakan minuman yang lebih manis dan lebih lezat. Mungkin, maksud Ali, ketika amarah justru dilepaskan, belum tentu ia akan memberikan yang baik-baik kepada si pemilik amarah.

Untuk khalifah seperti Ali, kejujuran juga menjadi hal yang penting untuk dimiliki pemuda. Ia mengungkapkan, kejujuran justru akan menyelamatkan seseorang meskipun ia takut akan hal itu. Lebih baik menjadi jujur dan terbuka, daripada menyembunyikan hal-hal yang bathil karena akan merugikan banyak pihak, termasuk dari diri pemuda itu sendiri.

Kata-kata Ali bin Abi Thalib tentang pendidikan biasanya digunakan untuk menjadi kata motivasi bagi orang yang sedang menuntut ilmu. Simak beberapa kata-katanya berikut ini.

Ali pernah menyebutkan, ilmu yang tanpa akan diibaratkan seperti memiliki sepatu tanpa kaki.begitu juga sebaliknya, ketika berakal tapi tidak berilmu seperti ibarat memiliki kaki tanpa sepatu. Seperti yang kita ketahui, ilmu dan akal memang menjadi hal yang sulit untuk dipisahkan. Mereka saling melengkapi, dan menjadi penunjang satu sama lain.

Ali berpesan untuk mengikatkan ilmu dengan menulis. Baginya, dengan menulis, ilmu akan lebih terserap dan lebih sulit hilang ketika dituliskan. Dengan begitu, kita jadi paham mengapa terkadang ketika kita mempelajari sesuatu, akan lebih mudah ketika ilmu yang telah kita pelajari ditulis. Selain itu, recall pengetahuan dari otak kita juga akan lebih cepat sehingga lebih mudah mengingatnya.

Bagi Ali bin Abi Thalib, pendidikan adalah hal yang tidak akan cepat membuat seseorang kenyang. Menurutnya, dua jenis manusia yang tidak akan merasa kenyang adalah para pencari ilmu dan pencari harta. Namun, tentu akan lebih bermanfaat ketika pencari harta juga sebagai pencari ilmu yang taat, untuk menghindari penyalahgunaan harta untuk hal-hal yang justru tidak baik.

Jika tidak memiliki argumen yang jelas, lebih baik kurangi berbicara. Ali berpesan seperti itu karena kebanyakan dari kita, lebih mudah berbicara ketika tidak memiliki argumen, atau bahasan yang dibicarakan cenderung ringan. Namun, ketika ranah pembicaraan sudah menuju ke arah yang butuh argument dan kita belum siap, lebih baik mengurangi berbicara saja.

Ali pernah mengungkapkan bahwa “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.” Di sini Ali mencoba mengingatkan kembali pada kita bahwa berharap pada entitas yang tidak tepat justru akan membawa kita terhadap rasa penyesalan, misalnya terlalu berharap pada manusia.

Jangan menjelaskan tentang dirimu pada orang lain. Menurut Ali, menceritakan diri sendiri terlalu banyak justru tidak berguna bagi kita maupun orang lain. Bagi orang yang menyukai kita, mereka tidak butuh itu. Hal itu juga berlaku bagi orang yang membenci kita, karena orang tersebut pastilah tidak akan percaya dengan semua itu.

Kemenangan terbaik, bagi Ali, adalah ketika kita memaafkan. Memaafkan bukan berarti kita kalah, tetapi menjadikan kita pribadi yang lebih dewasa dalam menghadapi kesalahan yang dilakukan terhadap kita. Dalam proses memaafkan itu juga kita sedang bertarung dengan diri sendiri, sehingga ketika sanggup memaafkan, itu juga berarti kita sudah menang melawan ego dari dalam diri sendiri.

Ali berpesan, hiduplah dengan sederhana. Meskipun kekayaan yang dimiliki sangatlah banyak, bukan berarti kita dapat hidup dengan terus-menerus berfoya-foya. Selain itu, ketika kita rendah hati dan sederhana, justru banyak orang akan lebih menaruh respek terhadap kita sehingga kita malah mendapatkan lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya.

Jadilah seseorang yang tidak hanya mementingkan kepentingan perut saja. Maksudnya, jangan hanya melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, usahakan juga untuk melakukan hal lain ketika masuk ke masalah rezeki.

Bersyukur merupakan cara kita untuk mengapresiasi apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ali juga pernah memberikan sebuah ungkapan bagi kita mengenai bersyukur. Ia mengungkapkan bahwa:

“Ketika telah berhasil mengalahkan musuh, kita jadikan sifat pemaaf sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan yang telah kita dapatkan”

Kata-kata Ali Bin Abi Thalib yang telah dijelaskan diatas tentunya bisa menjadi motivasi dalam hidup anda semua. Meskipun hanya kata-kata, namun tentunya bisa membawa perubahan diri kita hingga menjadi lebih baik.

Penyebab Hati Menjadi Keras

Yuk, ditahan kantuknya dengan dzikir pagi dan tilawah Qur’an setelah Subuhan.

Bacaan Islami Lainnnya:

– Komik Pahlawan Islam Anas bin Nadhar
– Komik Mantan Napi Berulah Lagi
– Bantuan Dari Allah Saat Kesulitan
– 3 Hal Yang Dilakukan Saat Bangun Untuk Sahur
– Kenapa Dia Begitu Cinta Al-Qur’an

– Hindari Berkata Kotor
– Perang Melawan Hawa Nafsu
– Jangan Mencari Keburukan Orang
– Komik Islami Tentang Cinta
– Jomblo Halu Kepengen Punya Istri

– Komik Islami Pakai Yang Kanan
– Komik Islami Simple
– Jangan Benci Muslimah Bercadar
– Waspada 3 Pintu Menuju Neraka
– Kalau Sholat Jangan Lari Larian

– Perlunya Kerjasama Dalam Rumah Tangga
– Baju Koko Vs Jersey – Komik Islami
– Dunia Hanya Sementara
– Komik Islami Bahasa Inggris
– Komik Islami Tarawih Surat Pendek

– Kisah Pendek Khutbah Jum’at
– Menunggu Punahnya Corona
– Komik Pendek Islami
– Jangan Pernah Menunda Ibadah
– Komik Islami Hitam Putih

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Komik Perang Badar

Di antara sekian banyak moment ikonik di Bulan Ramadhan, salah satunya yaitu “Yaumul Furqan” atau lebih dikenal Peristiwa perang Badar.
Eh tapi tau gak? di dalam Alquran, ada bahasan tersendiri mengenai peristiwa ini yg penyampaiannya unik, dimana itu? coba deh perhatiin Alqurannya, dicari surat mana yg mengangkat khusus tentang Perang Badar. Kalo udah ketemu, coba deh perhatiin bagaimana cara surat itu menyampaikan dan tanya dg diri sendiri kenapa kayak gitu? nah! disitu kalo diperhatiin bener2, kamu akan menemukan hikmah yg jarang banget bisa ditemuin. hehew penasarankan? Yuk baca kembali Qura’an & Sirohnya. 🙂

Mendatangi Azan Untuk Sholat

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, yang diriwayatkan dalam shahih muslim berbunyi: “Seorang lelaki buta menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak memiliki seorang penuntun yang bisa menuntunku berjalan ke mesjid.’ Kemudian ia memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan keringanan sehingga dia boleh shalat di rumahnya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkannya. Ketika orang tersebut berpaling pergi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan berkata, ‘Apakah kamu mendengar azan shalat?’ Ia menjawab, ‘Iya.’ Beliau pun menyatakan, ‘Maka datangilah!’” (H.R. Muslim)

Kekuasaan Dan Emirat Di Kalangan Bangsa Arab

Ketika kita hendak membicarakan kondisi ‘Arab sebelum Islam, kita harus membuat miniatur sejarah pemerintahan, kepemimpinan, agama dan kepercayaan di kalangan bangsa ‘Arab. Tujuannya agar kita lebih mudah memahami kondisi yang terjadi saat kemunculan Islam.

Para penguasa Jazirah ‘Arab pada saat terbitnya matahari Islam bisa dibagi menjadi dua bagian:

1. Para raja yang mempunyai mahkota, tetapi pada hakikatnya mereka tidak bisa merdeka dan berdiri sendiri.

2. Para pemimpin dan pemuka kabilah atau suku, yang memiliki kekuasaan dan hak-hak istimewa seperti kekuasaan para raja. Kebanyakan di antara mereka benar-benar memiliki kebebasan tersendiri. Bahkan, kemungkinan sebagian di antara mereka mempunyai subordinasi layaknya seorang raja yang dinobatkan.

Raja-raja yang dinobatkan adalah raja-raja Yaman, Ghassān dan Hirah. Adapun penguasa-penguasa lain di Jazirah ‘Arab tidak memiliki mahkota.

Raja-raja di Yaman

Bangsa tertua yang dikenal di Yaman dari kalangan ‘Arab ‘Aribah adalah kaum Saba’. Mereka bisa diketahui melalui penemuan fosil Aur, yang hidup dua puluh lima abad Sebelum Masih (SM). Puncak peradaban dan pengaruh kekuasaan mereka dimulai pada sebelas tahun SM. Perkembangan mereka bisa dibagi menurut tahapan-tahapan berikut:

1. Abad-abad sebelum tahun 650 SM. Raja-raja mereka pada waktu itu diberi gelar “Makrib Saba’.” Ibukota mereka di Sharawah. Puing-puing peninggalan mereka dapat ditemui dengan menempuh perjalanan sehari ke arah barat dari negeri Ma‘rib, yang dikenal dengan istilah Kharibah.

Pada zaman mereka mulai diadakan pembangunan bendungan, yang dikenal dengan nama Bendungan Ma‘rib. Bendungan ini sangat terkenal dalam sejarah Yaman. Ada yang mengatakan, wilayah kekuasaan kaum Saba’ meliputi daerah-daerah jajahan di negeri ‘Arab dan di luar ‘Arab.

2. Sejak tahun 650 SM sampai tahun 110 SM. Pada masa-masa ini mereka menanggalkan gelar “Makrib”, dan hanya dikenal dengan raja-raja Saba’. Mereka menjadikan Ma‘rib sebagai ibukota, sebagai pengganti Sharawah. Puing-puing kota ini dapat ditemui sejauh 60 mil dari Sana‘a ke arah timur. (11)

3. Sejak tahun 115 SM sampai tahun 300 SM. Pada masa-masa ini kabilah Ḥmyar dapat mengalahkan Kerajaan Saba’ dan menjadikan Raidan sebagai ibukotanya, sebagai ganti dari Ma‘rib. Kemudian Raidan diganti dengan nama Zhaffar. Puing-puing peninggalannya dapat ditemukan di sebuah bukit yang di sekitarnya di kelilingi pagar di dekat Yarim. Pada masa itu mereka mulai jatuh dan runtuh. Perdagangan mereka bangkrut, sebagai akibat dari perluasan kekuasaan kabilah Nabat ke utara Hijaz. Ini merupakan penyebab pertama kehancuran mereka. Kedua, karena bangsa Romawi menguasai jalur perdagangan dari laut, setelah mereka dapat menguasai Mesir, Suriah dan bagian utara Hijaz. Ketiga, adanya persaingan di antara kabilah-kabilah yang ada di sana. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan keluarga Qaḥthān berpisah-pisah dan mereka termotivasi untuk berpindah ke negeri Syasa’ah.

4. Sejak tahun 300 M sampai masuknya Islam ke Yaman. Pada masa-masa ini kekacauan, keributan, revolusi, dan peperangan antarsuku sering terjadi di antara mereka, yang justru membuat mereka menjadi mangsa bagi pihak luar, hingga kemerdekaan mereka pun terenggut. Pada masa itu bangsa Romawi masuk ke Aden. Atas bantuan bangsa Romawi ini pula orang-orang Habasyah dapat merebut Yaman pada awal tahun 340 M, yang sedang disibukkan oleh persaingan antara kabilah Hamdān dan Ḥimyar. Penjajahan mereka berlangsung hingga tahun 378 M. Selanjutnya Yaman bisa mendapatkan kemerdekaannya lagi. Tetapi, kemudian bendungan Ma‘rib jebol, sehingga menimbulkan banjir besar seperti yang disebutkan di dalam al-Qur’ān dengan Sail-ul-Aram pada tahun 450 atau 451 M. Setelah itu disusul satu kejadian besar yang mengakibatkan runtuhnya peradaban mereka dan mereka pun terpecah-belah.

Pada tahun 523 M, Dzū Nuwās, seorang Yahudi, meminpin pasukannya menyerang orang-orang Kristen (pengikut ajaran Nabi ‘Īsā – edt) dari penduduk Najrān, dan berusaha memaksa mereka meinggalkan agamanya. Karena mereka menolak, maka Dzū Nuwās membuat parit-parit besar yang di dalamnya dinyalakan api, lalu mereka dilemparkan ke dalam api hidup-hidup, sebagaimana yang diisyaratkan al-Qur’ān pada firman-Nya dalam surah al-Burūj:

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُوْدِ.

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. (al-Burūj: 4).

Kejadian ini menimbulkan api dendam di hati orang-orang Kristen dan mendorong mereka untuk memperluas daerah kekuasaan dan penaklukan di bawah pimpinan Kaisar Romawi untuk menguasai negeri ‘Arab. Mereka memobilisasi orang-orang Habasyah dan menyiapkan armada lautnya. Sebanyak 70.000 pasukan dari penduduk Habasyah diterjunkan dan mampu menguasai Yaman untuk kali kedua. Serbuan ini dipimpin oleh Aryath pada tahun 525 M. Aryath menjadi penguasa negeri jajahannya dengan mandat Raja Habasyah hingga akhirnya dibunuh oleh Abrahah, anak buahnya sendiri. Abrahah menggantikan kedudukan Aryath di Yaman setelah meminta restu rajanya di Habasyah. Abrahah inilah yang mengerahkan pasukannya untuk menghancurkan Ka‘bah, yang dikenal dengan Pasukan Gajah.

Setelah “Peristiwa Gajah” penduduk Yaman meminta bantuan kepada orang-orang Persia. Mereka pun bersekutu melawan orang-orang Habasyah hingga akhirnya mampu mengusirnya dari Yaman dan mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 575 M, di bawah kepemimpinan Ma‘di Ya‘rib bin Saif Dzī Yazin al-Ḥimyarī. Kemudian mereka menobatkannya menjadi raja. Ma‘di Ya‘rib masih mempertahankan sebagian penduduk Habasyah sebagai pengawal yang selalu menyertai aktivitasnya, meskipun akhirnya justru menjadi bumerang baginya. Suatu hari mereka membunuhnya. Dengan kematiannya, pupuslah sudah Dinasti Dzī Yazin.

Setelah itu Kisra mengangkat penguasa dari bangsa Persia di Sana‘a dan menjadikan Yaman sebagai salah satu wilayah kekuasaan Persia. Beberapa pemimpin dari bangsa Persia silih berganti menguasai Yaman dan era kepemimpinan mereka yang terakhir di Yaman adalah Badzan, yang kemudian memeluk Islam pada tahun 638 M. Dengan keislamannya ini berakhir pula kekuasaan bangsa Persia atas negeri Yaman. (22)

Catatan:

 1). Lihat al-Yamanu ‘Abrat-ut-Tārīkh, hal. 77, 83, 124, 130; dan Tārīkh-ul-‘Arabi Qabl-al-Islām, hal. 101-102. ↩
 2). Lihat keterangan lebih lanjut mengenai hal ini di buku Tafhīm-ul-Qur’ān, IV/195-198 dan Tārīkhu Ardh-il-Qur’ān, I/133 sampai halaman terakhir. Dalam penetapan tahun-tahunnya, ada perbedaan yang cukup jauh pada beberapa referensi sejarah. Pada beberapa ayat al-Qur’ān, kisah-kisah seperti ini dinyatakan: “Ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.” ↩

Raja-raja Hirah

Bangsa Persia bisa menguasai ‘Irāq dan wilayah-wilayah di sekitarnya setelah Cyrus Yang Agung (557-529 SM) dapat mempersatukan bangsanya. Tidak ada seorang pun yang berani menyerangnya hingga muncul Alexander dari Makedonia pada tahun 326 SM. Ia mampu mengalahkan Darius I, raja mereka, dan menghancurkan persatuan mereka. Akibatnya, negeri mereka terpecah-pecah dan dipimpin oleh raja-raja yang dikenal dengan raja-raja Thawā’if. Mereka berkuasa di wilayah masing-masing secara terpisah hingga tahun 230 SM. Pada era kekuasaan raja-raja Thawā’if ini, orang-orang Qaḥthān berpindah dan menguasai daerah subur di ‘Irāq. Mereka selanjutnya bergabung dengan keturunan ‘Adnān yang juga berhijrah dan bersama-sama menguasai sebagian dari wilayah Eufrat.

Kekuatan bangsa Persia kembali bangkit pada era Ardasyir, pendiri pemerintahan Ssaniyah sejak tahun 226 M. Dia berhasil mempersatukan bangsa Persia dan menguasai orang-orang ‘Arab yang menetap di daerah-daerah pinggiran kekuasaannya. Hal ini mendorong orang-orang Qudhā‘ah untuk berpindah ke Syam. Sementara itu, penduduk Hirah dan Anbar tunduk kepada Ardasyir.

Pada masa Ardasyir tersebut, Judzaimah al-Wadhdhah menguasai Hirah, sebagian penduduk ‘Irāq, dan daerah kekuasaan Rabī‘ah dan Mudhar. Ardasyir merasa mustahil dapat menguasai bangsa ‘Arab secara langsung dan mencegah mereka untuk tidak menyerang kekuasaannya kecuali dengan cara menjadikan salah seorang dari mereka (bangsa ‘Arab) yang memiliki kefanatikan dan loyalitas terhadapnya dalam membelanya sebagai kaki tangannya. Di samping itu, dia juga sewaktu-waktu bisa meminta bantuan mereka untuk mengalahkan raja-raja Romawi yang amat dia takuti. Dengan demikian dia dapat menandingi tentara bentukan yang terdiri dari bangsa ‘Arab juga, seperti apa yang dibentuk oleh raja- raja Romawi, sehingga berbenturanlah antara bangsa ‘Arab Syam dan ‘Irāq. Dia juga masih mempersiapkan satu batalion dari pasukan Persia untuk disuplai dalam menghadapi para penguasa ‘Arab pedalaman yang membangkang terhadap kekuasaannya. Judzaimah meninggal dunia pada tahun 268 M.

Setelah kematian Judzaimah, Hirah dikuasai oleh ‘Amru bin ‘Adī bin Nashr al-Lakhmī. Ia merupakan raja pertama dari Dinasti Lakhmi sekaligus raja pertama yang mengambil Hirah sebagai tempat tinggalnya. Peristiwa ini terjadi pada masa Kisra Sabur bin Ardasyir. Sepeninggal ‘Amru bin ‘Adī, beberapa raja dari kalangan Lakhmi tetap berkuasa setelah di Hirah hingga Persia dikuasai oleh Qubadz bin Fairuz. Pada masa kekuasaannya muncullah seorang tokoh bernama Mazdak. Ia mengampanyekan gaya hidup permisivisme. Banyak rakyatnya yang meniru gaya hidup ini, begitu pula Qubadz dari Persi. Qubadz mengirim utusan kepada raja Hirah, yaitu al-Mundzir bin Mā’-us-Samā’, mengajaknya untuk memilih jalan hidup ini dan menjadikannya sebagai agama. Namun, al-Mundzir menolak ajakan itu mentah-mentah dan arogan. Karena itu, ia pun dicopot dari jabatannya. Sebagai pengganti al-Mundzir, dia mengangkat al-Harits bin ‘Amru bin Hijr al-Kindi, setelah al-Harits memenuhi ajakan Qubadz untuk menerapkan gaya hidup Mazdakisme.

Pengganti Qubadz adalah Kisra Anū Syirwān, yang sangat benci gaya hidup ini. Dia membunuh Mazdak dan entah berapa banyak para pengikutnya. Dia mengangkat kembali al-Mundzir sebagai penguasa di Hirah. Sebenarnya, al-Ḥārits bin ‘Amru memintanya, tetapi dia justru dibuang ke Dāru Kalb dan tetap di sana hingga meninggal.

Kekuasaan Anū Syirwān terus berlanjut sepeninggal al-Mundzir bin Mā’-us-Samā’, hingga naiknya an-Nu‘mān bin al-Mundzir. Dialah orang yang memancing kemarahan Kisra, yang bermula dari adanya suatu fitnah hasil rekayasa Zaid bin ‘Adī al-‘Ibādī. Kisra akhirnya mengirim utusan kepada an-Nu‘mān untuk memburunya, maka secara sembunyi-sembunyi, an-Nu‘mān menemui Hāni’ bin Mas‘ūd, pemimpin suku ‘Alī Syaibān dan menitipkan keluarga dan harta bendanya.

Setelah itu, dia menghadap Kisra yang langsung menjebloskannya ke dalam penjara hingga meninggal dunia. Sebagai penggantinya, Kisra mengangkat Iyās bin Qabīshah ath-Thā’ī dan memerintahkannya untuk mengirimkan utusan kepada Hāni’ bin Mas‘ūd agar dia memintanya untuk menyerahkan titipan yang ada padanya. Namun, Hāni’ menolaknya dengan penuh keberanian bahkan dia memaklumatkan perang melawan raja.

Tak berapa lama tibalah para komandan batalion berikut prajuritnya yang diutus oleh Kisra dalam rombongan yang membawa Iyas tersebut, sehinnga kemudian terjadilah antara kedua pasukan itu, suatu pertempuran yang amat dahsyat di dekat tempat yang bernama Dzū Qar dan pertempuran tersebut akhirnya dimenangkan oleh Bani Syaibān, yang masih satu suku dengan Hāni’. Hal ini bagi Persia merupakan kekalahan yang sangat memalukan. Kemenangan ini merupakan yang pertama kalinya bagi bangsa ‘Arab terhadap kekuatan asing. (31) Ada yang mengatakan bahwa hal itu terjadi tak berapa lama menjelang kelahiran Nabi s.a.w. sebab beliau lahir delapan bulan setelah bertahtanya Iyās bin Qabīshah atas Hirah.

Sepeninggal Iyās, Kisra mengangkat seorang penguasa di Hirah dari bangsa Persia yang bernama Azazbah yang memerintah selama 17 tahun (614-631 M). Pada tahun 632 M, tampuk kekuasaan di sana kembali dipegang oleh keluarga Lakhm. Di antaranya adalah al-Mundzir bin an-Nu‘mān yang dijuluki dengan “al-Ma‘rūr”. Umur kekuasaannya tidak lebih dari 8 bulan, sebab kemudian berhasil dikuasai oleh pasukan Muslimin di bawah komando Khālid bin al-Walīd. (42).

Catatan:

 3). Kejadian ini diriwayatkan secara marfu‘ di dalam Musnad Khalīfah bin Khayyāth, hal. 24, dan Ibnu Sa‘ad, VII/77. ↩
 4). Muḥādharāti Tārīkh-il-Umam-il-Islāmiyyah, al-Khudharī, I/29-32. Penjelasan lebih rinci ada pada kitab-kitab karya ath-Thabarī, al-Mas‘ūdī, Ibnu Qutaibah, Ibnu Khaldun al-Balazrī, Ibnu Atsīr, dan lainnya. ↩

Raja-raja di Syam

Pada masa ‘Arab banyak diwarnai perpindahan berbagai kabilah, maka suku-suku Qudhā‘ah juga ikut berpindah ke berbagai daerah di pinggiran Syam dan mereka menetap di sana. Mereka adalah Bani Sulaih bin Halwan. Di antara mereka adalah Bani Dhaj‘am bin Sulaih yang dikenal dengan sebutan Dhaja‘amah. Mereka dimanfaatkan bangsa Romawi sebagai tameng untuk menghadapi gangguan orang-orang ‘Arab dan sekaligus sebagai benteng pertahanan untuk menghadang bangsa Persia. Karenanya, bangsa Romawi mengangkat seorang raja dari suku ini dan kepemimpinannya berlangsung hingga beberapa tahun. Raja mereka yang terkenal adalah Ziyād bin Habulah. Kekuasaan mereka bertahan sejak awal abad kedua Masehi hingga akhir abad tersebut. Kekuasaan mereka berakhir setelah kedatangan suku Ghassān yang dapat mengalahkan Dhaja‘amah. Bangsa Romawi mengangkat mereka sebagai raja bagi semua bangsa ‘Arab di Syam. Ibukotanya adalah Daumat-ul-Jandal. Suku Ghassān terus berkuasa sebagai kaki tangan kaisar Romawi, hingga meletus Perang Yarmuk pada tahun 13 H. Raja mereka yang terakhir, Jabālah bin al-Aiham, memeluk agama Islam pada masa Amīr-ul-Mu’minīn ‘Umar bin al-Khaththāb r.a. (51).

Catatan:

 5). Ibid, I/29-32; dan Ardh-ul-Qur’ān, II/80-82. ↩

Bacaan Islami Lainnnya:

– Komik Pahlawan Islam Anas bin Nadhar
– Komik Mantan Napi Berulah Lagi
– Bantuan Dari Allah Saat Kesulitan
– 3 Hal Yang Dilakukan Saat Bangun Untuk Sahur
– Kenapa Dia Begitu Cinta Al-Qur’an

– Hindari Berkata Kotor
– Perang Melawan Hawa Nafsu
– Jangan Mencari Keburukan Orang
– Komik Islami Tentang Cinta
– Jomblo Halu Kepengen Punya Istri

– Komik Islami Pakai Yang Kanan
– Komik Islami Simple
– Jangan Benci Muslimah Bercadar
– Waspada 3 Pintu Menuju Neraka
– Kalau Sholat Jangan Lari Larian

– Perlunya Kerjasama Dalam Rumah Tangga
– Baju Koko Vs Jersey – Komik Islami
– Dunia Hanya Sementara
– Komik Islami Bahasa Inggris
– Komik Islami Tarawih Surat Pendek

– Kisah Pendek Khutbah Jum’at
– Menunggu Punahnya Corona
– Komik Pendek Islami
– Jangan Pernah Menunda Ibadah
– Komik Islami Hitam Putih

– Parno Karena Batuk Corona
– Komik Islami Doa Pejuang Nafkah
– Komik Islami Muslimah Memanah Dan Tahajud
– Komik Islami Hidup Bahagia
– Komik Islami Nasehat Dan Renungan
– Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia Yang Sebenarnya

Selamat Membaca.. Bantu Kami Dengan Donasi.. Dengan Kontak Businessfwj@gmail.com

Letak Geografis Jazirah Arab

Sebelum kedatangan Rasulullah SAW sebagai pelita kehidupan, letak geografis Jazirah Arab tidaklah seperti sekarang ini. Jika kita ketahui kali ini Jazirah Arab semakin berkembang lain halnya dengan masa lalu. Tapi, ada satu hal yang menjadi kebanggaan di Jazirah Arab. Yakni kondisi geografisnya yang sangat memberikan keuntungan bagi bangsa Arab. Tapi, ada pula hal negative dari letak geografis yang begitu strategis ini.

Menurut bahasa kata Arab berarti padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kepada Jazirah Arab. Sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Secara geografis, Jazirah Arab dibatasi oleh Laut Merah dan Gurun Sinai di sebelah Barat, Teluk Arab dan sebagian besar negeri Iraq Selatan di sebelah timur, laut Arab yang bersambung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan, dan negeri Syam dan sebagian kecil dari Negara Iraq di sebelah utara. Meskipun ada kemungkinan sedikit perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara 1 x 1,3 juta mil persegi.

Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena kondisi alam dan letak georafisnya. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti inilah yang membuat Jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai bangsa Arab.

Oleh karena itu, kita bisa melihat penduduk Jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan sejak zaman dahulu. Padahal pada waktu itu, mereka hidup bertetangga dengan dua imperium besar saat itu (Romawi dan Persia), yang serangannya tak mungkin bisa dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.

Hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal sejak dahulu kala, yang mempertautkan daratan dan lautan. Sebelah barat laut merupakan pintu masuk ke Benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci utama masuk ke Benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non Arab, Timur Tengan dan Timur Dekat, terus membentang ke India dan Cina.

Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar pasti akan bersandar di pinggiran wilayahnya.

Karena letak geografis seperti itu pula, sebelah utara dan sebelah selatan Jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar menukar perniagaan, perdaban, agama dan seni.

Komik Islami Jalan Hijrah

Bismillah..
Bagaikan menempuh suatu perjalanan, mendaki sebuah gunung. Tak selamanya kamu menemukan jalan yg lurus, terkadang kamu harus menuruni lembah, memanjat tebing, dan menemui halang rintang lainnya, berbagai ujian menghampiri, tapi tak banyak yg menyadari bahwa ujian itu sebagai alat penempa diri yang baik, ada yang berhasil sampai di tempat tujuan, ada pula yg terjatuh atau bahkan berhenti dan menyerah di tengah perjalanan, tak jarang pula mereka mencoba nya untuk kesekian kalinya tanpa menyerah.

Perlahan kamu mulai menemukan sesuatu, perlahan kamu menyadari sesuatu, setiap kali kamu berjuang kamu menemukan berbagai petunjuk, dan kamu mengikutinya.

Perlahan kamu menemukan sahabat sahabat baru di perjalanan yang mau menemani, dan membantu kamu selama diperjalanan, sabar menunggumu dan mengulurkan tangannya di saat kamu kesulitan melewati halang rintang, berjuang bersama hingga mencapai puncak.

Bersama mereka kamu terus melangkah menghadapi semua tantangan, dan perlahan kamu mulai memahami, apa itu sabar…,

Lalu kamu terus melangkah dan menemui rintangan yg cukup berat, rasanya kamu putus asa dan ingin kembali, tapi saudara saudaramu di perjalanan ini berbeda, mereka menepuk pundakmu sembari berkata ” kamu sudah sampai sini, masa kamu mau balik lagi, ayo sama sama kita lewati rintangan ini” ^_^

Bersama.., kamu berjuang menghadapi rintangan yg berat itu, dan pada akhirnya kamu berhasil melewatinya, perlahan kamu mulai memahami, apa itu istiqomah.

Hingga pada akhirnya kamu sampai di puncak, kamu melihat begitu besar karunia yang telah di berikan Allah kepadamu, tapi kamu masih sering mengeluh, perlahan kamu menyadari akan syukur.

Kamu mengerti bahwa setiap rintangan yg kamu lalui, dan disaat itu kamu bersandar hanya kepala Allah, tanpa terasa masalah itu terselesaikan, dan perlahan kamu mengerti apa itu ikhlas.

Setelah semua yang kamu lihat dan kamu rasakan, kamu merasakan ada ketenangan dan kesejukan di dalamnya, kemudian kamu turun, turun disini untuk merendahkan hatimu se rendah rendahnya, dan bantulah saudaramu yang juga berjuang menggapainya. ^_^